Foto: Suasana acara Rembuk Pemuda Bali Woman Empowerment Symposium 2026 bertema “Perempuan dan Pemuda Cakap Keuangan” di Gedung Dharma Negara Alaya (DNA Art & Creative Hub), Denpasar, Sabtu (3/1/2026).
Denpasar, KabarBaliSatu
Banyak inspirasi dan gagasan segar lahir dari gelaran Rembuk Pemuda Bali Woman Empowerment Symposium 2026 bertema “Perempuan dan Pemuda Cakap Keuangan” yang berlangsung di Gedung Dharma Negara Alaya (DNA Art & Creative Hub), Denpasar, Sabtu (3/1/2026). Forum ini menjadi ruang temu ide antara pemuda, perempuan, pengusaha, legislator, dan pegiat sosial untuk membangun masa depan Bali yang lebih berdaya secara ekonomi dan mental.
Acara ini menghadirkan narasumber lintas sektor, yakni Ketua DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Bali Dr. Gung Tini Gorda, Anggota Komisi IX DPR RI Dapil Bali Tutik Kusuma Wardhani, serta Ketua Tanam Tuwuh Bali Diana Putri yang juga merupakan putri Wakil Gubernur Bali Nyoman Giri Prasta. Turut hadir Koordinator Rembuk Pemuda Bali I Gusti Agung Ayu Bintang Maharani Putri, dengan diskusi dipandu oleh moderator Ida Ayu Ketut Weda Astuti.
Acara ini menjadi ruang refleksi sekaligus penyemangat bahwa perempuan dan pemuda Bali memiliki peran strategis dalam membangun ekonomi yang inklusif, berdaya saing, dan berakar pada nilai-nilai lokal.
Koordinator Rembuk Pemuda Bali, I Gusti Agung Ayu Bintang Maharani Putri, menegaskan bahwa forum ini dirancang sebagai ruang edukasi yang membumi dan relevan dengan tantangan generasi muda saat ini. Tidak hanya membahas literasi keuangan, rembuk pemuda juga menyoroti pentingnya kesehatan mental, kewirausahaan, hingga legalitas usaha.
“Rembuk pemuda ini kami harapkan mampu membentuk sistem keuangan yang baik bagi pemuda dan perempuan, sekaligus menjadi ruang belajar bersama tentang kesehatan mental, memulai usaha, dan mengurus legalitas usaha,” ujarnya. Ia berharap apa yang dilakukan pemuda Bali dapat menginspirasi generasi muda lainnya di Pulau Dewata untuk melakukan hal-hal yang lebih baik dan berdampak luas. “Kami selalu ingin ada pemuda yang lebih dan lebih dari kami,” tambahnya.
Sementara itu Ketua DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Bali, Dr. Gung Tini Gorda yang menjadi salah satu narasumber menegaskan pentingnya kemandirian ekonomi perempuan sebagai fondasi pemberdayaan yang berkelanjutan. Ia menyoroti tantangan perempuan Bali yang kerap dibebani peran ganda—sebagai ibu rumah tangga, penggerak ekonomi, sekaligus penjaga adat dan budaya.
“Sering kali budaya dijadikan kambing hitam ketika perempuan tidak mau maju. Padahal perempuan Bali itu sangat dinamis, dan kearifan lokal Bali justru fleksibel. Yang membuat ruwet sering kali kembali ke diri kita sendiri,” tegasnya Gung Tini Gorda yang juga seorang akademi dan Kepala Pusat Studi Undiknas itu.
Menurutnya, kunci utama terletak pada konsep berpikir yang jelas. Perempuan harus berani fokus pada kemandirian finansial, penguatan UMKM, dan manajemen peran ganda. Tanpa konsep yang kuat, perempuan akan sulit bertahan, apalagi bersaing.
Namun, Gung Tini Gorda menawarkan perspektif berbeda. Ia mengajak perempuan untuk tidak semata-mata “bersaing”, melainkan “bersanding”.
“Kalau bersaing, ada garis keras. Tapi kalau bersanding, artinya kita siap diisi, siap berkolaborasi. Kompetisi itu tidak harus sama dengan pesaing,” ujarnya.
