Foto: Suasana prosesi upacara sakral Manusa Yadnya Tigang Oton atau Mepetik yang dijalani Anak Agung Gde Agung Barananta Askara Indra (Gungde Bara) di Puri Agung Kendran, Tegalalang, Gianyar, Jumat (17/4/2026).
Gianyar, KabarBaliSatu
Upacara sakral Manusa Yadnya Tigang Oton-Mepetik yang dijalani Anak Agung Gde Agung Barananta Askara Indra—akrab disapa Gungde Bara—berlangsung khidmat dan penuh nuansa kekeluargaan di Puri Agung Kendran, Tegalalang, Gianyar, Jumat (17/4/2026). Tradisi ini menjadi penanda penting dalam perjalanan spiritual seorang anak Bali, sekaligus wujud doa dan harapan keluarga besar.
Gungde Bara merupakan putra kedua dari pasangan Anak Agung Pratidhwana Ananta Indra dan Anak Agung Ayu Agung Candra Dewi. Ia juga cucu dari dua garis keluarga besar puri yang sarat nilai budaya dan spiritual yakni A.A.G.A. Indra Wirawan dan Anak Agung Ayu Rai Wahyuni serta Anak Agung Bagus Ngurah Agung dan Anak Agung Ngurah Tini Rusmini Gorda, menjadikan upacara ini tak hanya bersifat personal, tetapi juga penuh makna genealogis dan adat.
Prosesi Tigang Oton kali ini dipuput oleh sulinggih Ida Pedanda Manggis Putra Jelantik, dengan dihadiri kerabat, tokoh masyarakat, serta undangan dari berbagai latar belakang yang turut memberikan doa restu.
Tuan rumah, A.A.G.A. Indra Wirawan yang juga kakek dari Gungde Bara menjelaskan bahwa Tigang Oton merupakan puncak dari rangkaian upacara sejak kelahiran. Setelah melalui fase tiga bulanan dan otonan sebelumnya, pada tahap ini dilakukan prosesi “mepetik” atau pemotongan rambut hingga habis. Ritual tersebut dimaknai sebagai simbol pembersihan diri dari unsur-unsur kotor, sekaligus penyucian untuk menyongsong kehidupan yang lebih baik di masa depan.
“Maknanya adalah melebur segala hal yang bersifat kotor dalam diri, agar ke depan ia dapat menjalani kehidupan dengan lebih baik,” ungkapnya.
Sementara itu, Ida Pedanda Manggis Putra Jelantik menegaskan bahwa Tigang Oton merupakan bagian dari Manusa Yadnya yang memiliki tahapan beragam, dari yang sederhana hingga besar seperti yang dilaksanakan di lingkungan puri. Menurutnya, esensi utama dari upacara ini adalah memohon keselamatan, kesehatan, dan kekuatan bagi sang anak kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta para leluhur.
“Upacara ini adalah doa agar anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, kuat, dan sehat, serta menjadi generasi penerus yang unggul,” jelasnya.
Dukungan dan doa juga datang dari berbagai pihak. Ketua Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Bali, Dewa Ayu Supartini, yang turut hadir, menyampaikan bahwa setiap fase kehidupan anak dalam tradisi Hindu selalu diiringi upacara sebagai bentuk restu dan perlindungan spiritual.
“Dari tiga bulanan, enam bulanan, hingga tiga otonan, semua adalah rangkaian doa agar anak tumbuh sehat, sejahtera, dan sesuai harapan keluarga,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Komunitas Perempuan Bali Utara yang turut memberikan ucapan selamat dan doa terbaik. “Semoga Gungde Bara senantiasa sehat, rahayu, dan menjadi generasi yang membanggakan,” ucap mereka.
Di tengah gemuruh modernitas, Tigang Oton Gungde Bara menjadi pengingat bahwa tradisi bukan sekadar ritual, melainkan napas kehidupan yang menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas. Sebuah warisan yang terus hidup, mengalir dari generasi ke generasi. (kbs)

