BerandaDaerahArak Bali Terjual Lebih dari 7000 Botol dalam Sebulan di Bandara Ngurah...

Arak Bali Terjual Lebih dari 7000 Botol dalam Sebulan di Bandara Ngurah Rai, Kalahkan Merek Internasional

Gubernur Koster: Arak Bali Jadi Spirit Ketujuh Dunia

Foto: Gubernur Bali, Wayan Koster menghadiri peringatan Hari Arak ke-6 di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Kamis (29/1/2026).

Badung, KabarBaliSatu

Bali kini menegaskan posisinya sebagai daerah yang berhasil mengangkat arak lokal dari produk tradisional menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 58 produk arak Bali telah beredar secara legal, dengan proses produksi yang melibatkan sedikitnya 1.472 petani dan perajin arak di berbagai wilayah Pulau Dewata.

Gubernur Bali I Wayan Koster mengungkapkan, salah satu pencapaian membanggakan adalah keberhasilan arak Bali menembus pasar bandara internasional. Bahkan, produk lokal tersebut mampu bersaing dan mengungguli merek minuman beralkohol kelas dunia.

“Saya pernah berangkat ke luar negeri dan melihat langsung di area keberangkatan internasional Bandara I Gusti Ngurah Rai ada produk arak Bali milik PT Lovina. Ternyata produk itu best seller, mengalahkan Red Label yang sudah mendunia,” ujar Koster saat Peringatan Hari Arak Bali ke-6 Tahun 2026 di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Kamis (29/1/2026) malam.

Menurutnya, arak Bali laris manis di gerai duty free. Dalam sebulan, penjualan arak Bali di bandara bisa mencapai 3.000 hingga 4.000 liter, atau setara 6.000 sampai 7.000 botol.

Koster menilai, lonjakan produksi dan kualitas arak Bali mulai terasa signifikan sejak diterbitkannya Peraturan Gubernur Bali Nomor 1 Tahun 2020, yang mengatur tata kelola minuman fermentasi dan distilasi khas Bali. Sejak 2022, perkembangan industri arak kian pesat, baik dari sisi jumlah produksi maupun kualitas kemasan yang semakin modern dan kompetitif.

Tak hanya berdampak pada ekonomi rakyat, Koster juga menyinggung peran arak Bali pada masa pandemi Covid-19. Ia menyebut, konsumsi arak Bali secara tertib dan terukur, salah satunya dicampur kopi tanpa gula, sempat menjadi perbincangan luas di masyarakat.

“Waktu itu saya mendapat masukan dari masyarakat Karangasem, bahwa arak jika diminum dengan benar—setengah sloki, tidak untuk mabuk—bahkan dicampur kopi tanpa gula, itu bagus untuk daya tahan tubuh. Saya endorse karena saya pikir ini soal ekonomi rakyat,” katanya.

Koster mengakui, pernyataannya kala itu sempat menuai kritik. Namun ia menegaskan tidak gentar, karena tujuannya adalah melindungi dan menggerakkan ekonomi petani serta perajin arak Bali.

Hingga kini, Koster mengaku rutin mengonsumsi kopi campur arak tanpa gula sebanyak tiga kali sehari, pada pagi, siang, dan sore. Menurutnya, kebiasaan itu membuat tubuh tetap segar dan bugar.

“Saya bisa kerja sampai malam, tidak cepat lelah, dan paling penting jarang flu. Kata profesor kesehatan, pH arak Bali itu tinggi, sekitar 12, sedangkan virus rata-rata pH-nya 7. Tapi ini bukan untuk mabuk. Kalau mabuk, itu salah sendiri. Minumnya harus tertib,” tegasnya.

Sementara itu, Kadek Sudantara (35), perajin sekaligus penjual arak Bali asal Desa Adat Ngis, Kabupaten Buleleng, menyebut kualitas arak Buleleng memiliki kekhasan tersendiri. Menurutnya, bahan baku sangat menentukan cita rasa dan karakter arak.

“Arak Bali ada yang terbuat dari ental, jaka, dan kelapa. Di Buleleng, khususnya wilayah timur seperti Tejakula, bahan yang paling banyak digunakan adalah ental. Dari pengalaman saya, arak ental itu kualitasnya paling bagus,” ujarnya.

Sudantara menjelaskan, arak berbahan ental memiliki tingkat kekuatan mirip arak kelapa, namun dengan rasa yang lebih lembut. Sebaliknya, arak kelapa cenderung membuat peminumnya lebih cepat mabuk.

Dari sisi harga, arak Bali dijual bervariasi sesuai kadar alkohol dan proses pembuatannya. Arak dengan kadar alkohol 20–25 persen biasanya dijual seharga Rp20.000 per botol ukuran 600 mililiter. Sementara arak dengan kadar hingga 30 persen bisa dibanderol Rp40.000 per botol.

“Perbedaan harga tergantung prosesnya. Ada yang pakai kayu bakar, ada yang kompor. Alatnya juga beda, ada bambu, ada pipa. Kalau pakai bambu panjang, rasanya lebih halus dan itu memengaruhi harga,” jelasnya.

Ia pun mengakui, sebelum adanya regulasi yang jelas, para perajin arak sempat khawatir memasarkan produknya secara terbuka. Kini, dengan payung hukum yang ada, para perajin lebih berani berkembang.

“Intinya jangan berlebihan. Apa pun kalau berlebihan tidak baik. Arak Bali itu budaya dan ekonomi rakyat, bukan untuk mabuk,” pungkas Sudantara. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini