BerandaDaerahBuka Temu Ilmiah IPLBI ke-14, Gubernur Koster Ajak Peneliti Buat Solusi Nyata...

Buka Temu Ilmiah IPLBI ke-14, Gubernur Koster Ajak Peneliti Buat Solusi Nyata untuk Bali

Jaga Identitas dan Ekosistem Bali di Tengah Pesatnya Perkembangan Teknologi

Foto: Gubernur Koster menghadiri sekaligus menjadi pembicara dalam  Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) ke-14 yang berlangsung di Aula Pascasarjana Universitas Udayana, Denpasar, Jumat (4/9).

Denpasar, KabarBaliSatu 

Gubernur Bali Wayan Koster secara resmi membuka Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) ke-14 yang berlangsung di Aula Pascasarjana Universitas Udayana, Denpasar, Jumat (4/9). Dalam kesempatan tersebut, Koster mengajak para peneliti untuk tidak hanya fokus pada publikasi akademis, tetapi juga melahirkan solusi nyata bagi masyarakat.

Forum ilmiah ke-14 ini mengusung tema kecerdasan budaya untuk lingkungan binaan, kecerdasan buatan, konteks lokal, dan tujuan pembangunan berkelanjutan. Tema ini dinilai sangat selaras dengan arah kebijakan Haluan Pembangunan Bali Masa Depan, 100 Tahun Bali Era Baru (2025–2125), yang dituangkan dalam Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2023 untuk menjaga alam, manusia, dan kebudayaan Bali.

Koster menilai para peneliti lingkungan binaan memiliki peran strategis karena tidak sekadar merancang bangunan atau kota, melainkan ikut menentukan arah peradaban masa depan. Oleh sebab itu, hasil riset diharapkan dapat diterjemahkan menjadi prototipe desain, standar kebijakan, serta model pembangunan yang aplikatif.

“Bali membutuhkan riset yang tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga menghasilkan solusi. Kita butuh teknologi yang pintar sekaligus bijaksana,” ujar Koster.

Ia menekankan enam agenda penting yang perlu dikembangkan bersama, antara lain integrasi data pengetahuan lokal, pengembangan AI berbasis konteks wilayah, perancangan kawasan tangguh iklim, konektivitas ekosistem desa-kota, penguatan ruang publik, serta pengarahan riset menuju kebijakan konkret.

Gubernur Koster menutup sambutannya dengan mengajak seluruh pemangku kepentingan, mulai dari akademisi, pemerintah, praktisi, dunia usaha, hingga desa adat, untuk memperkuat kolaborasi. Sinergi ini diharapkan dapat menjadikan Bali sebagai laboratorium hidup pengembangan lingkungan binaan yang harmonis antara teknologi, alam, dan kebudayaan.

“Dari Bali kita ingin menunjukkan bahwa modernitas tidak harus menghapus identitas, teknologi tidak harus menghilangkan kebudayaan, dan pembangunan tidak harus mengorbankan alam,” pungkasnya. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini