BerandaDaerahPasokan dan Harga Jadi Perhatian, TPID Bali Cari Pola Pengembangan Bawang Putih...

Pasokan dan Harga Jadi Perhatian, TPID Bali Cari Pola Pengembangan Bawang Putih dan Cabai yang Cocok untuk Bali

Kepala Distanpangan Bali: Kita Perlu Bangun Ekosistemnya

Foto: Ilustrasi bawang putih dan cabai sebagai komoditas strategis dalam upaya memperkuat pasokan pangan dan menjaga stabilitas harga di Bali.

Denpasar, KabarBaliSatu

Pemerintah Provinsi Bali memperkuat upaya menjaga ketahanan pangan sekaligus mengendalikan inflasi dengan mendorong peningkatan produksi bawang putih dan cabai. Untuk mencari pola pengembangan yang sesuai dengan karakteristik Bali, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Bali melakukan pembelajaran langsung ke Nusa Tenggara Barat (NTB).

Pembelajaran tersebut dilakukan melalui kegiatan Capacity Building TPID Provinsi Bali dan Kabupaten/Kota Tahun 2026 yang berlangsung di NTB pada 29 September hingga 1 Oktober 2026.

Kegiatan yang difasilitasi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali itu melibatkan TPID Provinsi Bali, TPID Kabupaten Lombok Timur, serta TPID Kota Mataram.

Tak sekadar berdiskusi, peserta juga turun langsung ke lapangan. Salah satunya melalui site visit ke Kelompok Orong Balak pada Rabu (30/9/2026). Kunjungan ini menjadi kesempatan bagi TPID Bali untuk melihat secara langsung praktik penguatan produksi pangan sekaligus menggali pola yang berpotensi diterapkan di Bali.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distanpangan) Provinsi Bali, I Wayan Sunada, mengatakan pengembangan bawang putih dan cabai tidak bisa hanya berorientasi pada peningkatan produksi. Menurutnya, yang lebih penting adalah membangun ekosistem pertanian yang mampu menjaga keberlanjutan produksi, memastikan pasokan, sekaligus memberikan kepastian pasar bagi petani.

“Kita tidak bisa melihat bawang putih dan cabai hanya dari sisi produksi. Yang perlu kita bangun adalah ekosistemnya, bagaimana petani mendapatkan dukungan, produksi dapat berkelanjutan, pasokan terjaga, dan hasilnya memiliki kepastian pasar. Karena itu, pembelajaran seperti ini penting untuk melihat praktik yang bisa kita adaptasi di Bali,” ujar Sunada, Kamis (1/10/2026).

Pengalaman yang diperoleh dari NTB, kata Sunada, akan menjadi bahan evaluasi untuk melihat pola pengembangan komoditas pangan strategis yang paling sesuai dengan kondisi Bali.

Ia menegaskan, Bali tidak harus meniru seluruh pola yang diterapkan daerah lain. Setiap wilayah memiliki karakteristik pertanian, sumber daya, serta kebutuhan pangan yang berbeda.

“Setiap daerah memiliki karakteristik yang berbeda. Kita tidak harus menyalin apa yang dilakukan daerah lain, tetapi mengambil praktik yang relevan dan menyesuaikannya dengan kondisi Bali. Ini yang menjadi nilai penting dari kegiatan capacity building,” jelasnya.

Dalam kegiatan tersebut, TPID Bali juga mengikuti sesi sharing bersama TPID Kabupaten Lombok Timur dan TPID Kota Mataram. Pertukaran pengalaman kemudian dilanjutkan dengan diskusi, tanya jawab, serta kunjungan lapangan untuk melihat secara langsung praktik penguatan produksi dan ketahanan pangan.

Bagi Bali, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat koordinasi lintas sektor. Pengembangan bawang putih dan cabai tidak hanya berkaitan dengan petani dan produksi, tetapi juga menyangkut kesinambungan pasokan, dukungan pembiayaan, peran pelaku usaha, hingga akses pemasaran.

Sunada menekankan pentingnya kolaborasi agar pengembangan komoditas pangan strategis tidak berhenti sebagai program jangka pendek.

“Kuncinya adalah konsistensi dan kolaborasi. Pemerintah tidak dapat berjalan sendiri. Petani, pelaku usaha, lembaga keuangan, akademisi maupun pemangku kepentingan lainnya memiliki peran masing-masing. Semakin kuat kolaborasinya, semakin besar peluang kita membangun produksi pangan yang berkelanjutan,” katanya.

Penguatan produksi bawang putih dan cabai juga diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan. Ketika ketersediaan komoditas lebih terjaga, tekanan terhadap harga diharapkan dapat dikendalikan sehingga turut mendukung upaya pengendalian inflasi di Bali.

“Harapannya, pembelajaran ini tidak berhenti sebagai pengetahuan. Ada yang bisa kita tindak lanjuti di Bali, terutama dalam memperkuat produksi dan ketersediaan komoditas strategis. Ketahanan pangan membutuhkan kerja bersama dan kesinambungan,” pungkas Sunada.

Melalui pembelajaran dari NTB, TPID Bali berharap dapat menemukan pola pengembangan yang tidak hanya mampu meningkatkan produksi bawang putih dan cabai, tetapi juga membangun rantai pangan yang lebih kuat dari tingkat petani hingga pasar. Dengan demikian, ketahanan pangan dan stabilitas harga dapat dijaga secara berkelanjutan. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini