Foto: Gubernur Bali, Wayan Koster dalam sambutannya usai secara resmi memulai tahap program restorasi Parahyangan atau bangunan pura di kawasan suci Besakih melalui prosesi groundbreaking yang disertai upacara ngeruwak dan mulang dasar pada Jumat (1/5/2026) bertepatan dengan hari suci Purnama Jiyestha.
Karangasem, KabarBaliSatu
Penataan kawasan suci Besakih, Kabupaten Karangasem memasuki babak baru. Setelah tahap pertama menuntaskan pembangunan infrastruktur seperti area parkir, kios, dan fasilitas penunjang, kini Pemerintah Provinsi Bali melanjutkan ke tahap kedua: restorasi menyeluruh Parahyangan atau bangunan pura.
Sebanyak 30 pura akan direstorasi dengan pendekatan pelestarian yang ketat, mencakup struktur utama hingga pura penyangga kosmologi Besakih. Dari jumlah tersebut, 26 merupakan pelinggih utama di kawasan Pura Agung Besakih, sementara empat lainnya adalah pura pesemeton yang juga memiliki nilai sakral penting.
Langkah ini ditandai dengan prosesi peletakan batu pertama (groundbreaking) yang dipimpin Gubernur Bali Wayan Koster di Pura Banua Kawan, Jumat (1/5/2026). Prosesi tersebut dirangkaikan dengan upacara ngeruwak dan mulang dasar, bertepatan dengan hari suci Purnama Jiyestha.
Mimpi Lama yang Kini Terwujud
Di balik misi mulia penataan menyeluruh ini, tersimpan kisah personal. Gubernur Koster mengungkapkan, gagasan menata Besakih telah ia pikirkan sejak masih duduk di bangku SMA. Saat rutin tangkil sembahyang, ia tak hanya bersembahyang, tetapi juga mengamati kondisi fisik pura secara detail.
“Memang titiang sejak lama punya niat untuk menata kawasan ini jauh sebelum menjadi gubernur. Waktu karya Eka Dasa Ludra tahun 1979, waktu itu titiang masih di SMA Negeri 1 Singaraja, naik bus ramai-ramai ke Pura Besakih, terus tangkil sini,” kenangnya.
“Memang titiang kalau tangkil kesini ke pura ini tidak hanya mabhakti tapi melihat objek yang dihadapi, semua dan satu satu menjadi perhatian, diantaranya adalah pelinggihnya,” ujar Gubernur Koster.
Menurutnya, saat itu banyak pelinggih berdiri tanpa keseragaman—material berbeda-beda, warna tak selaras, hingga ornamen yang tidak harmonis. Bahkan, ada bangunan yang terlihat lapuk, reot berjamur, dan tidak terawat.
Kondisi tersebut terjadi karena pembangunan pura selama ini dilakukan secara parsial, bergantung pada kemampuan masing-masing daerah atau donatur. Tanpa standar arsitektur yang jelas, hasilnya menjadi beragam dan cenderung semrawut.
“Karena rupanya memang ada tanggung jawab kabupaten. Tergantung kabupatennya, kalau punya uang, bagusan dia. Kalau enggak punya uang dibiarkan sampai rusak. Itu kan timpang jadinya, sampai jamuran, ada yang reot gitu. Jadi warnanya beda beda. motifnya beda beda, semrawut, tidak tertata dengan baik,” ungkap Gubernur Koster.
“Secara keseluruhan tidak mencerminkan keharmonisan dengan keagungan Gunung Agung,” ujarnya, merujuk pada Gunung Agung sebagai latar sakral kawasan Besakih.
Dari Parkir Semrawut ke Tertata Rapi
Begitu menjabat gubernur Bali periode pertama di periode tahun 2018-2023, Guubernur Koster memprioritaskan pembenahan akses dan parkir. Sebelumnya, kawasan Besakih dikenal dengan kemacetan parah, terutama saat upacara besar seperti Ida Bhatara Turun Kabeh (IBTK).
Kendaraan saling berhimpitan, akses masuk tersendat, bahkan tak jarang umat harus berhenti di tengah perjalanan karena tak mampu mencapai lokasi pura.
Perubahan mulai terasa sejak diresmikannya fasilitas parkir pada 13 Maret 2023 yang diresmikan langsung Presiden Joko Widodo. Penataan lalu lintas dan parkir dilakukan secara sistematis melalui surat edaran gubernur. Hasilnya, pelaksanaan upacara besar tahun 2023 berjalan jauh lebih tertib tanpa kemacetan berarti.
Restorasi 30 Pura, Jaga Harmoni dan Kesucian
Tahap kedua kini difokuskan pada restorasi 30 pura di kawasan Besakih. Program ini mencakup pelinggih utama hingga pura-pura penyangga dalam struktur kosmologi Bali. Dalam tatanan Catur Lokapala, restorasi dilakukan di Pura Gelap (timur), Pura Kiduling Kreteg (selatan), Pura Ulun Kulkul (barat), dan Pura Batu Madeg (utara).
Pada struktur Catur Eswarya, penataan menyasar Pura Pasimpangan dan Pura Paninjoan. Sementara lapisan Pura Catur Lawa mencakup Pura Ratu Dukuh, Pura Ratu Pasek, Pura Ratu Panyarikan, Pura Ratu Pandhe, serta Pura Ida Ratu Pesimpenan.
Penataan juga menjangkau Huluning Pura dan Kahyangan Jagat lainnya seperti Pura Basukian Puseh Jagat, Pura Goa Raja, Pura Dalem Prajapati Hyang Aluh, Pura Bangun Sakti, hingga Pura Tirta Wasuki dan Pura Tirta Pengayu-ayu.
Gubernur Koster menegaskan, pendekatan yang digunakan bukan sekadar rehab, melainkan restorasi. Artinya, bangunan akan dikembalikan ke bentuk aslinya dengan standar material dan estetika yang seragam.
Material tradisional seperti kayu dan atap ijuk tetap dipertahankan, sementara ukiran akan disesuaikan dengan karakter masing-masing pelinggih.
“Ini bukan sekadar proyek fisik, tapi upaya menjaga harmoni dan kesucian,” tegasnya.
Dukungan Rp 203 Miliar dari Pemkab Badung dan Semangat Kolektif
Proyek tahap kedua ini didukung anggaran sebesar Rp203 miliar melalui Bantuan Keuangan Khusus dari Pemerintah Kabupaten Badung. Gubernur Koster menyebut kontribusi tersebut sebagai bentuk tanggung jawab bersama.
Ia menekankan bahwa Bali bukan milik satu wilayah, melainkan warisan kolektif yang harus dijaga bersama.
“Jika Besakih terawat dengan baik, manfaatnya akan dirasakan seluruh Bali,” ujarnya.
Dengan dimulainya tahap restorasi ini, wajah Besakih perlahan berubah—dari kawasan yang sempat tampak tidak seragam, menjadi pusat spiritual yang tertata, harmonis, dan selaras dengan nilai-nilai sakral yang diusungnya. (kbs)

