Foto: Gubernur Bali Wayan Koster bersama para pejabat tos arak dalam peringatan Hari Arak Bali Tahun 2026 di The Westin Resort Nusa Dua, Mangupura Hall, Kabupaten Badung, Kamis (29/1/2026).
Badung, KabarBaliSatu
Ada yang berubah dari cara Bali memperlakukan arak. Dulu ia disita dalam razia, diproduksi sembunyi-sembunyi, dan kerap dilekatkan pada citra kumuh. Kini, ia dituang di gelas kristal hotel bintang lima, ditampilkan dalam forum resmi, dan disebut-sebut sebagai calon spirit ketujuh dunia.
Perubahan drastis itu tidak lahir tiba-tiba. Di belakangnya ada satu proyek politik yang dirancang rapi dan dijalankan konsisten, yaitu proyek Arak Bali ala Wayan Koster.
Langkah paling menentukan terjadi pada tahun 2020 lewat Pergub Bali Nomor 1 Tahun 2020. Di titik ini, Koster tidak sekadar membuat aturan minuman tradisional. Ia sedang mengubah status sosial sebuah produk budaya.
Arak yang sebelumnya berada di wilayah abu-abu ditoleransi dalam adat tapi dipersoalkan dalam hukum yang ditarik masuk ke sistem resmi. Produksi harus berstandar, peredaran diatur, kualitas diuji. Negara tidak lagi memusuhi, melainkan mengelola.
Dampaknya bukan hanya administratif. Legalisasi ini memindahkan arak dari ekonomi sembunyi-sembunyi ke ekonomi kerakyatan yang diakui. Petani nira, penyuling tradisional, dan koperasi mulai punya posisi tawar. Arak tak lagi sekadar untuk prosesi adat, tapi komoditas bernilai.
Pada Hari Arak Bali 2026, panggung seremoni menghadirkan simbol penting, yaitu izin produksi industri dari Kementerian Perindustrian. Gubernur menyebutnya kado manis di hari ulang tahun Arak Bali ke 6.
Namun banyak publik belum paham, izin pusat tidak lahir dari ruang hampa. Ini adalah buah dari narasi yang terus didorong Koster ke Jakarta, bahwa arak Bali bukan masalah sosial, melainkan aset budaya yang layak dibina sebagai industri. Ketika izin itu akhirnya turun, yang disahkan bukan hanya pabrik, tapi visi pembangunan berbasis kearifan lokal.
Dengan izin tersebut, Pemprov Bali menyiapkan skema kelembagaan melalui Perumda Kertha Bali Saguna dan entitas usaha daerah untuk menaungi koperasi produsen. Arah Bali kebijakannya jelas, produksi dibesarkan, tapi tetap dibingkai sebagai ekonomi rakyat, bukan monopoli korporasi besar.
Yang membuat proyek ini berbeda dari sekadar industrialisasi minuman adalah cara Koster membingkainya. Arak Bali tidak dijual sebagai alkohol, tapi sebagai identitas Bali. Ia disandingkan dengan pariwisata, budaya, bahkan diplomasi ekonomi.
Pernyataan menjadikan Arak Bali sebagai spirit ketujuh dunia mungkin terdengar hiperbolik. Namun dalam logika branding global, visi besar adalah alat mobilisasi. Bali selama ini dikenal lewat alam dan budaya visual. Kini Koster mencoba menambah satu elemen yaitu rasa dalam botol.
Langkah-langkahnya pun dibuat sistemik, hari peringatan resmi, perlindungan kekayaan intelektual, penguatan koperasi, sampai rencana penanaman kelapa genjah untuk menjamin pasokan bahan baku. Ini menunjukkan bahwa arak diposisikan bukan sekadar produk hilir, tapi bagian dari arsitektur ekonomi jangka panjang.
Namun di balik euforia seremoni, tantangan besar menunggu. Pasar global tidak membeli cerita, tapi konsistensi kualitas. Standar keamanan pangan, stabilitas rasa, kemasan, distribusi, hingga cukai internasional adalah medan yang jauh lebih keras daripada panggung pidato.
Jika mutu tak terjaga, branding spirit dunia bisa runtuh menjadi slogan kosong. Jika tata kelola koperasi lemah, ekonomi masyarakat bisa kembali tersisih oleh pemain besar. Di titik ini, proyek arak Bali memasuki fase paling krusial, pembuktian.
Apa pun hasil akhirnya, satu hal sudah terjadi, Wayan Koster berhasil mengubah posisi arak dalam imajinasi publik Bali. Dari produk pinggiran menjadi simbol kebanggaan. Dari yang dulu disembunyikan menjadi yang kini dipamerkan.
Hari Arak Bali ke 6 Tahun 2026 bukan sekadar perayaan tahunan. Ia adalah penanda bahwa Bali sedang mencoba menulis bab baru, ketika warisan desa tidak hanya dilestarikan, tetapi dipertaruhkan di pasar dunia.
Dan di sanalah letak pertaruhan terbesar Koster bukan hanya pada arak, tetapi pada gagasan bahwa kearifan lokal bisa menjadi kekuatan global, jika negara berani berdiri di belakangnya. (kbs)

