Foto: Gubernur Bali Wayan Koster saat dipercaya sebagai komandan pleton satu dalam Retret Kepemimpinan Gelombang II, Minggu (22/6).
Jatinangor, KabarBaliSatu
Gubernur Bali Wayan Koster dan Wakil Gubernur I Nyoman Giri Prasta tak datang ke Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor hanya untuk berbaris dan hadir secara simbolik dalam Retret Kepemimpinan Gelombang II, Minggu (22/6). Mereka hadir membawa misi besar: memperkuat sinergi total dalam kepemimpinan Bali, menjahit kembali benang koordinasi antara pusat dan daerah, dan memastikan arah pembangunan Bali tetap solid di tengah derasnya dinamika politik nasional.
Dalam formasi barisan, Koster dipercaya sebagai komandan pleton satu — sebuah posisi simbolik namun sarat makna. Ini bukan penghargaan basa-basi, melainkan bentuk pengakuan atas kapasitas, disiplin, dan konsistensinya dalam memimpin Bali di tengah turbulensi politik nasional.
“Saya sangat bahagia bisa ikut dalam retret ini. Bahkan saya dipercaya menjadi komandan pleton satu,” ujar Koster lewat pesan WhatsApp, menyiratkan kebanggaan sekaligus tanggung jawab yang ia emban.
Retret yang berlangsung hingga 26 Juni ini diikuti oleh seluruh bupati dan wali kota se-Bali, menciptakan momentum strategis untuk menyatukan visi, menyegarkan kembali semangat birokrasi, serta membangun harmoni antara kepemimpinan daerah dan pusat. Bagi Koster-Giri, ini bukan ajang bersantai, melainkan panggung untuk memperkuat barisan politik Bali dalam menghadapi tantangan nasional ke depan.
Di tengah meningkatnya suhu politik nasional menjelang tahun politik, kehadiran Koster dan Giri dalam forum ini menjadi pernyataan sikap yang jelas: mereka tetap fokus, tidak terpecah oleh manuver-manuver politik sesaat. Disiplin struktural dijaga, komunikasi vertikal dan horizontal terus dipererat, dan—yang paling penting—jiwa kolektif tetap menjadi fondasi utama dalam membangun Bali.
Lebih dari sekadar retret, forum ini adalah ruang strategis untuk membangun chemistry antarpemimpin Bali. Bagi Koster dan Giri, kepemimpinan adalah kerja kolektif, bukan panggung pencitraan. Mereka ingin membuktikan bahwa pembangunan Bali tidak bisa berjalan dalam silo, tapi harus melibatkan semua elemen secara sinergis dan terarah.
Dari Jatinangor, keduanya membawa pulang lebih dari sekadar pengalaman: mereka bawa pulang pijakan baru, energi segar, dan komitmen bersama untuk membawa Bali melangkah lebih kuat, lebih padu, dan lebih strategis ke masa depan. (kbs)

