BerandaDaerahJaga Peradaban Bali, Gubernur Koster Jadikan Nilai Sat Kerthi Kerangka Etik Pembangunan

Jaga Peradaban Bali, Gubernur Koster Jadikan Nilai Sat Kerthi Kerangka Etik Pembangunan

Integrasikan Nilai Sad Kerthi dan Arsitektur Lokal untuk Mengawal Pembangunan Bali 100 Tahun Ke Depan

Foto: Gubernur Koster saat menghadiri Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) ke-14 di Aula Pascasarjana Universitas Udayana, Kampus Sudirman, Denpasar, Jumat (4/9).

Denpasar, KabarBaliSatu

Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan komitmennya untuk menjaga peradaban dan identitas Bali di tengah pesatnya arus modernisasi dan kemajuan teknologi. Koster menekankan bahwa seluruh pemikiran dan kebijakan pembangunan Bali berbasis pada nilai-nilai kearifan lokal Sat Kerthi sebagai kerangka etik dan ekologis, bukan mengejar perubahan fisik semata.

Hal tersebut diungkapkan Gubernur Bali Wayan Koster saat menjadi pembicara kunci sekaligus membuka secara resmi Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) ke-14 di Aula Pascasarjana, Kampus Universitas Udayana, Jalan P.B. Sudirman, Denpasar, Jumat (4/9).

Dalam sambutannya, Gubernur Koster menekankan pentingnya menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya melalui Haluan Pembangunan Bali Masa Depan 100 Tahun Bali Era Baru (2025–2125). Perumusan visi pembangunan “Nangun Sat Kerthi Loka Bali” serta Haluan Pembangunan Bali Masa Depan 100 Tahun Bali Era Baru (2025–2125) sama sekali tidak merujuk pada referensi luar, melainkan digali dari akar budaya dan sejarah peradaban Bali sendiri.

“Saya membangun Bali dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali sama sekali tidak menggunakan referensi warga luar. Yang saya pakai adalah kearifan lokal dan sejarah peradaban Bali. Pembangunan Bali kami jalankan berbasis kearifan lokal, tetapi tetap adaptif terhadap perkembangan zaman,” tegas Koster di hadapan para peneliti dan akademisi.

Koster menambahkan, dokumen pembangunan yang dituangkan dalam Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2023 tersebut bukan sekadar perencanaan fisik, melainkan arah untuk menjaga masa depan peradaban Bali. Visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali menjadi landasan utama untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat secara sekala dan niskala.

“Haluan pembangunan Bali 100 tahun bukan semata-mata dokumen perencanaan. Ini adalah arah untuk menjaga masa depan peradaban Bali agar pembangunan mampu menjaga alam, manusia, dan kebudayaan sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan,” tegas Koster.

Pembangunan lingkungan binaan di Bali wajib berlandaskan nilai-nilai kearifan lokal Sad Kerthi yang mencakup enam unsur utama: Atma Kerthi, Segara Kerthi, Danu Kerthi, Wana Kerthi, Jana Kerthi, dan Jagat Kerthi. Unsur-unsur ini menjadi kerangka etik dan ekologis dalam mengelola seluruh ruang kehidupan, mulai dari pemukiman, kawasan pesisir, hutan, danau, hingga ruang publik. Melalui pendekatan tersebut, Bali diharapkan mampu membangun lingkungan binaan yang tangguh, inklusif, rendah karbon, serta adaptif terhadap perubahan iklim. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini