Foto: Sektor perikanan Bali terus berkembang melalui potensi ekspor tuna ke mancanegara dan industri pemindangan tongkol lokal untuk kesejahteraan masyarakat pesisir.
Denpasar, KabarBaliSatu
Sektor perikanan memiliki peran penting dalam menopang perekonomian masyarakat pesisir di Bali. Potensi tersebut tidak hanya berasal dari pemenuhan kebutuhan konsumsi lokal, tetapi juga dari komoditas unggulan yang mampu menembus pasar ekspor.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali, Putu Sumardiana, mengatakan pemerintah akan terus menyusun berbagai program dan strategi untuk menjaga sekaligus mengembangkan sektor perikanan agar semakin produktif dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Seperti kita ketahui, salah satu sumber pendapatan masyarakat Bali adalah dari sektor perikanan,” kata Sumardiana belum lama ini.
Menurutnya, laut Bali memiliki kekayaan sumber daya yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi daerah. Ikan yang ditangkap tidak hanya dikonsumsi masyarakat, tetapi juga menjadi komoditas perdagangan hingga pasar internasional.
Salah satu komoditas yang menjadi unggulan adalah tuna. Pelabuhan Benoa memiliki posisi strategis karena menjadi salah satu pusat pendaratan dan aktivitas perikanan tuna di kawasan Indonesia Timur.
Data yang dikutip dari statistik Kementerian Kelautan dan Perikanan menunjukkan produksi tuna Bali mencapai sekitar 18.800 ton, menempatkan Bali di peringkat ketujuh nasional dalam produksi tuna.
Sumardiana menilai angka tersebut menunjukkan besarnya peluang ekonomi yang dapat dikembangkan dari sektor perikanan, khususnya komoditas tuna.
“Pelabuhan Benoa itu adalah hub untuk Indonesia Timur. Seluruh pendaratan tuna itu difokuskan di Benoa,” ujarnya.
Bahkan, produk tuna yang berasal dari Bali telah memiliki pasar ekspor ke sejumlah negara besar. Berdasarkan kajian mengenai perdagangan tuna, cakalang dan tongkol melalui Bali, produk tersebut telah menjangkau 46 negara tujuan dalam periode 2019-2023. Jepang, Amerika Serikat dan Australia tercatat sebagai sejumlah pasar utama
Secara nasional, prospek komoditas tuna juga masih sangat besar. Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat nilai ekspor produk perikanan Indonesia sepanjang 2025 mencapai USD6,27 miliar, meningkat 5,2 persen dibandingkan 2024. Dari total tersebut, komoditas tuna-cakalang menyumbang USD1,04 miliar atau 16,5 persen.
Tongkol Jadi Andalan Pasar Lokal
Selain tuna, Sumardiana menyebut ikan tongkol sebagai salah satu komoditas penting bagi masyarakat lokal Bali.
Ikan tongkol selama ini menjadi bahan baku industri pemindangan yang berkembang di sejumlah kawasan pesisir. Kusamba di Klungkung menjadi salah satu daerah yang dikenal dengan produk pindang, selain kawasan Benoa dan sekitarnya.
“Kalau untuk lokal, ikan tongkol ini salah satu industri pemindangan yang terbesar di Bali. Mungkin semeton-semeton di Bali tahu, Kusamba ini terkenal sekali pindangnya,” kata Sumardiana.
Menurutnya, aktivitas tersebut telah lama menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat pesisir. Rantai ekonominya juga tidak hanya melibatkan nelayan, tetapi mencakup pengolahan, perdagangan hingga distribusi produk perikanan.
Pelabuhan Benoa sendiri disebut sebagai salah satu pusat pendaratan, pengolahan, distribusi dan ekspor hasil perikanan tangkap di Indonesia. Komoditas utama yang dihasilkan antara lain tuna, tongkol dan cakalang.
Potensi ekonomi perikanan Bali juga tidak berhenti pada ikan konsumsi. Sumardiana melihat peluang pengembangan bisnis pada komoditas ikan hias serta berbagai produk perikanan bernilai tambah.
