BerandaDaerahDari Laporan Warga hingga Media Sosial, BPBD Bali Gunakan Agent AI Kelola...

Dari Laporan Warga hingga Media Sosial, BPBD Bali Gunakan Agent AI Kelola Informasi Bencana

Foto: BPBD Provinsi Bali mengadopsi teknologi Agent AI untuk mempercepat pengolahan dan penyaringan informasi kebencanaan, sehingga mendukung respons petugas yang lebih cepat dan akurat.

Denpasar, KabarBaliSatu

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali mulai mengadopsi teknologi kecerdasan buatan atau Agent AI untuk mempercepat pengelolaan informasi dalam penanganan bencana.

Teknologi ini dikembangkan sebagai instrumen pendukung bagi petugas, khususnya dalam mengolah laporan yang datang dari berbagai sumber sehingga informasi penting dapat lebih cepat disaring, dirangkum, dan digunakan sebagai bahan pengambilan keputusan.

Kebutuhan tersebut semakin terasa ketika bencana terjadi secara bersamaan di sejumlah wilayah. Dalam situasi darurat, BPBD Bali menerima arus informasi dari masyarakat, media sosial, pemerintah daerah hingga petugas di lapangan. Seluruh informasi tersebut harus segera dipilah dan diverifikasi agar data yang digunakan dalam respons kebencanaan tetap akurat.

Pengembangan Agent AI dilakukan melalui Pelatihan Agent AI Tahap II yang berlangsung selama empat hari. Kegiatan tersebut digagas BPBD Bali bersama BINAR Academy dan mendapat dukungan Program SIAP SIAGA, kemitraan strategis antara Australia dan Indonesia dalam penguatan penanggulangan risiko bencana.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali, I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya, mengatakan pemanfaatan Agent AI diarahkan untuk meringankan beban kerja petugas, terutama dalam mengelola informasi saat kondisi darurat.

“Harapannya melalui lokakarya ini, Agent AI bisa membantu para petugas di bidang kebencanaan untuk lebih fokus pada operasi penanganan bencana, karena sistem informasi sudah dikelola dengan baik,” ujar Teja Bhusana, Kamis (1/10/2026).

Dalam pelatihan tersebut, BPBD Bali memetakan tiga bidang yang dinilai memiliki potensi besar untuk memanfaatkan teknologi Agent AI. Ketiganya yakni komunikasi risiko hidrometeorologi, Sistem Peringatan Dini Tsunami Bali (BTEWS), serta pelaporan situasi bencana.

Pada komunikasi risiko hidrometeorologi, Agent AI diarahkan untuk membantu mengolah data prakiraan cuaca dan peta risiko. Informasi tersebut kemudian dapat dikemas menjadi peringatan dini dengan bahasa yang lebih sederhana dan cepat dipahami masyarakat.

Sementara dalam sistem BTEWS, teknologi AI diuji untuk membantu mendistribusikan informasi mengenai sinyal bahaya tsunami secara lebih sistematis dan efisien.

Adapun dalam pelaporan situasi bencana, Agent AI dapat membantu menyaring, mengelompokkan, dan merangkum laporan dari berbagai kanal informasi. Dengan mekanisme tersebut, petugas diharapkan dapat memperoleh gambaran situasi darurat yang lebih utuh ketika sejumlah kejadian berlangsung dalam waktu berdekatan.

Teja mengatakan tantangan pengelolaan informasi semakin kompleks seiring potensi bencana hidrometeorologi yang dapat terjadi di banyak wilayah dalam waktu bersamaan.

“Ketika cuaca ekstrem, kejadian bisa terjadi di enam sampai tujuh kabupaten sekaligus. Selama ini kita mengandalkan laporan dari kabupaten, sementara masyarakat sering kali sudah lebih dulu menyampaikan informasi secara langsung. Kecepatan informasi ini menjadi tantangan sekaligus peluang yang perlu dikelola dengan baik,” jelasnya.

Namun, kecepatan tidak dapat dipisahkan dari akurasi. Menurut Teja, derasnya arus informasi harus diikuti kemampuan untuk mengelola dan memastikan data yang diterima dapat mendukung respons kebencanaan secara tepat.

“Di tengah meningkatnya frekuensi kejadian hidrometeorologi dan kompleksitas risiko bencana, kemampuan mengelola informasi secara cepat dan akurat menjadi salah satu faktor kunci dalam mendukung keselamatan masyarakat,” tambahnya.

Pengembangan teknologi tersebut difokuskan untuk memperkuat kapasitas staf Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Bali. Para peserta tidak hanya diperkenalkan dengan mekanisme kerja AI, tetapi juga diajak memetakan persoalan teknis yang dihadapi dalam pengelolaan informasi kebencanaan di lapangan.

Direktur AI sekaligus Advisor BINAR Academy, Nur Rahmah, mengatakan pemanfaatan Agent AI dapat dilakukan dalam berbagai tahapan penanggulangan bencana, mulai dari sebelum bencana hingga setelah kejadian.

“Pemanfaatan Agent AI dapat dimulai sebelum bencana terjadi, misalnya untuk mengolah informasi risiko dan peringatan dini. Saat bencana, teknologi ini dapat membantu mempercepat distribusi informasi dan mendukung pengambilan keputusan. Sementara pada tahap pascabencana, Agent AI berpotensi membantu pemantauan dampak dan kerusakan,” ujarnya.

Meski mulai memanfaatkan teknologi AI, BPBD Bali menegaskan bahwa Agent AI bukan pengganti manusia dalam menentukan langkah penanganan bencana. Teknologi tersebut ditempatkan sebagai instrumen pendukung untuk mengolah data mentah, merangkum laporan, hingga menyajikan rekomendasi secara cepat.

Keputusan teknis tetap berada di tangan petugas yang memiliki kewenangan dan tanggung jawab dalam penanganan bencana.

Provincial Manager Program SIAP SIAGA Bali, Ikhyaul Ihsan, mengatakan pengembangan Agent AI menjadi bagian dari upaya memperkuat tata kelola data dan sistem peringatan dini dalam penanggulangan risiko bencana.

“Upaya ini merupakan bagian dari langkah proaktif BPBD Provinsi Bali dalam menjawab kebutuhan masyarakat akan informasi yang valid dan mudah diakses, sehingga respons kebencanaan dapat dilakukan secara lebih cepat dan tepat,” tandasnya.

Pemanfaatan Agent AI diharapkan mampu memperkuat kapasitas BPBD Bali menghadapi derasnya arus informasi di tengah situasi darurat. Data yang sebelumnya datang secara terpisah dari berbagai kanal diharapkan dapat diolah menjadi informasi yang lebih terstruktur, sehingga petugas dapat lebih cepat memahami situasi dan menentukan langkah penanganan di lapangan. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini