Foto: Turyapada Tower siap menjadi destinasi wisata kelas dunia dan sumber baru PAD baru Bali serta mendorong pemerataan pembangunan.
Buleleng, KabarBaliSatu
Pembangunan kawasan Turyapada Tower di Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng yang menjadi salah satu mahakarya pembangunan Bali di era Gubernur Bali Wayan Koster telah melalui kajian komprehensif serta juga mendapatkan dukungan penuh dari masyarakat sekitar.
Sebab memang progam ini tidak hanya bermanfaat memperluas akses siaran televisi di Bali Utara, tapi juga menciptakan pertumbuhan ekonomi Bali, mempercepat pemerataan pembangunan di Bali Utara termasuk yang terpenting juga menggerakkan ekonomi masyarakat lokal di sekitarnya.
Gubernur Bali Wayan Koster dalam keterangan persnya Senin 18 Mei 2026 menjelaskan lokasi dipilih berdasarkan kajian dari Tim Universitas Udayana (Unud) yaitu Tower yg mampu menjangkau siaran televisi mencapai minimum 85% di wilayah Bali Utara.
Lahan yang menjadi lokasi Turyapada Tower adalah lahan milik petani yg biasa menanam bunga, tanaman lain tidak cocok.
Luas lahan yg dibebaskan total 13,9 hektar dengan anggaran Rp. 63,4 miliar, tahap 1 seluas 6,6 hektar dengan anggaran Rp. 22,4 miliar dan tahap 2 seluas 7.3 hektar dengan anggaran Rp. 41,0 miliar.
Pembebasan lahan dilakukan sesuai aturan dan besaran harga ditentukan oleh lembaga independen yaitu Kantor Jasa Penilai Publik/KJPP serta atas kesepakan warga pemilik lahan berdasarkan musyawarah. “Penggunaan uang negara untuk pembebasan lahan diaudit oleh BPK, sehingga tidak boleh main-main dalam menentukan harga secara sepihak, ” tegas Gubernur Koster.
Pembangunan tahap 1 Turyapada Tower berupa Tower serta fasilitas berupa planetarium, restoran putar 360 derajat, sky walk, restoran statis, jembatan kaca, ruang konvention, dan tempat UMKM.
Pembangunan tahap1 sudah selesai, memerlukan total anggaran Rp 349,3 miliar.
Saat ini sedang berlangsung pembangunan tahap 2 berupa pemasangan interior, furnitur, penataan kawasan, fasilitas gondola dan jalan masuk, target selesai Nopember 2026, memerlukan total anggaran Rp 295,7 miliar.
Dengan demikian pembangunan kawasan Turyapada Tower memerlukan total anggaran Rp 645 miliar. Tower sudah mulai berfungsi yang dimanfaatkan oleh 30 stasiun televisi sehingga lebih dari 90% masyarakat Buleleng sudah bisa menerima siaran televisi tanpa antena parabola, bahkan sampai wilayah Jembrana.
Masyarakat Buleleng sudah sangat merasakan manfaat Turyapada Tower. Pemilik siaran televisi tidak perlu lagi repot-repot sewa/beli lahan dan membangun tower secara sendiri-sendiri, mengakibatkan banyaknya tower tersebar di sejumlah wilayah, tetapi dengan hadirnya Turyupada Tower, semua setasiun televisi cukup bekerjasama melalui pola sewa dengan Pemprov Bali.
Gubernur Koster menegaskan kawasan Turyapada Tower akan menjadi destinasi pariwisata baru berkelas dunia dan pusat pertumbuhan ekonomi baru di wilayah Bali utara dan berdampak di wilayah Bedugul sampai Wanagiri. Kawasan Turyapada Tower akan menjadi satu satunya objek wisata berkelas dunia di Indonesia, tidak kalah dengan Menara Eifel, Tokyo Tower, Toronto Tower.
Kawasan Turyapada Tower akan dikelola secara profesional oleh pihak ketiga guna menghasilkan pendapatan secara optimal, yang akan menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah/PAD untuk Pemerintah Provinsi Bali dan menjadi Pendapatan Asli Daerah/PAD melalui pajak Hotel dan Restoran untuk Pemerintah Kabupaten Buleleng.
Pemilihan pihak ketiga baru bisa dilaksanakan setelah pembangunan tahap2 mendekati selesai sehingga bisa dihitung potensi bisnis yg akan dikelola oleh pihak ketiga. “Dengan demikian pendapatan yang diperoleh dari pengelolaan kawasan akan mengembalikan anggaran yang dikeluarkan untuk pembangunan Kawasan Turyupada Tower dalam jangka waku kurang dari 10 Tahun, setelah itu akan menjadi sumber pendapatan Pemprov Bali untuk selamanya, ” terang Gubernur Koster.
Masyarakat lokal akan membentuk koperasi dan UMKM untuk berjualan di kawasan. Selain itu, anak-anak warga lokal mendapat prioritas mengikuti pendidikan dan pelatihan sesuai kompetensi dan keterampilan yg diperlukan agar bisa bekerja di kawasan. Bahkan tenaga kerja yang diperlukan saat ini, direkrut dari warga lokal.
“Dengan demikian, dipastikan bahwa warga lokal akan mendapat manfaat ekonomi dan menjadi tenaga kerja, tidak akan menjadi penonton,” kata Gubernur Koster.
Selain itu, rumah warga lokal sekitar 40 keluarga akan direnovasi menjadi rumah layak huni dan lebih berkualitas, sehingga harmonis dengan suasana Kawasan Turyupada Tower, dengan biaya penuh dari APBD Provinsi Bali.
Selain itu Pemerintah Provinsi Bali juga akan membangun Pura dan Wantilan sesuai permohonan Desa Adat Merta Sari, Desa Pegayaman, yang menjadi lokasi Kawasan Turyupada Tower, dengan anggaran dalam APBD Perubahan tahun 2026. (kbs)

