Foto: Acara pengukuhan pengurus Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) BPD Bali periode 2025–2030 yang dirangkaikan dengan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) I Tahun 2026, bertempat di Gedung Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali, Jumat (23/1/2026).
Denpasar, KabarBaliSatu
Pengusaha restoran Sitara, Sonia Kaur, menyampaikan apresiasinya atas kepercayaan yang diberikan kepadanya terpilih menjadi Ketua Pengurus Restaurants Waralaba Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Bali. Dalam perannya tersebut, Sonia menegaskan komitmennya untuk mendorong pengembangan sektor waralaba melalui tiga pilar utama, yakni standardisasi, digitalisasi, dan kolaborasi.
Komitmen itu disampaikan Sonia di sela-sela acara pengukuhan pengurus PHRI BPD Bali periode 2025–2030 yang dirangkaikan dengan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) I Tahun 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali, Jumat, 23 Januari 2026.
Sonia menjelaskan, penguatan sektor franchise di Bali akan difokuskan pada sinergi organisasi, peningkatan kapasitas melalui pelatihan, serta kolaborasi lintas pelaku usaha yang adaptif terhadap dinamika pasar pariwisata. Strategi ini dinilai sejalan dengan peran PHRI sebagai wadah advokasi dan penguatan jaringan hotel serta restoran di Bali.
Melalui PHRI, pelaku usaha mendapatkan akses jaringan bisnis yang luas, pelatihan profesional, hingga advokasi kebijakan. Potensi pengembangan franchise di sektor pariwisata pun terbuka lebar, termasuk melalui kerja sama dengan produk lokal guna memperkuat rantai pasok restoran waralaba.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mendorong promosi bersama sekaligus pemerataan destinasi wisata di Bali, sehingga ekspansi franchise tidak terpusat di wilayah tertentu saja. Sonia juga menekankan pentingnya adaptasi lokal dan inovasi, seperti penyesuaian menu dengan cita rasa khas Bali serta kolaborasi dengan chef lokal, guna meningkatkan daya tarik bagi wisatawan maupun masyarakat lokal.
Selain itu, pemanfaatan digitalisasi, influencer lokal, serta kolaborasi dengan komunitas UMKM dinilai penting untuk menciptakan pengalaman pelanggan yang unggul, terutama di kawasan wisata seperti Denpasar dan Ubud. Langkah ini diyakini dapat meningkatkan daya saing franchise kuliner Bali yang diproyeksikan terus tumbuh pada 2026.
Dalam bidang pengembangan sumber daya manusia, PHRI akan memfasilitasi pelatihan profesional dan sesi berbagi antar-brand waralaba. Program ini bertujuan meningkatkan kompetensi tenaga kerja lokal agar siap bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Sonia juga menegaskan pentingnya standardisasi layanan, khususnya dalam penerapan standar operasional prosedur (SOP) dan sanitasi yang konsisten, guna menjaga kualitas layanan serta reputasi pariwisata Bali. Di sisi lain, sinergi dengan vendor dan pemasok lokal akan terus diperkuat untuk menciptakan rantai pasok yang efisien dan berkelanjutan.
Dengan pendekatan tersebut, PHRI Bali diharapkan mampu menjadi motor penggerak pertumbuhan waralaba yang berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan, sekaligus memberi dampak positif bagi perekonomian dan pariwisata Bali. (kbs)

