BerandaDaerahLahirkan Maestro Baru dengan Pendekatan Pentahelix, Supadma Rudana Perkuat Diplomasi Budaya Indonesia...

Lahirkan Maestro Baru dengan Pendekatan Pentahelix, Supadma Rudana Perkuat Diplomasi Budaya Indonesia lewat Panggung Seni

Foto: President The Rudana Art Institution sekaligus Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia Putu Supadma Rudana bersama Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Prof. Wayan Kun Adnyana dalam pameran seni lukis kontemporer “Parama Paraga” di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali.

Denpasar, KabarBaliSatu

President The Rudana Art Institution sekaligus Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia Putu Supadma Rudana secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, I Wayan Kun Adnyana, untuk mencapai level maestro—tingkatan tertinggi dalam dunia seni rupa.

Dukungan tersebut diwujudkan melalui keterlibatannya sebagai inisiator sekaligus konseptor dalam program kolaboratif “Kirtya Jnana Kawya”, yang menyinergikan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, ISI Bali, dan The Rudana Art Institution. Program ini menjadi ruang bersama untuk memperluas apresiasi seni sekaligus memperkuat diplomasi budaya Indonesia.

Serangkaian program “Kirtya Jnana Kawya” ini digelar pameran seni lukis kontemporer “Parama Paraga” di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali yang secara resmi oleh Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana pada Rabu (25/3/2026). Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi antara pemerintah, akademisi, hingga pelaku industri pariwisata dan seni dalam satu panggung kolaborasi untuk memperkuat pengembangan kebudayaan nasional.

“Kerja sama harus terus dijalin untuk memuliakan pencapaian budaya bangsa,” ujar Supadma Rudana.

Ia juga menegaskan, pendekatan yang dibangun dalam program ini mengadopsi konsep Penta Helix—yakni kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media. Pendekatan ini diyakini mampu mendorong lahirnya ekosistem ekonomi budaya yang berkelanjutan.

“Pembangunan ekonomi budaya tidak bisa berjalan sendiri. Harus ada dukungan regulasi, pendanaan, dan ekosistem yang kondusif,” jelasnya.

Sebagai tindak lanjut, The Rudana Art Institution bersama ISI Bali tengah menyiapkan pameran retrospektif tunggal karya I Wayan Kun Adnyana yang dijadwalkan berlangsung pada Juni 2026 di Museum Rudana, Ubud. Pameran bertajuk “Parama Paraga” ini akan menjadi pameran tunggal ke-19 Kun Adnyana, sekaligus penanda perjalanan panjangnya di dunia seni rupa.

Supadma Rudana menuturkan, hubungan Kun Adnyana dengan Rudana telah terjalin sejak masa mudanya, ketika masih menjadi siswa Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Batubulan pada pertengahan 1990-an. Sejak saat itu, karakter artistiknya telah terlihat, terutama dalam eksplorasi garis yang kemudian berkembang menjadi ciri khasnya.

Perjalanan artistik tersebut semakin matang ketika Kun Adnyana melanjutkan studi magister di Institut Seni Indonesia Yogyakarta pada 2006. Dari fase itu lahir berbagai seri karya yang terus berkembang hingga kini.

Dalam seri “Guwung Suwung”, eksplorasi garis bertransformasi menjadi goresan warna yang ekspresif, spontan, dan penuh energi. Sementara dalam seri “Panggung Punggung”, ia menghadirkan komposisi garis yang kompleks dengan muatan refleksi sosial yang kuat.

Kedua seri ini akan menjadi bagian penting dalam pameran retrospektif yang tidak hanya digelar di Museum Rudana, tetapi juga di ruang kreatif kampus ISI Bali melalui “Nata-Citta Art Space”. Konsep ini menjadi simbol kembalinya perjalanan kreatif Kun Adnyana ke akar akademiknya.

Menurut Supadma Rudana, pemilihan Kun Adnyana sebagai tokoh retrospektif bukan tanpa alasan. Ia menilai Kun Adnyana sebagai sosok akademisi yang lengkap—produktif berkarya di tengah berbagai tanggung jawab publik, mulai dari peneliti, birokrat, hingga pimpinan institusi.

“Capaian Prof Kun Adnyana menjadi inspirasi bagi generasi muda seni rupa Indonesia,” katanya.

Ia menilai, perjalanan lebih dari dua dekade telah membawa Kun Adnyana pada kematangan artistik, terutama dalam karya-karya abstrak yang sarat energi visual dan kedalaman filosofis—ciri khas seorang maestro.

“Ini momentum bagi Kun Adnyana untuk melangkah menuju capaian baru sebagai maestro,” tegasnya.

Supadma Rudana juga menyoroti pentingnya seni sebagai instrumen diplomasi budaya. Pengalamannya sejak 1990-an, saat aktif membawa karya seni Indonesia ke kota-kota seperti Washington DC, New York, hingga Florida, menjadi bukti bahwa seni mampu menembus batas negara.

Kini, ia ingin kembali menggaungkan diplomasi seni dengan mendorong Kun Adnyana tampil di panggung nasional hingga internasional.

“Saya melihat vibrasi karya Kun Adnyana sangat kuat. Ini bukan hanya soal teknik, tetapi perjalanan batin yang terakumulasi dalam karya,” ujarnya.

Dalam pameran di ISI Bali, puluhan karya Kun Adnyana telah ditampilkan sebagai representasi perjalanan 20 tahun berkesenian. Agenda ini menjadi pengantar menuju pameran besar di Ubud pada pertengahan 2026.

Supadma Rudana menargetkan sekitar 100 karya abstrak bertema “Guwung Suwung” akan ditampilkan. Ia optimistis karya-karya tersebut memiliki daya tarik kuat bagi publik dan kolektor.

“Karya-karya ini memiliki kekuatan goresan, warna, dan energi yang lahir dari proses panjang,” jelasnya.

Di akhir, ia mengajak masyarakat untuk mulai mencintai dan mengoleksi karya seni dalam negeri sebagai bagian dari kebanggaan nasional.

“Sudah saatnya kita bangga dengan karya sendiri. Ini waktunya mengoleksi masterpiece Indonesia,” pungkasnya, seraya berharap Kun Adnyana tak hanya meraih status maestro, tetapi juga menjadi simbol kebangkitan seni rupa Indonesia di panggung global. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini