BerandaDaerahChef I Made Ardika, Raih Gelar Doktor di Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas),...

Chef I Made Ardika, Raih Gelar Doktor di Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas), Tawarkan Strategi Baru Membangun Loyalitas Wisatawan Lewat Gastronomi Bali

Lahirkan Model SNSI Framework: Integrasikan Budaya, Cerita, Pengalaman Sensorik, dan Interaksi lokal untuk Memperkuat Loyalitas Wisatawan Mancanegara

Foto: Chef I Made Ardika, S.E., M.M, meraih gelar Doktor Ilmu Manajemen pada Program Studi Doktor Ilmu Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Undiknas setelah menjalani setelah menjalani Ujian Akhir Doktor yang dirangkaikan dengan Promosi Doktor pada Jumat 5 Juni 2026.

Denpasar, KabarBaliSatu

Gastronomi khas Bali tidak hanya berperan sebagai daya tarik kuliner, tetapi juga dapat menjadi strategi efektif untuk membangun loyalitas wisatawan mancanegara. Gagasan tersebut menjadi inti penelitian disertasi Chef I Made Ardika yang mengantarkannya meraih gelar Doktor Ilmu Manajemen pada Program Studi Doktor Ilmu Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Undiknas.

Chef I Made Ardika mengangkat Disertasi berjudul “Pengalaman Pariwisata Gastronomi dan Pembentukan Loyalitas Wisatawan di Ubud, Bali”. Penelitian yang dilakukan di kawasan wisata Ubud, Bali, ini mengkaji bagaimana pengalaman gastronomi dapat dikelola secara strategis untuk mendorong wisatawan kembali berkunjung, memberikan rekomendasi positif, serta membangun hubungan jangka panjang dengan destinasi wisata.

Disertasi tersebut disusun di bawah bimbingan Promotor Prof. Luh Putu Mahyuni, Ph.D., CA., CSP., bersama Co-Promotor I Prof. Dr. Ida Ayu Oka Martini, S.E., M.M., HRM., dan Co-Promotor II Assoc. Prof  Dr. Ni Putu Nina Eka Lestari, S.E., M.M.

Ujian akhir dan promosi doktor dipimpin oleh Associate Prof Dr. Ni Wayan Widhiasthini, S.Sos., M.Si., dengan Dewan Penguji Eksternal Prof. Dr. Made Sudarma, S.E., Ak., M.M., Penguji Internal 1, Prof. Dr. Ir. Nyoman Sri Subawa, S.T., S.Sos., M.M., IPM., ASEAN Eng,  Penguji Internal 2, Associate Prof Agus Fredy Maradona S.E., M.S.A., Ph.D., Ak., Penguji Internal 3, Associate Prof Dr. Drs. I Nyoman Subanda, M.Si., dan Penguji Internal 4, Associate Prof Dr. I.G.A.A. Dewi Sucitawathi Pinatih, S.Sos., M.Si.

Dalam perspektif ilmu manajemen, penelitian ini memandang gastronomi Bali tidak sekadar sebagai aktivitas menikmati makanan. Gastronomi diposisikan sebagai bagian dari strategi pengelolaan pengalaman wisatawan (experience management) yang mampu menciptakan loyalitas secara berkelanjutan.

Berlandaskan teori Grand Theory: Experience Economy Theory (Phine II & Gilmore 1999) dan Consumer Behaviour Theory, pengalaman gastronomi dipahami sebagai pengalaman holistik yang melibatkan aspek sensorik, emosional, simbolik, dan interaktif. Kombinasi elemen tersebut diyakini berpengaruh terhadap persepsi, kepuasan, keterikatan emosional, hingga loyalitas wisatawan terhadap suatu destinasi.

Melalui pendekatan kualitatif, kuantitatif, dan mixed methods dengan desain sequential exploratory, Chef I Made Ardika mengembangkan model konseptual baru bernama Symbolic–Narrative–Sensory–Interactive (SNSI) Framework.

Model ini menjelaskan bahwa loyalitas wisatawan terbentuk melalui integrasi empat dimensi utama, yaitu simbolik, naratif, sensorik, dan interaktif.

Dimensi simbolik menitikberatkan pada identitas budaya, autentisitas, tradisi lokal, serta penggunaan bahan pangan khas Bali sebagai nilai strategis destinasi. Dimensi naratif menekankan pentingnya food storytelling untuk membangun hubungan emosional melalui cerita, filosofi, dan makna budaya di balik kuliner Bali.

Sementara itu, dimensi sensorik berfokus pada kualitas pengalaman melalui cita rasa, aroma, tampilan visual, dan kenyamanan yang membentuk persepsi positif wisatawan. Adapun dimensi interaktif diwujudkan melalui keterlibatan wisatawan dalam aktivitas budaya, pengalaman memasak, pembelajaran, serta interaksi langsung dengan masyarakat lokal.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa loyalitas wisatawan tidak muncul secara spontan. Loyalitas terbentuk melalui proses pengelolaan pengalaman gastronomi yang dirancang secara terintegrasi dan konsisten.

Pengalaman gastronomi yang dikelola dengan baik terbukti mampu meningkatkan persepsi positif dan kepuasan wisatawan. Dampaknya, wisatawan memiliki kecenderungan lebih besar untuk kembali berkunjung, memberikan rekomendasi positif (positive word of mouth), serta menjalin hubungan jangka panjang dengan destinasi wisata yang mereka kunjungi.

Secara akademik, penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu manajemen, khususnya pada bidang customer experience management, destination marketing strategy, relationship marketing, serta strategi pengelolaan loyalitas pelanggan berbasis budaya lokal.

Dari sisi praktis, temuan penelitian diharapkan dapat menjadi referensi bagi pemerintah, pengelola destinasi wisata, pelaku industri pariwisata, UMKM gastronomi, dan sektor ekonomi kreatif dalam merancang strategi peningkatan loyalitas wisatawan melalui pengalaman budaya yang autentik, berkesan, dan berkelanjutan.

Dalam sambutannya, Promotor Prof. Luh Putu Mahyuni, Ph.D., CA., CSP., mengenang perjalanan akademik Chef I Made Ardika, sejak awal memasuki program doktor hingga berhasil menyelesaikan Studi Doktoral Bidang Ilmu Manajemen dalam waktu cepat hanya 6 semester atau hanya 2 tahun 10 bulan, dengan predikat Cumlaude.

Prof. Mahyuni mengenang momen ketika Chef I Made Ardika mengikuti wawancara calon mahasiswa doktor dan menjelaskan motivasinya melanjutkan pendidikan meski telah sukses berkarier sebagai Chef profesional dan pengusaha.

“Saya ingin mengembangkan wawasan dan membentuk pola berpikir saya. Saya senang belajar”, ujar Prof Mahyuni mengenang jawaban Chef I Made Ardika, kala itu.

Menurut Prof. Mahyuni, jawaban tersebut menjadi penanda kuat bahwa Chef I Made Ardika memiliki semangat belajar yang menjadi fondasi penting dalam studi doktoral.

Dalam proses penelitian, Chef I Made Ardika menghadapi berbagai tantangan, mulai dari menyusun model penelitian, menulis karya akademik, hingga melewati proses revisi berulang dari jurnal internasional bereputasi yang terindeks Scopus Q2 dan Q4, beserta “From Taste To Loyalty” hasil kolaborasi dengan Prof. Luh Putu Mahyuni, Ph.D., CA., CSP dan Prof. Dr. Ida Ayu Oka Martini, S.E., M.M., HRM. Meski demikian, semangatnya tidak pernah surut.

“Bagus sekali bapak sudah banyak belajar dari literatur dan lapangan, sudah banyak berdiskusi, tapi tanpa tulisan, studi doktoral bapak tidak akan selesai”, kata Prof. Luh Putu Mahyuni, Ph.D., CA., CSP., mengenang diskusinya dengan Chef I Made Ardika.

Perjalanan panjang tersebut akhirnya berbuah manis. Selain menyelesaikan disertasi lebih dari 1.000 halaman yang memadukan riset kualitatif, kuantitatif, dan mixed methods, Chef I Made Ardika juga berhasil menerbitkan dua artikel pada jurnal internasional bereputasi terindeks Scopus serta menyiapkan satu buku yang sedang dalam proses penerbitan.

Prof. Luh Putu Mahyuni, Ph.D., CA., CSP., mengungkapkan bahwa salah satu kekuatan terbesar Chef I Made Ardika adalah semangat belajar dan ketangguhannya dalam menghadapi tantangan. Dia selalu ingin belajar lagi dan memperbaiki.

Menurutnya, semangat itu berakar dari keinginan Chef I Made Ardika untuk menjadi teladan bagi putrinya serta dorongan kuat yang dalam budaya Bali dikenal sebagai jengah, motivasi positif untuk membuktikan kemampuan terbaik yang dimiliki seseorang.

Keberhasilan meraih gelar doktor menjadi pencapaian penting dalam perjalanan hidup Chef I Made Ardika. Prestasi ini sekaligus menjadi hadiah istimewa menjelang ulang tahunnya yang jatuh pada 7 Juni.

Bagi tim promotor dan sivitas akademika Undiknas, capaian tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan akademik, tetapi juga bukti bahwa ketekunan, semangat belajar, dan konsistensi dapat mengantarkan seseorang mencapai prestasi tertinggi di bidang yang ditekuninya.

Capaian Chef I Made Ardika telah membanggakan Almarhum Ayahanda I Wayan Loka tercinta, Ibunda Ni Wayan Suatri, Bapak Ibu mertua (I Putu Gede Gede Darmayasa, S.Pd.SD & Ni Nyoman Suadnyani), istri Ni Luh Putu Tariani S.Pd dan putri tercinta Ni Putu Divya Radika Loka yang menjadi support system pertama dan utama. Prestasi tersebut juga sangat membanggakan para kolega dan kawan seperjuangan PDIM, seluruh tim promotor yang telah menjadi bagian penting dari perjalanan studi doktoralnya, yakni Almarhum Prof Gede Sri Darma, S.T., M.M., CFP., D.B.A., IPU., ASEAN Eng, Prof. Luh Putu Mahyuni, Ph.D., CA., CSP., Prof Ida Ayu Oka Martini, dan Associate Prof Dr. Nina Eka Lestari.

“Harapan saya, pariwisata Bali ke depan tidak hanya bertumpu pada keindahan alam dan atraksi wisata semata, tetapi juga mampu mengoptimalkan kekuatan budaya lokal sebagai sumber pengalaman yang bermakna bagi wisatawan. Gastronomi Bali memiliki potensi besar untuk menjadi media pelestarian budaya, penguatan identitas daerah, sekaligus instrumen strategis dalam meningkatkan daya saing destinasi, ” ujar Chef Ardika.

Melalui pendekatan SNSI Framework (Symbolic–Narrative–Sensory–Interactive), dia berharap seluruh pemangku kepentingan pariwisata dapat menghadirkan pengalaman yang mengintegrasikan simbol budaya, cerita lokal, pengalaman sensorik, dan interaksi autentik dengan masyarakat.

Dengan demikian, wisatawan tidak hanya datang untuk berkunjung, tetapi juga membangun keterikatan emosional, kepuasan, dan loyalitas yang berkelanjutan terhadap Bali. Pada akhirnya, pariwisata Bali diharapkan tumbuh secara berkualitas, berkelanjutan, dan memberikan manfaat ekonomi, sosial, serta budaya bagi masyarakat lokal.

Chef Made Ardika Loka (Chef Adi) adalah seorang Executive Chef, praktisi gastronomi, dan pengembang pariwisata kuliner yang telah lama berkarya di persimpangan antara dapur profesional, budaya lokal, dan pengalaman wisata. Ia meyakini bahwa makanan bukan sekadar hidangan, melainkan ekspresi identitas, medium cerita, dan jembatan emosional antara manusia dan tempat.

Dengan latar belakang pendidikan di bidang manajemen produksi makanan, pariwisata, dan manajemen, Chef Adi mengembangkan pendekatan kuliner yang memadukan ketepatan teknik memasak, kepemimpinan dapur, dan visi strategis.

Dalam perjalanan kariernya, ia telah memimpin berbagai dapur hotel, resort, dan restoran, termasuk proyek pre-opening, pengembangan konsep menu, serta pembinaan tim kuliner.

Chef Adi dikenal melalui kontribusinya dalam mengangkat kuliner Bali dan Nusantara melalui pendekatan gastronomi berbasis budaya dan food storytelling. Ia menempatkan bahan lokal, teknik tradisional, dan filosofi Bali sebagai fondasi utama, kemudian meramunya dengan perspektif global agar relevan bagi wisatawan mancanegara tanpa kehilangan autentisitas.

Gaya memasaknya dicirikan oleh kesederhanaan yang berkarakter, keseimbangan rasa, dan penghormatan terhadap bahan. Selain menguasai kuliner Bali dan Indonesia, ia juga berpengalaman dalam kuliner Asia, Barat, dan fusion, dengan penekanan pada keberlanjutan dan tanggung jawab terhadap alam dan komunitas.

Di luar dapur, Chef Adi aktif berbagi pengetahuan melalui pelatihan, pendampingan, dan penulisan, khususnya terkait pariwisata gastronomi, pengembangan destinasi, dan diplomasi budaya melalui makanan. Pengalamannya di lapangan menjadi dasar refleksi kritis terhadap perubahan tren wisata dan perilaku wisatawan global.Melalui buku ini,

Chef Made Ardika Loka mengajak pembaca memahami bahwa gastronomi adalah lebih dari rasa: ia adalah pengalaman, cerita, dan strategi budaya yang mampu membangun keterikatan, kepercayaan, dan loyalitas wisatawan terhadap sebuah destinasi. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini