BerandaDaerahGelar Sosialisasi Eco Campus dan Growing Local Economy, STIE Satya Dharma Sulap...

Gelar Sosialisasi Eco Campus dan Growing Local Economy, STIE Satya Dharma Sulap Barang Bekas Jadi Peluang Bisnis Lewat Eco Charm dan Eco Wash

Gung Tini Gorda Dorong Ekosistem UMKM Berkelanjutan

Foto: Kegiatan Sosialisasi Eco Campus dan Growing Local Economy sekaligus peluncuran produk inovasi UKM Eco Campus, yakni Eco Charm dan Eco Wash, Jumat (30/10/2026).

Buleleng, KabarBaliSatu

Sampah bukan sekadar persoalan lingkungan yang harus dibuang. Di tangan orang-orang kreatif, barang yang selama ini dianggap tidak berguna justru dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi dan membuka peluang usaha. Semangat inilah yang diusung STIE Satya Dharma Singaraja melalui kegiatan Sosialisasi Eco Campus dan Growing Local Economy sekaligus peluncuran produk inovasi UKM Eco Campus, yakni Eco Charm dan Eco Wash, Jumat (30/10/2026).

Mengangkat tema “Mengubah Sampah Menjadi Nilai”, kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekaligus mendorong kreativitas mahasiswa untuk mengolah sampah menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai jual. Inisiatif ini sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam membangun ekonomi lokal berbasis keberlanjutan.

Peluncuran produk tersebut juga menjadi momentum khusus untuk mengenang 33 tahun berpulangnya Ratyni Gorda. Peringatan ini dikemas dalam rangkaian kegiatan yang memadukan semangat penghormatan, kepedulian lingkungan, kreativitas, serta pemberdayaan ekonomi lokal.

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi STIE Satya Dharma Singaraja bersama Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Provinsi Bali dan Rotary Club of Bali Bersinar. Acara tersebut turut dihadiri perwakilan Ketua STIE Satya Dharma Singaraja Ketut Suardika, Bendahara Yayasan Ratyni Gorda, Gung Tini Gorda dan Presiden Rotary Club of Bali Bersinar Dra. AA Rai Tirtawati, M.Si.

Peluncuran Eco Charm dan Eco Wash dilakukan langsung oleh Gung Tini Gorda. Selain peluncuran produk, kegiatan ini juga menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. Komang Gita Krishna Murti, S.E., M.M. dan Gede Herry Arum Wijaya, S.T., M.Eng., yang memberikan wawasan terkait pengembangan Eco Campus dan potensi ekonomi dari pengelolaan sampah.

Perwakilan Ketua STIE Satya Dharma Singaraja Ketut Suardika menyampaikan bahwa program Eco Campus selama ini telah berjalan dengan baik dan bahkan berhasil meraih peringkat tiga besar tingkat Provinsi Bali dalam kategori pengelolaan sampah perguruan tinggi.

Capaian tersebut menjadi bukti komitmen kampus dalam membangun lingkungan pendidikan yang bersih, hijau, dan berkelanjutan. Berbagai kegiatan telah dilakukan, mulai dari menjaga kebersihan lingkungan, penghijauan, pengolahan sampah hingga penataan taman kampus.

“Selama ini Eco Campus telah bergerak dalam kegiatan kebersihan, penghijauan, pengolahan sampah, dan pertamanan. Kami juga bersyukur STIE Satya Dharma pernah meraih tiga besar tingkat provinsi,” ungkapnya.

Menurutnya, kegiatan kali ini menjadi langkah lanjutan untuk memperluas pemahaman bahwa sampah tidak seharusnya hanya berakhir di tempat pembuangan. Dengan pengelolaan yang tepat, sampah dapat diolah menjadi produk kreatif yang memberikan manfaat sekaligus menghasilkan nilai ekonomi.

“Hari ini kita melangkah lebih jauh, yaitu melihat bagaimana sampah tidak hanya dibuang, tetapi juga dioptimalkan menjadi sesuatu yang bermanfaat dan memiliki nilai. Salah satunya melalui produk seperti Eco Charm dan Eco Wash,” jelasnya.

Ia pun mengapresiasi kolaborasi yang terbangun dalam kegiatan tersebut. Harapannya, program ini tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan kampus, tetapi juga mampu menghadirkan dampak positif yang lebih luas bagi masyarakat, khususnya di Bali.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa keberhasilan program Eco Campus tidak cukup hanya diukur dari ketersediaan fasilitas pengelolaan sampah. Hal yang tidak kalah penting adalah membangun kesadaran dan kebiasaan seluruh civitas akademika untuk menjaga kebersihan lingkungan.