Keberlanjutan Laut Jadi Prioritas
Di tengah besarnya potensi ekonomi tersebut, Sumardiana mengingatkan bahwa pengembangan perikanan harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga kelestarian laut.
Menurutnya, keberlanjutan menjadi kunci agar sumber daya perikanan tetap tersedia bagi generasi mendatang.
“Yang paling penting adalah keberlanjutan. Laut ini harus dijaga sustainability-nya. Kalau laut kita rusak, apalagi tercemar, akan berdampak kepada biota yang ada di dalamnya, termasuk ikan,” tegasnya.
Karena itu, Dinas Kelautan dan Perikanan Bali terus mendorong penguatan kawasan konservasi serta perlindungan terhadap tiga ekosistem penting, yakni terumbu karang, padang lamun dan mangrove.
Ketiga ekosistem tersebut memiliki fungsi penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut. Terumbu karang, misalnya, menjadi habitat berbagai jenis ikan sekaligus mendukung aktivitas wisata bahari.
Sumardiana mencontohkan kawasan Nusa Penida, Tulamben dan Buleleng yang memiliki potensi wisata snorkeling dan diving. Menurutnya, aktivitas wisata tersebut harus tetap memperhatikan daya dukung lingkungan.
Pemprov Bali juga secara rutin menjalankan program restorasi dan transplantasi terumbu karang di sejumlah kawasan. Karang yang mengalami kerusakan ditanam kembali untuk memulihkan ekosistem.
“Karang ini merupakan rumahnya ikan. Jadi, terumbu karang yang ada jangan sampai rusak,” katanya.
Selain restorasi, pemerintah juga terus memberikan edukasi kepada nelayan agar tidak menggunakan metode penangkapan ikan yang merusak lingkungan.
Kesadaran tersebut dinilai penting karena keberlangsungan pendapatan nelayan sangat bergantung pada kesehatan ekosistem laut.
“Kalau lautnya rusak, sumber pendapatannya hilang. Kesadaran itulah yang kita tumbuhkan di masyarakat,” jelasnya.
Nelayan Didorong Lebih Produktif
Untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan, pemerintah juga menjalankan berbagai program pemberdayaan masyarakat pesisir.
Salah satunya melalui bantuan sarana dan prasarana perikanan, termasuk peremajaan alat tangkap seperti jaring dan mesin tempel.
Sumardiana mengatakan sebagian peralatan nelayan sudah berusia lama sehingga produktivitasnya menurun. Karena itu, bantuan peralatan baru diharapkan dapat meningkatkan kemampuan nelayan dalam melaut.
“Tujuannya adalah alat-alat yang selama ini mereka miliki mungkin sudah lama, mungkin sudah tidak produktif, kita ganti dengan yang baru. Harapannya meningkatkan produktivitas,” ujarnya.
Penguatan pengawasan juga dilakukan melalui Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas). Saat ini, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali memiliki 40 kelompok Pokmaswas yang tersebar di seluruh kabupaten/kota.
Sebagian anggota Pokmaswas merupakan nelayan yang sehari-hari beraktivitas di laut. Selain mencari ikan, mereka ikut mengawasi lingkungan perairan di wilayah masing-masing.
Apabila ditemukan dugaan pelanggaran atau persoalan di lapangan, informasi dapat segera disampaikan kepada pemerintah.
Komunikasi antara Pokmaswas dan pemerintah juga dibuka selama 24 jam melalui grup WhatsApp. Pola ini diharapkan mempercepat penyampaian informasi sekaligus respons terhadap persoalan di lapangan.
Sumardiana menegaskan keberhasilan menjaga sumber daya laut dan mengembangkan sektor perikanan tidak dapat dilakukan pemerintah seorang diri.
Keterlibatan masyarakat, terutama nelayan dan kelompok pesisir, menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan sumber daya laut sekaligus memastikan sektor perikanan tetap menjadi sumber penghidupan masyarakat Bali.
“Tanpa masyarakat kita tidak bisa berbuat apa-apa,” pungkasnya. (kbs)

