Foto: Suasana Dharma Wacana bertema “Tat Twam Asi: Membangun Kepemimpinan yang Menghargai Sesama” yang digelar DPW Partai NasDem Bali usai persembahyangan bersama di Pura Agung Jagatnatha, Denpasar, Kamis (5/11/2026) sore serangkaian memperingati HUT ke-15 Partai NasDem.
Denpasar, KabarBaliSatu
Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai NasDem Bali menggelar persembahyangan bersama di Pura Agung Jagatnatha, Denpasar, Kamis (5/11/2026) sore. Setelah melaksanakan persembahyangan untuk memohon keselamatan dan kedamaian Pulau Dewata, kegiatan dilanjutkan dengan Dharma Wacana yang mengangkat nilai-nilai kepemimpinan Hindu dan pentingnya membangun sikap saling menghargai.
Mengusung tema “Tat Twam Asi: Membangun Kepemimpinan yang Menghargai Sesama”, Dharma Wacana ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan dalam rangka memperingati HUT ke-15 Partai NasDem. Materi yang disampaikan berlandaskan filosofi Tat Twam Asi, Asta Brata, serta ajaran etika kepemimpinan dalam Kakawin Ramayana 1.3.
Dalam kesempatan tersebut, DPW Partai NasDem Bali menghadirkan Prof. Dr. I Nym Alit Putrawan, S.Ag., M.Fil.H., Guru Besar Bidang Sosiologi Hukum Hindu, sebagai narasumber. Ia merupakan akademisi, peneliti, sekaligus tokoh masyarakat yang memiliki pengalaman dalam berbagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan.
“Dharma Wacana ini mengangkat tema Tat Twam Asi dalam kehidupan, Tat Twan Asi dalam kepemimpinan. Ini sangat relevan dengan tantangan dan kondisi bangsa saat ini,” kata Ketua DPW Partai NasDem Bali, Ir. I Nengah Senantara didampingi Sekretaris DPW Partai NasDem Bali Nyoman Winatha dan jajaran pengurus dalam sambutannya.
Dharma Wacana ini menjadi bagian dari refleksi spiritual DPW Partai NasDem Bali dalam memperingati HUT ke-15 partai. Melalui kegiatan tersebut, para kader diajak memahami bahwa kepemimpinan tidak semata-mata berkaitan dengan jabatan dan kekuasaan, tetapi juga menyangkut karakter, etika, tanggung jawab, serta kemampuan menghargai martabat sesama manusia.
Rangkaian kegiatan yang diawali dengan persembahyangan bersama dan dilanjutkan Dharma Wacana ini diikuti jajaran pengurus, kader, serta generasi muda NasDem Bali. Selain memanjatkan doa bagi keselamatan Pulau Dewata, momentum tersebut diharapkan memperkuat nilai spiritualitas, persaudaraan, dan komitmen untuk menghadirkan kontribusi positif bagi masyarakat.
Melalui pemaparannya, Prof Alit Putrawan mengulas bagaimana nilai-nilai ajaran Hindu dapat menjadi landasan dalam membangun kepemimpinan yang berkarakter, bijaksana, adil, serta menghargai keberadaan orang lain.
Konsep Tat Twam Asi, yang secara filosofis mengandung makna bahwa aku adalah engkau dan engkau adalah aku, menjadi fondasi spiritual dalam membangun kesadaran untuk menghormati sesama. Prinsip ini mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki keterhubungan sehingga penghargaan terhadap orang lain harus menjadi bagian dari sikap dan tindakan seorang pemimpin.
Selain itu, Kakawin Ramayana 1.3 memberikan tuntunan mengenai etika kepemimpinan melalui ajaran Weh ring Weda, bhakti ring Weda, tar paluping pitra puja, masitesiring swagotra kabeh. Ajaran tersebut menekankan pentingnya penguasaan pengetahuan, pelaksanaan nilai-nilai dharma, penghormatan terhadap leluhur dan tradisi, serta kepedulian terhadap seluruh masyarakat.
Pembahasan juga mengangkat Asta Brata, yakni delapan karakter kepemimpinan yang mengambil filosofi dari sifat-sifat alam semesta. Delapan prinsip tersebut meliputi Indra Brata, Yama Brata, Surya Brata, Candra Brata, Bayu Brata, Kuwera Brata, Baruna Brata, dan Agni Brata.
Masing-masing mengandung nilai kepemimpinan yang saling melengkapi. Indra Brata mengajarkan pemimpin untuk memberikan kesejahteraan dan manfaat bagi masyarakat. Yama Brata menekankan penegakan keadilan secara adil dan tegas, sedangkan Surya Brata mengajarkan pentingnya memberikan pencerahan, arah, dan harapan.
Selanjutnya, Candra Brata menggambarkan pemimpin yang mampu menciptakan ketenangan dan kedamaian. Bayu Brata menekankan kedekatan dengan masyarakat, mendengar aspirasi, serta memahami persoalan. Kuwera Brata mengajarkan pengelolaan sumber daya secara bertanggung jawab dan transparan.
Sementara itu, Baruna Brata menekankan integritas dan keteguhan terhadap kebenaran, sedangkan Agni Brata mencerminkan semangat kerja, keberanian, dan ketegasan dalam menjalankan dharma.
Ketiga landasan tersebut, yakni Tat Twam Asi sebagai fondasi spiritual, Kakawin Ramayana 1.3 sebagai pedoman etika, dan Asta Brata sebagai pedoman karakter, disintesiskan menjadi konsep kepemimpinan yang berlandaskan pengabdian serta penghargaan terhadap sesama.
Nilai-nilai tersebut juga relevan diterapkan dalam kehidupan organisasi, masyarakat, maupun pemerintahan. Dalam organisasi, kepemimpinan perlu dibangun melalui sikap saling mendengarkan, menghargai perbedaan, dan memperkuat kebersamaan. Dalam kehidupan sosial, pemimpin diharapkan mampu melayani masyarakat yang lemah, memberikan kesempatan yang adil, serta menciptakan manfaat bagi semua pihak.
“Sementara dalam kehidupan politik dan pemerintahan, prinsip-prinsip Tat Twam Asi dapat menjadi pedoman untuk mengedepankan keadilan, menjaga keharmonisan, dan memperjuangkan kesejahteraan bersama,” ujar Prof Alit Putrawan. (kbs)