Menurutnya, perilaku membuang sampah sembarangan masih menjadi tantangan, termasuk kebiasaan membuang puntung rokok tidak pada tempatnya meskipun fasilitas tempat sampah telah disediakan.

“Semoga kegiatan ini dapat menambah wawasan, kreativitas, dan kepedulian mahasiswa terhadap lingkungan. Saya berharap melalui kegiatan ini, mahasiswa dan seluruh civitas akademika menjadikan kepedulian lingkungan sebagai kebiasaan sehari-hari. Sebab, masih ada yang membuang sampah sembarangan, termasuk puntung rokok, padahal tempat sampah sudah disediakan,” tegasnya.

Sementara itu, Bendahara Yayasan Ratyni Gorda, Gung Tini Gorda, menegaskan bahwa peluncuran produk Eco Campus STIE Satya Dharma merupakan langkah positif dalam mendorong kreativitas dan menumbuhkan jiwa kewirausahaan generasi muda.

Menurutnya, melalui konsep Eco Campus, mahasiswa diajak melihat potensi ekonomi dari berbagai barang bekas yang selama ini kerap dianggap sebagai limbah. Padahal, dengan kreativitas dan pengolahan yang tepat, barang-barang tersebut dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah sekaligus membuka peluang usaha.

Ia menekankan bahwa Eco Campus bukan hanya berbicara tentang kepedulian terhadap lingkungan, tetapi juga membangun pola pikir baru dalam memandang barang bekas.

“Ketika barang bekas itu dibuang, barulah menjadi sampah. Tetapi ketika barang bekas itu diolah, itu bukan sampah,” ungkap Gung Tini.

Bagi Gung Tini, peluncuran produk pada 30 Oktober juga memiliki makna personal yang mendalam. Tanggal tersebut bertepatan dengan 33 tahun wafatnya sang ibu, Ratyni Gorda, yang selama hidupnya menjadi mentor sekaligus sumber inspirasi dalam membangun jiwa kewirausahaan.

Meski tidak direncanakan sebelumnya, kesamaan momentum tersebut menjadi pengalaman emosional tersendiri. Ia memandang kegiatan ini sebagai kesempatan untuk meneruskan semangat kreativitas, kemandirian, dan kewirausahaan yang telah menginspirasinya.

Lebih lanjut, Gung Tini menegaskan bahwa pengembangan produk Eco Campus tidak boleh berhenti pada seremoni peluncuran. Diperlukan ekosistem kewirausahaan yang terintegrasi agar produk hasil kreativitas mahasiswa dapat berkembang, memiliki pasar, memperoleh dukungan pendanaan, hingga menjadi usaha yang berkelanjutan.

Untuk mewujudkan hal tersebut, pihaknya menghadirkan sejumlah mitra melalui kolaborasi dan sinergi Pang Pade Payu. Salah satunya Rotary Club of Bali Bersinar yang diharapkan dapat membantu memperluas promosi dan jaringan pemasaran produk sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal atau Growing Local Economy.

Selain itu, HIPPI Bali turut mengambil peran dalam mendampingi pengembangan produk, mulai dari pengurusan legalitas, penguatan kemasan (packaging), hingga kesiapan produksi massal. Pendampingan ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas dan daya saing produk Eco Campus agar dapat menembus pasar yang lebih luas.

Ekosistem tersebut juga melibatkan AVIRAMA Foundation sebagai mitra organisasi nonpemerintah atau NGO untuk memperkuat aspek keberlanjutan lingkungan. Sementara itu, Bank Tabungan Negara (BTN) diharapkan dapat melihat potensi pengembangan produk dan membuka peluang dukungan pembiayaan.

“Kami ingin membangun ekosistem UMKM berbasis lingkungan. Jadi, bukan hanya menciptakan produk, tetapi bagaimana produk ini bisa terus berkembang, memiliki pasar, mendapatkan dukungan pendanaan, dan berkelanjutan,” jelasnya.

Gung Tini berharap kehadiran berbagai mitra tersebut dapat menjadi ruang pembelajaran sekaligus wadah pengembangan bagi mahasiswa yang memilih jalur kewirausahaan. Dengan dukungan ekosistem yang kuat, mahasiswa tidak hanya dipersiapkan menjadi lulusan yang siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja dan peluang usaha.

Dukungan terhadap pengembangan produk Eco Campus juga datang dari Presiden Rotary Club of Bali Bersinar periode 2026–2027, Dra. AA Rai Tirtawati, M.Si. Ia menegaskan bahwa Rotary Club of Bali Bersinar berkomitmen untuk terus memberikan dukungan dan menjalin kolaborasi agar produk hasil kreativitas mahasiswa STIE Satya Dharma dapat berkembang serta menjangkau pasar yang lebih luas.

Menurut Rai Tirtawati, peluncuran Eco Charm dan Eco Wash menjadi momentum penting untuk memperkenalkan sekaligus memasarkan produk karya mahasiswa kepada masyarakat. Bahkan, peserta dan anggota yang hadir dalam kegiatan tersebut telah memberikan apresiasi terhadap inovasi yang dihasilkan melalui program Eco Campus.

“Pada hari ini mereka meluncurkan dua produk yang sekaligus bisa diinformasikan dan dipasarkan kepada teman-teman serta anggota yang mengikuti acara ini. Semuanya sudah memberikan apresiasi terhadap kegiatan ini,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dukungan tersebut sejalan dengan program kerja Rotary Club of Bali Bersinar yang secara konsisten mendorong kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Karena itu, kolaborasi dengan Eco Campus STIE Satya Dharma tidak akan berhenti pada kegiatan peluncuran, tetapi akan dilanjutkan melalui pembinaan dan upaya pemasaran produk.

Rai Tirtawati menambahkan, Rotary Club of Bali Bersinar juga akan bersinergi dengan HIPPI Bali dan Koperasi Perempuan Ramah Keluarga untuk bersama-sama mengembangkan produk hasil kreativitas mahasiswa. Kolaborasi lintas organisasi ini diharapkan dapat memperkuat pendampingan sekaligus membuka akses pemasaran yang lebih luas.

“Kami dari Rotary Club of Bali Bersinar akan terus berkolaborasi dan membina apa yang sudah dilaksanakan oleh mahasiswa melalui UMKM Eco Campus STIE Satya Dharma. Kami juga berupaya membantu memasarkan produknya bersama HIPPI dan Koperasi Perempuan Ramah Keluarga. Kami ingin bersama-sama mengembangkan apa yang telah dirintis oleh mahasiswa ini,” jelasnya.

Menurutnya, sinergi berbagai pihak menjadi faktor penting agar produk inovasi mahasiswa tidak hanya dikenal saat peluncuran, tetapi mampu berkembang menjadi produk usaha yang memiliki keberlanjutan. Dengan dukungan pembinaan, promosi, dan pemasaran, Eco Charm dan Eco Wash diharapkan dapat menjadi contoh bahwa kepedulian terhadap lingkungan juga mampu melahirkan peluang ekonomi baru.

Dukungan terhadap pengembangan Eco Campus juga mendapat perhatian dari salah satu narasumber, Gede Herry Arum Wijaya, S.T., M.Eng. Ia menilai inovasi yang lahir dari mahasiswa STIE Satya Dharma menjadi bukti bahwa generasi muda memiliki banyak gagasan kreatif yang berpotensi dikembangkan menjadi peluang usaha. Karena itu, ide-ide tersebut perlu mendapatkan dukungan dan pendampingan agar dapat tumbuh secara berkelanjutan.

Menurutnya, STIE Satya Dharma memiliki kekuatan di bidang ekonomi dan bisnis yang dapat menjadi modal penting dalam mengembangkan produk berbasis kepedulian lingkungan. Melalui Eco Charm dan Eco Wash, mahasiswa tidak hanya belajar mengolah sampah menjadi produk bermanfaat, tetapi juga memahami bagaimana membangun model bisnis agar inovasi tersebut memiliki keberlanjutan.

“Ini bukti nyata bahwa mahasiswa, khususnya anak-anak muda, memiliki banyak ide cemerlang yang harus kita dukung. Saya melihat kekuatan STIE Satya Dharma dari sisi ekonomi dan bisnis sangat terlihat. Produk Eco Campus ini merupakan bentuk kepedulian terhadap lingkungan, tetapi dengan adanya model bisnis, ide ini juga memiliki peluang untuk terus berkelanjutan,” ungkapnya.

Ia berharap peluncuran Eco Charm dan Eco Wash tidak menjadi akhir dari sebuah inovasi, melainkan awal perjalanan menuju pengembangan usaha yang sesungguhnya. Menurutnya, tantangan berikutnya adalah memastikan produk tersebut mampu menemukan pasar dan diterima masyarakat.

“Harapan saya, produk ini tidak hanya berhenti pada peluncuran. Ke depannya benar-benar bisa masuk ke pasar dan menemukan market-nya. Ini juga menjadi bentuk edukasi kepada masyarakat bahwa sampah sebenarnya memiliki nilai,” tambahnya.

Gede Herry juga berharap gerakan Eco Campus dapat berkembang melampaui lingkungan perguruan tinggi. Dengan demikian, inisiatif pengolahan sampah tidak hanya menjadi aktivitas internal kampus, tetapi juga mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat di sekitarnya.

Sementara itu, narasumber lainnya, Dr. Komang Gita Krishna Murti, S.E., M.M., mengapresiasi pelaksanaan program Eco Campus STIE Satya Dharma, khususnya pengembangan UMKM berbasis pengolahan sampah. Ia juga menyampaikan apresiasi atas dukungan kampus, DPD HIPPI Provinsi Bali, dan Rotary Club of Bali Bersinar yang siap terlibat dalam pembinaan serta pengembangan produk mahasiswa.

Menurutnya, peluncuran Eco Wash dan Eco Charm menjadi langkah awal untuk memperluas inovasi produk Eco Campus. Dengan adanya pendampingan dari berbagai mitra, pihaknya optimistis akan lahir produk-produk baru yang memiliki nilai ekonomi sekaligus membawa pesan kepedulian lingkungan.

“Kami sangat bersyukur hari ini UMKM Eco Campus STIE Satya Dharma dapat melaksanakan sosialisasi dengan tema ‘Mengubah Sampah Menjadi Cuan’. Saya sangat mengapresiasi dukungan kampus, terutama ke depannya ada dukungan langsung dari DPD HIPPI Bali dan Rotary Club of Bali Bersinar. Dua produk yang hari ini kami luncurkan, yaitu Eco Wash dan Eco Charm, juga akan mendapatkan pembinaan dari kedua mitra tersebut,” jelasnya.

Ia menambahkan, pengembangan Eco Campus sejalan dengan visi DPD HIPPI Bali untuk mewujudkan Bali sebagai pusat ekonomi hijau. Karena itu, program ini tidak hanya diarahkan pada pengolahan sampah menjadi produk bernilai ekonomi, tetapi juga mencakup edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah.

Dalam pengembangannya, Eco Campus juga akan bersinergi dengan AVIRAMA Foundation untuk memperluas kegiatan edukasi lingkungan. Komang Gita menegaskan, sebagai bagian dari dunia akademisi, kegiatan tersebut sekaligus menjadi wujud pelaksanaan tanggung jawab perguruan tinggi dalam bidang pengabdian kepada masyarakat.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa edukasi pengelolaan sampah ke depan akan diperluas ke berbagai lingkungan pendidikan, mulai dari sekolah dasar, sekolah menengah pertama hingga perguruan tinggi lainnya.

“Kami sudah membicarakan sejumlah rencana kerja sama di luar kampus. Salah satunya bersama AVIRAMA, setelah mereka datang ke sini, kami akan ikut dalam kegiatan edukasi ke sekolah-sekolah dasar, SMP, maupun kampus lain. Kami tidak menutup kemungkinan untuk berbagi konsep pengelolaan sampah yang selama ini sudah kami terapkan di STIE Satya Dharma agar bisa diterapkan juga di tempat lain,” paparnya.

Ia berharap pengalaman STIE Satya Dharma dalam membangun sistem kebersihan, pengolahan sampah, hingga pengelolaan lingkungan kampus dapat menjadi inspirasi bagi lembaga pendidikan lainnya.

Dari sisi pengembangan produk, Ketua Eco Campus STIE Satya Dharma, Novi, menjelaskan bahwa terdapat dua produk inovasi yang diperkenalkan dalam peluncuran kali ini, yakni Eco Charm dan Eco Wash. Keduanya lahir dari upaya mahasiswa memanfaatkan limbah yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar menjadi produk kreatif dan bernilai ekonomi.

Novi menjelaskan, Eco Charm merupakan produk aksesori berupa gelang yang dibuat dari limbah tutup botol plastik. Produk ini dipilih karena aksesori menjadi salah satu barang yang banyak diminati berbagai kalangan. Melalui kreativitas mahasiswa, limbah plastik diolah menjadi gelang dengan beragam desain menarik.

Proses pembuatannya melalui sejumlah tahapan, mulai dari pemilahan bahan, pencacahan, pembentukan hingga pemanasan. Untuk memberikan nilai tambah, mahasiswa juga mengembangkan variasi desain dengan memadukan manik-manik, mutiara, inisial nama hingga ornamen penyu.

“Kami berinovasi agar Eco Charm tidak hanya dibuat dari tutup botol plastik, tetapi juga dikombinasikan dengan berbagai hiasan seperti mutiara, inisial nama, dan ornamen penyu. Namun, bagi yang menyukai model sederhana dari tutup botol, kami juga menyediakannya,” jelas Novi.

Ia berharap Eco Charm tidak hanya diproduksi dalam satu kesempatan peluncuran, tetapi dapat terus dikembangkan secara berkala dan berkelanjutan. Bahkan, ia berharap ke depan Eco Campus mampu menghadirkan lebih banyak inovasi produk baru.

“Harapannya Eco Charm ini tidak hanya diproduksi sekali, tetapi bisa terus berproduksi secara berkala sehingga selalu tersedia dan dapat menjadi aksesori yang menemani masyarakat. Semoga produk Eco Campus juga tidak hanya dua, tetapi tahun depan bisa meluncurkan dua atau tiga produk baru lagi,” ungkapnya.

Senada dengan itu, Wakil Ketua Eco Campus STIE Satya Dharma, Gede Yoga Adi Pradana, mengatakan kegiatan sosialisasi dan peluncuran produk ini bertujuan mengedukasi masyarakat agar memiliki cara pandang baru terhadap sampah. Menurutnya, sampah tidak selalu harus berakhir sebagai limbah, karena sebagian di antaranya masih dapat didaur ulang dan dikreasikan menjadi produk bermanfaat.

Ia mencontohkan botol plastik yang dapat diolah menjadi gelang, serta kulit jeruk nipis yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan sabun cuci piring.

Melalui inovasi tersebut, mahasiswa ingin menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari hal sederhana di sekitar masyarakat. Ia berharap kegiatan ini mampu meningkatkan pengetahuan sekaligus menumbuhkan kepedulian masyarakat dan seluruh peserta terhadap kelestarian lingkungan.

Sementara itu, Bendahara Eco Campus STIE Satya Dharma, Vika Candra, menjelaskan bahwa Eco Wash merupakan produk sabun pencuci piring yang memanfaatkan ekstrak kulit jeruk peras dan kulit jeruk nipis sebagai bahan dasarnya.

Ide pengembangan produk ini berawal dari pengamatan mahasiswa terhadap banyaknya kulit jeruk yang terbuang begitu saja dari stan-stan penjualan minuman. Padahal, limbah organik tersebut masih memiliki potensi untuk diolah menjadi produk yang bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi.

“Kami melihat di banyak stan penjualan minuman, kulit jeruk peras dan kulit jeruk nipis sering kali dibuang begitu saja. Karena itu, kami ingin mengolah kulit jeruk tersebut menjadi produk yang lebih bermanfaat dan memiliki nilai ekonomis,” papar Vika.

Meski demikian, proses produksi Eco Wash juga memiliki tantangan tersendiri. Salah satu kendala yang dihadapi mahasiswa adalah menjaga kualitas bahan baku. Kulit jeruk yang telah dikumpulkan berisiko membusuk apabila terlalu lama disimpan sebelum diolah.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, mahasiswa berupaya segera memproses kulit jeruk setelah dikumpulkan agar bahan baku tetap dapat dimanfaatkan dengan baik.

Vika berharap Eco Wash dapat terus diproduksi dan dikembangkan meskipun para mahasiswa yang merintisnya telah menyelesaikan pendidikan di STIE Satya Dharma. Ia berharap keberlanjutan produk ini dapat diteruskan oleh mahasiswa angkatan berikutnya sehingga inovasi yang telah dibangun tidak berhenti di tengah jalan.

“Harapan kami, Eco Wash ini tidak berhenti ketika kami sudah selesai berkuliah di sini. Semoga bisa dilanjutkan oleh adik-adik tingkat kami dan terus mendukung gerakan ramah lingkungan,” tuturnya.

Kehadiran Eco Charm dan Eco Wash menjadi gambaran bahwa kreativitas mahasiswa dapat menjadi bagian dari solusi persoalan lingkungan sekaligus membuka peluang kewirausahaan. Melalui pemanfaatan limbah plastik dan organik, Eco Campus STIE Satya Dharma berupaya membangun budaya bahwa sampah bukan semata-mata sesuatu yang harus dibuang, melainkan sumber daya yang masih dapat diolah menjadi produk bernilai.

Dengan demikian, Eco Campus tidak hanya menjadi program unggulan kampus, tetapi juga berkembang menjadi gerakan edukasi dan pemberdayaan masyarakat. Melalui kolaborasi, inovasi produk, serta perluasan edukasi, pengelolaan sampah diharapkan mampu menciptakan manfaat ganda: menjaga kelestarian lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Melalui program Eco Campus, STIE Satya Dharma diharapkan dapat melahirkan generasi muda yang kreatif, mandiri, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Lebih dari sekadar mengolah sampah, gerakan ini menjadi upaya membangun UMKM berbasis lingkungan yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian lokal sekaligus menjaga kelestarian alam Bali. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini