Foto: Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Bali, Gde Sumarjaya Linggih (Demer) berdiskusi dengan narasumber dan peserta saat acara Bimbingan Teknis (Bimtek) bagi seluruh Anggota Fraksi Golkar DPRD Provinsi dan Fraksi Golkar DPRD Kabupaten/Kota se-Bali di Aston Denpasar Hotel & Convention Center, Denpasar pada Minggu 6 September 2026.
Denpasar, KabarBaliSatu
Di tengah riuh politik yang kerap identik dengan perebutan pengaruh dan kekuasaan, ada satu sikap yang justru membuat seorang pemimpin tampak berbeda: kesediaan untuk terus belajar.
Sikap itulah yang kembali diperlihatkan Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Bali, Gde Sumarjaya Linggih, atau yang akrab disapa Demer.
Bagi Partai Golkar Bali, Demer bukan sekadar nahkoda yang mengemudikan kapal besar partai berlambang pohon beringin di Pulau Dewata.
Politisi senior Golkar tersebut juga berusaha menjadi panutan yang menularkan semangat, keteladanan, sekaligus inspirasi melalui tindakan nyata kepada seluruh kader.
Pengalaman lima periode sebagai Anggota DPR RI, perjalanan panjang di dunia politik, hingga kepercayaan sebagai Sekretaris Fraksi Golkar DPR RI, tidak membuat Demer berhenti menimba ilmu.
Sebaliknya, pengalaman panjang itu justru membuatnya semakin memahami bahwa politik tidak pernah berhenti bergerak. Karena itu, seorang politisi dituntut untuk terus mengisi diri, membuka telinga untuk mendengarkan, merawat empati dengan kepedulian, dan memastikan setiap kerja politik berujung pada manfaat nyata berkelanjutan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Spirit tersebut tampak nyata dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) bagi seluruh Anggota Fraksi Golkar DPRD Provinsi Bali dan Fraksi Golkar DPRD Kabupaten/Kota se-Bali yang digelar di Aston Denpasar Hotel & Convention Center, Denpasar, Minggu (6/9/2026).
Demer tidak sekadar hadir sebagai ketua partai.
Ia mengikuti seluruh rangkaian kegiatan sejak pembukaan, menyimak setiap materi yang diberikan narasumber, mengikuti diskusi, hingga acara berakhir.
Tidak ada materi yang dilewatkan.
Bahkan, setelah sesi wawancara bersama wartawan, Demer sempat berpamitan kepada awak media karena harus mengikuti materi berikutnya hingga penutupan.
“Mohon maaf ya teman-teman, saya harus mengikuti materi kedua dan saya ikut sampai penutupan. Materinya ini sangat bagus untuk menambah wawasan kader Golkar dan untuk dipraktikkan di lapangan,” kata Demer.
Sikap tersebut seolah menjadi pesan sederhana, tetapi kuat: semakin panjang pengalaman seorang pemimpin, seharusnya semakin besar pula kemauannya untuk belajar.
Mengubah Cara Berpolitik dengan Data dan Teknologi
Bekerja sama dengan Pusat Studi Pengembangan Kompetensi (PUSPEKOM), Bimtek yang mengusung tema “Transformasi Pelayanan Menuju Kebermanfaatan yang Berkelanjutan” itu menjadi momentum Partai Golkar Bali untuk memperkuat sumber daya, kapasitas, kompetensi, dan kinerja para anggota fraksi yang duduk di lembaga legislatif.
Dalam kegiatan tersebut, Demer bersama seluruh Anggota Fraksi Golkar menyimak dengan penuh perhatian setiap materi yang disampaikan.
Antusiasme peserta juga terlihat dalam sesi tanya jawab dan diskusi. Materi yang relevan dengan kebutuhan kerja politik di lapangan, ditambah perpaduan narasumber senior dan generasi muda, membuat ruang kegiatan terasa hidup.
Dalam sambutan pembukaannya, Demer menegaskan bahwa perubahan zaman menuntut perubahan paradigma dalam kerja-kerja politik.
Menurutnya, pola pergerakan yang selama ini banyak dilakukan secara otodidak harus mulai ditinggalkan. Politik modern, kata dia, harus dibangun dengan pendekatan berbasis data dan teknologi.
“Selama ini, kalau boleh dibilang, hampir semua kita sadari otodidak dalam mencari suara. Ke depan, kita akan membuat semacam database di DPD yang digabungkan dengan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI),” ujar Demer yang juga Anggota Komisi VI DPR RI itu.
Bagi Demer, teknologi bukan sekadar alat bantu. AI dan pengelolaan data harus menjadi bagian dari cara baru membaca denyut masyarakat.
Dengan integrasi tersebut, pemetaan di lapangan diharapkan menjadi lebih presisi, mulai dari pemilih solid, swing voter, hingga segmentasi isu yang berkembang di masing-masing daerah.
“Belum tentu isu di Singaraja atau Buleleng timur sesuai dengan daerah barat. Melalui pendekatan data dan AI, strategi penyerapan simpati masyarakat dapat diramu secara jauh lebih efisien, efektif, dan berbasis kerja nyata,” tambah politisi senior Golkar asal Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng itu.
Jangan Sampai Mendayung ke Belakang
Namun, di balik dorongan untuk beradaptasi dengan teknologi, Demer mengingatkan bahwa kekuatan utama Partai Golkar tetap berada pada soliditas kader.
Ia meminta seluruh kader berani berkompetisi secara sehat di internal masing-masing daerah pemilihan (Dapil), sembari tetap menjaga kapal besar Golkar agar tidak kehilangan arah.
“Jangan ada lagi yang mendayung ke belakang, apalagi mencoba membocorkan perahu sendiri. Jangan takut bersaing di internal Dapil untuk mengamankan kursi—bahkan mengejar dua kursi. Tanpa soliditas, suara kita pasti akan menurun,” cetus Demer yang kini juga mengemban amanah sebagai Sekretaris Fraksi Golkar DPR RI.
Pesan itu bukan semata tentang kursi kekuasaan.Lebih jauh, Demer ingin seluruh kader memahami bahwa persaingan politik harus berjalan beriringan dengan kebersamaan. Sebab, kapal yang besar tidak akan sampai ke tujuan jika orang-orang di dalamnya justru mendayung ke arah yang berbeda.
Empat Materi, Satu Tujuan
Bimtek tersebut menghadirkan empat narasumber ahli untuk membedah berbagai aspek teknis, akademis, dan strategis yang berkaitan dengan kerja anggota legislatif.
Materi pertama membahas “Pemetaan Perilaku Pemilih pada Pemilu Legislatif dan Strategi Kampanye Berbasis Data (Data-Driven Campaign)” yang disampaikan Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago.
Materi kedua mengenai “Pertanggungjawaban Dana Reses dan Pokok-Pokok Pikiran (Pokir) DPRD” disampaikan Kepala BPK Perwakilan Bali.
Selanjutnya, peserta mendapatkan materi “Public Speaking dan Retorika Politik yang Efektif untuk Pimpinan dan Anggota DPRD” dari I Gede Benny Subawa, tokoh muda yang pernah menjadi Tenaga Ahli Deputi Otorita Ibu Kota Nusantara dan kini menjabat Chairman “Dua Sisi Project”.
Materi keempat mengangkat tema “Pemanfaatan Ruang Digital untuk Kepentingan Politik Elektoral”, dengan narasumber Founder Info Denpasar, Yus Priyanata Sudibya.
Rangkaian materi tersebut diarahkan agar para kader Golkar yang duduk di lembaga legislatif mampu menjalankan fungsi anggaran, pengawasan, dan legislasi secara transparan, akuntabel, sekaligus responsif terhadap dinamika aspirasi masyarakat.
Ruangan yang Tetap Penuh dengan Antusiasme Kader Golkar
Bagi Demer, antusiasme peserta menjadi salah satu catatan paling berharga dari kegiatan tersebut.Dalam sambutan penutupannya, ia mengaku merasa dihargai oleh seluruh peserta yang tetap memenuhi ruangan sejak awal hingga akhir acara.
Bagi seorang pemimpin, mungkin tidak ada penghargaan yang lebih sederhana sekaligus bermakna selain melihat orang-orang yang dipimpinnya memilih untuk tetap tinggal, mendengarkan, bertanya, berdiskusi, dan belajar sampai kegiatan berakhir.
Ruang yang penuh menjadi tanda bahwa kader tidak sekadar datang untuk memenuhi kewajiban, tetapi benar-benar ingin mendapatkan pengetahuan yang dapat dibawa pulang dan diterapkan di lapangan.
Wakil Ketua Bidang OKK DPD Partai Golkar Provinsi Bali, I Putu Yuda Suparsana, melaporkan dari total 67 anggota fraksi di seluruh Bali, sebanyak 66 peserta hadir secara langsung. Satu anggota lainnya, yakni almarhum I Wayan Gede Sudarta, mantan Ketua DPD Golkar Gianyar, telah berpulang.
Yuda menilai tingginya tingkat kehadiran tersebut menunjukkan komitmen kuat para kader dalam meningkatkan kapasitas diri.
“Ukuran keberhasilan seorang anggota DPRD bukan hanya dilihat dari seberapa banyak kegiatan yang dilakukan, melainkan seberapa besar keberadaan dan kerja kita mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” pungkas Yuda.
Pada akhirnya, Bimtek tersebut bukan sekadar agenda peningkatan kapasitas. Di dalamnya ada pesan yang lebih dalam: bahwa politik yang baik membutuhkan manusia-manusia yang mau terus belajar.
Demer, dengan pengalaman panjangnya sebagai wakil rakyat, memilih menunjukkan pesan itu bukan hanya lewat kata-kata. Ia duduk bersama para kader, menyimak materi demi materi, bertanya, berdiskusi, dan bertahan hingga lampu acara dipadamkan.
Sebab menjadi nahkoda bukan berarti telah mengetahui seluruh arah angin. Justru karena memimpin kapal yang besar, seorang nahkoda harus terus membaca perubahan cuaca, memahami arus, dan memastikan setiap orang di atas kapal bergerak menuju tujuan yang sama.
Dan bagi Demer, tujuan itu pada akhirnya bukan sekadar kemenangan politik, melainkan menghadirkan kerja yang memberi manfaat nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat. (kbs)