Dalam konteks penguatan UMKM, ia memperkenalkan tiga prinsip utama yang harus dimiliki pelaku usaha perempuan, yakni good, trustworthy, dan smart. Good berarti taat aturan, trustworthy membangun kepercayaan, dan smart mampu membaca peluang serta melakukan evaluasi diri.
Sebagai akademisi hukum, Gung Tini Gorda juga menekankan pentingnya perlindungan hukum bagi UMKM, baik bagi konsumen maupun produsen. HIPPI Bali, kata dia, telah menjalin kerja sama dengan Kementerian Hukum dan HAM untuk memastikan UMKM binaan memiliki legalitas dan perlindungan yang memadai.
Tak hanya berbicara konsep, Gung Tini Gorda juga membuka ruang konkret bagi perempuan dan generasi muda untuk bergabung sebagai anggota dan binaan HIPPI Bali.
“Kami ingin memotong mata rantai yang memberatkan. Binaan bisa langsung menjadi anggota HIPPI. Ke depan, banyak program yang bisa kita jalani bersama,” jelasnya.
Ia optimistis, peluang bagi perempuan sangat luas jika didukung jejaring, pendampingan, dan keberanian untuk melangkah maju. “Perempuan punya potensi besar. Tinggal bagaimana kita mau menguatkan diri dan bergerak bersama,” pungkasnya.
Inspirasi konkret juga disampaikan Anggota Komisi IX DPR RI Tutik Kusuma Wardhani. Dalam paparannya, Tutik membuka wawasan generasi muda mengenai berbagai program pemerintah yang dapat diakses, salah satunya Program Pemagangan Nasional dari Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker). Program ini ditujukan bagi lulusan baru jenjang D3, D4, dan S1 maksimal satu tahun setelah kelulusan, dengan penempatan di berbagai sektor industri sesuai kebutuhan perusahaan mitra.
“Keunggulan program magang nasional ini adalah uang saku setara UMR atau UMK, jaminan sosial tenaga kerja, serta pendampingan mentor langsung dari perusahaan. Pemerintah membayar dari APBN sesuai UMK daerah,” jelas Tutik. Politisi perempuan dari Partai Demokrat itu juga mendorong agar informasi ini disebarluaskan kepada para fresh graduate melalui platform resmi maganghub.kemenaker.go.id.
Namun, Tutik juga realistis melihat tantangan ekonomi yang dihadapi anak muda. Menurutnya, kreativitas dan inovasi menjadi kunci bertahan. “Sekarang zamannya kreatif. Apa pun bisa dilakukan untuk menambah penghasilan. Gunakan gadget 70 persen untuk hal-hal produktif,” pesannya. Ia menekankan pentingnya literasi keuangan agar anak muda mampu merencanakan masa depan dan bertransformasi dari job seeker menjadi job creator.
Sementara itu, Ketua Tanam Tuwuh Bali Diana Putri yang juga merupakan putri Wakil Gubernur Bali Nyoman Giri Prasta berbagi kisah personal tentang perjalanan membangun usaha dari akar rumput. Ia memulai bisnis dengan mengelola peternakan ayam di kampung halamannya di Pelaga, Badung, hingga kini mengembangkan usaha sebagai pemasok makanan untuk rumah sakit dan hotel.
Diana juga menyoroti tantangan berat yang dihadapi pelaku usaha, khususnya sektor pariwisata, akibat bencana banjir dan longsor sepanjang 2025. “Di akhir 2025 omzet menurun karena isu Bali sepi. Wisatawan yang datang didominasi backpacker dengan daya belanja rendah,” ungkapnya.
Meski demikian, Diana menekankan pentingnya adaptasi dan keberanian untuk bertahan serta mencari peluang baru di tengah krisis.
Secara keseluruhan, Rembuk Pemuda Bali Woman Empowerment Symposium 2026 bukan sekadar forum diskusi, tetapi ruang kolaborasi yang menyalakan harapan. Di sinilah literasi keuangan, kesehatan mental, dan semangat kewirausahaan bertemu, membentuk fondasi bagi lahirnya generasi pemuda dan perempuan Bali yang cakap, tangguh, dan berdaya saing di masa depan. (kbs)

