Foto: Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai Golkar Dapil Bali yang juga Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Bali, Gde Sumarjaya Linggih atau yang akrab disapa Demer.
Karangasem, KabarBaliSatu
Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai Golkar Dapil Bali, Gde Sumarjaya Linggih atau yang akrab disapa Demer, menegaskan bahwa Kabupaten Karangasem memiliki potensi besar untuk berkembang. Namun, potensi tersebut dinilai belum tergarap maksimal akibat ketimpangan pembangunan yang masih terpusat di wilayah Bali Selatan.
Pernyataan itu disampaikan Demer saat menjadi narasumber dalam podcast Koplar belum lama ini. Ia menekankan pentingnya pemerataan pembangunan agar tidak hanya bertumpu pada kawasan seperti Denpasar, Badung, dan Gianyar.
“Karangasem ini sangat menarik. Banyak peluang yang bisa digali, asalkan kita serius mengembangkan potensi yang ada,” ujar Demer.
Soroti Ketimpangan Pendidikan
Demer menilai ketimpangan paling mencolok terjadi pada sektor pendidikan. Ia menyebut akses perguruan tinggi dan fasilitas pendidikan masih terkonsentrasi di Bali Selatan, sehingga menyulitkan masyarakat di Bali Timur dan Utara.
Menurutnya, pemerintah perlu berani mengambil langkah tegas, termasuk menerapkan moratorium pembangunan perguruan tinggi di wilayah yang sudah padat.
“Kalau pembangunan kampus dibatasi di Denpasar, Badung, dan Gianyar, otomatis pengembang pendidikan akan mencari lokasi baru seperti Karangasem. Ini akan mempermudah akses pendidikan bagi masyarakat setempat,” tegas wakil rakyat yang sudah lima periode berjuang di DPR RI itu..
Ia juga menyoroti beban biaya yang harus ditanggung masyarakat Karangasem jika ingin mengenyam pendidikan di selatan, mulai dari biaya kos hingga transportasi.
Stunting dan Kualitas SDM
Selain pendidikan, Demer turut menyoroti tingginya angka stunting di Karangasem yang dinilai berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia. Ia menyebut angka stunting mencapai sekitar 13 persen.
Untuk itu, Demer aktif melakukan sosialisasi kepada masyarakat dengan menghadirkan tenaga medis guna memberikan edukasi terkait gizi, pola asuh, hingga pentingnya ASI bagi bayi.
“Posyandu harus menjadi garda terdepan. Banyak masyarakat sebenarnya bukan kekurangan makanan, tapi kurang pemahaman tentang gizi,” jelasnya.
Ia menilai antusiasme masyarakat dalam mengikuti sosialisasi cukup tinggi, sehingga pemerintah daerah didorong lebih masif menggelar kegiatan serupa.
Dorong UMKM Go Digital
Di sektor ekonomi, Demer menekankan pentingnya transformasi digital bagi pelaku UMKM. Ia mengungkapkan bahwa mayoritas masyarakat sudah terbiasa berbelanja online, namun sangat sedikit yang memanfaatkan platform digital untuk berjualan.
Melalui program reses, Demer menggandeng Permodalan Nasional Madani (PNM) untuk memberikan akses permodalan tanpa jaminan, serta pelatihan digital marketing.
“Pasarnya bisa sampai global. Bahkan dari desa terpencil pun bisa menjual produk ke seluruh dunia,” katanya.
Ia mencontohkan produk lokal Karangasem seperti keripik dan rempeyek yang sudah masuk pasar Denpasar, dan berpotensi berkembang lebih luas jika dipasarkan secara online.
Urbanisasi dan Pekerja Migran
Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Bali itu juga menyinggung tingginya angka urbanisasi dan pekerja migran dari Karangasem. Ia menilai kondisi ini dipicu oleh minimnya lapangan kerja dan rendahnya pertumbuhan ekonomi di daerah.
“Kalau kesempatan kerja rendah, masyarakat pasti mencari peluang ke Denpasar atau bahkan ke luar negeri,” ujarnya.
Ia menegaskan, pemerataan pendidikan dan pembangunan menjadi kunci untuk menekan arus migrasi sekaligus meningkatkan kualitas tenaga kerja lokal.
Kritik Infrastruktur dan Usulan Tol
Di sektor infrastruktur, Politisi senior Golkar asal Desa Tajun, Kabupaten Buleleng menilai pembangunan di Karangasem masih tertinggal. Ia juga mengkritisi rencana pembangunan tol Jembrana–Denpasar yang dinilai kurang berdampak merata.
Sebagai alternatif, ia mengusulkan pembangunan jalur tol dari Gilimanuk menuju Seririt hingga Soka untuk membuka akses wilayah utara dan barat Bali.
“Kalau jalur ini dibuka, distribusi wisatawan dan logistik akan lebih merata, termasuk menghidupkan ekonomi daerah lain,” jelasnya.
Dorong Moratorium Pembangunan di Bali Selatan
Demer kembali menegaskan pentingnya moratorium pembangunan, baik di sektor pendidikan maupun pariwisata di Bali Selatan. Menurutnya, tanpa pembatasan, investor akan terus menumpuk di wilayah tersebut.
“Kalau tidak dimoratorium, pembangunan akan terus terpusat di selatan. Tapi kalau dibatasi, daerah lain otomatis akan berkembang,” katanya.
Komitmen untuk Keadilan Pembangunan
Di akhir pernyataannya, Demer menegaskan komitmennya untuk terus memperjuangkan pemerataan pembangunan di Bali, khususnya wilayah timur dan utara.
“Pemimpin itu harus peduli. Tugasnya mengatur agar daerah yang tertinggal bisa tumbuh. Itulah keadilan,” tegasnya.
Ia berharap gagasan yang disampaikannya dapat dikaji dan menjadi pertimbangan dalam perumusan kebijakan ke depan, demi mewujudkan kesejahteraan yang merata bagi seluruh masyarakat Bali. (kbs)

