BerandaDaerahDemer Soroti Stunting di Bali, Dorong Posyandu Lebih Gencar Edukasi Ibu Hamil...

Demer Soroti Stunting di Bali, Dorong Posyandu Lebih Gencar Edukasi Ibu Hamil dan Keluarga

Begini Upaya Demer Cetak Generasi Emas Sejak Dalam Kandungan

Foto: Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai Golkar dari Dapil Bali, Gde Sumarjaya Linggih yang akrab disapa Demer saat menggelar edukasi bertajuk “Edukasi Awal Kehidupan: Persiapan Ibu, Persalinan dengan Hypnobirthing, hingga Nutrisi Anak” di Karangasem, Minggu (15/3/2026).

Denpasar, KabarBaliSatu

Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai Golkar dari Dapil Bali, Gde Sumarjaya Linggih yang akrab disapa Demer, menyoroti persoalan stunting yang masih terjadi di sejumlah wilayah di Bali, termasuk Karangasem. Ia menilai pencegahan stunting harus dilakukan lebih serius melalui edukasi yang masif kepada ibu hamil, keluarga muda, hingga masyarakat yang memiliki balita.

Pernyataan itu disampaikan Demer saat menghadiri podcast Koplar belum lama ini. Dalam kesempatan tersebut, Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Bali itu menegaskan bahwa stunting menjadi persoalan penting karena menyangkut kualitas generasi penerus bangsa.

Menurut Demer, persoalan stunting tidak bisa dipandang sepele. Ia menyebut angka stunting masih menyentuh sekitar 13 persen generasi muda, sehingga perlu langkah nyata agar masalah tersebut tidak terus berlanjut. Karena itu, ia mengaku aktif menggelar kegiatan sosialisasi untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang cara mencegah stunting sejak dini.

Dalam kegiatan itu, Demer menggandeng tenaga medis untuk memberikan edukasi langsung kepada masyarakat. Sasaran sosialisasi difokuskan pada ibu hamil, pasangan yang belum memiliki anak, serta keluarga yang memiliki anak di bawah usia dua tahun. Ia menilai kelompok-kelompok ini menjadi titik paling penting dalam upaya pencegahan stunting.

Politisi senior Golkar asal Desa Tajun, Kabupaten Buleleng itu mengatakan, antusiasme masyarakat dalam kegiatan sosialisasi yang digelar di Karangasem sangat tinggi. Banyak peserta datang untuk bertanya mengenai pola makan, kebutuhan gizi selama kehamilan, pentingnya ASI, hingga peran suami dalam mendukung kesehatan ibu dan anak.

Menurutnya, tingginya minat masyarakat untuk bertanya menunjukkan masih banyak informasi dasar mengenai gizi dan kesehatan ibu-anak yang belum sepenuhnya dipahami. Ia melihat persoalan utama bukan semata kekurangan makanan, melainkan kurangnya pemahaman mengenai apa yang dimaksud dengan gizi seimbang.

“Banyak yang mengira makan banyak itu pasti baik, padahal belum tentu. Ada yang merasa harus makan berlebihan saat hamil, padahal yang dibutuhkan adalah gizi yang tepat dan seimbang,” ujar wakil rakyat yang sudah lima periode berjuang di DPR RI itu.

Ia mencontohkan, masih ada anggapan bahwa kenaikan berat badan yang tinggi selama kehamilan selalu menjadi tanda baik. Padahal, menurut materi yang disampaikan tim medis dalam sosialisasi tersebut, pola makan selama kehamilan seharusnya tetap terukur, cukup, dan tidak berlebihan. Demer juga menegaskan pentingnya pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama setelah kelahiran, serta melanjutkan menyusui hingga usia dua tahun.

Bagi Demer, pencegahan stunting harus dimulai dari fase paling awal kehidupan, bahkan sejak masa kehamilan. Dengan cara itu, kualitas sumber daya manusia Indonesia dapat dibangun sejak dari akar. Ia menilai cita-cita menuju Indonesia Emas tidak akan tercapai bila kesehatan dan kualitas generasi muda tidak dipersiapkan secara serius dari sekarang.

Selain itu, Demer menyoroti peran Posyandu yang dinilainya harus kembali diperkuat sebagai garda terdepan dalam edukasi kesehatan masyarakat. Menurutnya, Posyandu seharusnya lebih aktif dan lebih gencar dalam melakukan penyuluhan, terutama di tengah masih banyaknya masyarakat yang belum memahami pola asuh dan pola makan yang tepat untuk mencegah stunting.

Ia menilai pemerintah masih perlu meningkatkan upaya pencegahan di lapangan, bukan hanya dalam bentuk program, tetapi juga melalui komunikasi yang lebih dekat dengan masyarakat. Edukasi yang sederhana, berulang, dan mudah dipahami dinilai menjadi kunci agar pesan kesehatan benar-benar sampai kepada keluarga.

Dalam perbincangan itu, Demer juga mengaitkan persoalan stunting dengan tantangan besar pembangunan sumber daya manusia di Indonesia. Menurutnya, Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam, sehingga harus diimbangi dengan kualitas manusia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.

Karena itu, ia menilai pembangunan manusia tidak kalah penting dibanding pembangunan infrastruktur. Kekayaan alam yang melimpah, katanya, hanya akan menjadi potensi yang belum optimal jika tidak didukung oleh generasi yang sehat dan memiliki kemampuan yang baik.

Di sisi lain, Demer juga menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai kebangsaan melalui sosialisasi Empat Pilar, yakni Pancasila, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, dan UUD 1945. Ia menyebut, keberagaman Indonesia harus terus dirawat agar persatuan tetap terjaga seiring upaya membangun bangsa yang lebih maju.

Menurut Demer, Bali sejauh ini telah menunjukkan contoh yang baik dalam merawat toleransi di tengah keberagaman. Ia pun meyakini semangat persatuan, jika dibarengi dengan pembangunan sumber daya manusia yang kuat, akan menjadi fondasi penting bagi masa depan Indonesia.

Dengan menempatkan isu stunting sebagai perhatian utama, Demer berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gizi, kesehatan ibu-anak, dan peran keluarga dalam mencegah stunting semakin meningkat. Ia juga mendorong agar Posyandu, tenaga kesehatan, dan pemerintah bergerak lebih aktif agar lahir generasi Bali yang lebih sehat dan berkualitas. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini