BerandaEkonomiKarya untuk Ibu! Kolaborasi HIPPI Bali, Pendopo, Kementerian PPPA & Kementerian Pariwisata...

Karya untuk Ibu! Kolaborasi HIPPI Bali, Pendopo, Kementerian PPPA & Kementerian Pariwisata Tutup 2025 & Sambut 2026 dengan Karya Nyata: UMKM Perempuan Dipacu Naik Kelas

Foto: Suasana kemeriahan acara inspiratif “Karya untuk Ibu sebagai Pelestari Budaya dan Ruang Tumbuh UMKM Perempuan”, yang mencapai puncaknya pada acara penutupan di Pendopo Living World Denpasar, Rabu (31/12/2025).
Denpasar, KabarBaliSatu
DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Bali menutup tahun 2025 dan menyambut matahari baru 2026 dengan cara yang penuh makna: karya, kolaborasi, dan inspirasi bagi perempuan serta pelaku UMKM di Pulau Dewata. Momentum akhir tahun itu dirayakan melalui kegiatan bertajuk “Membangun Ekosistem Pengusaha: Dari Embrio, UMKM, hingga Naik Kelas” dalam program “Karya untuk Ibu sebagai Pelestari Budaya dan Ruang Tumbuh UMKM Perempuan”, yang mencapai puncaknya pada acara penutupan di Pendopo Living World Denpasar, Rabu (31/12/2025), bertepatan dengan peringatan Hari Ibu ke-97 Tahun 2025.
Kegiatan inspiratif ini digelar oleh HIPPI Bali di bawah kepemimpinan Dr. Gung Tini Gorda selaku Ketua Umum DPD HIPPI Bali, berkolaborasi dengan Pendopo dan SMK Negeri 1 Mas Ubud, serta mendapat dukungan penuh dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI dan Kementerian Pariwisata RI. Acara ini menjadi ruang apresiasi bagi peran perempuan, sekaligus wahana konkret pelestarian budaya dan penguatan UMKM perempuan Bali. Puncak acara penutupan Karya untuk Ibu ini berjalan lancar dan sukses berkat dukungan dari Keluarga Besar Mahasiswa Hindu Dharma (KBMHD) Undiknas sebagai PIC atau Person in Charge puncak acara.
Sebanyak 19 UMKM anggota dan binaan HIPPI Bali dilibatkan dan diberi ruang untuk memamerkan produk-produk unggulannya di Pendopo Living World Denpasar. Kesempatan ini menjadi etalase strategis agar produk UMKM lokal semakin dikenal luas, membangun kepercayaan pasar, dan melangkah menuju fase naik kelas.
Dukungan pemerintah pusat hadir nyata melalui kehadiran dua pejabat perempuan inspiratif: Asisten Deputi Bidang Pengembangan Manusia dan Kebudayaan, Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Wilayah III Kementerian PPPA RI, Dr. Dra. Dewa Ayu Laksmiadi Janapriati, M.Par., serta Asisten Deputi Bidang Manajemen Strategis Kementerian Pariwisata RI, Dr. I Gusti Ayu Dewi Hendriyani, A.Par., M.Par. Kehadiran keduanya mempertegas bahwa pemberdayaan perempuan dan UMKM adalah agenda strategis nasional yang selaras dengan kekuatan Bali sebagai destinasi pariwisata dunia.
Penutupan acara “Karya untuk Ibu” berlangsung meriah dan sarat makna. Parade mewiru kain batik yang melibatkan Gen Z dari Jegeg Undiknas menjadi upaya menggugah kembali kecintaan generasi muda terhadap budaya Nusantara. Antusiasme juga tampak dalam lomba fotografi, di mana anak-anak muda mengabadikan momen dan sudut-sudut inspiratif sepanjang acara.
Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap UMKM, HIPPI Bali mengemas aksi Lelang Bela Beli HIPPI Bali Store, yang memungkinkan produk UMKM dilelang dan dibeli langsung oleh pengunjung. Suasana semakin semarak dengan fashion show Kebaya Endek Seraya Mekar oleh Jegeg Undiknas. Kebaya Endek Seraya Mekar yanga dibawakan merupakan karya-karya eksklusif dari Tiwi Tjandra. Kemerian acara bertambah ketika para peserta larut dalam kebersamaan bernyanyi dan berjoget bersama Stava Band.
Di balik kemeriahan, refleksi dan doa akhir tahun turut dipanjatkan—harapan agar Bali dan Indonesia melangkah ke masa depan yang lebih baik, dengan UMKM sebagai salah satu motor utama penggerak ekonomi daerah. Acara kemudian ditutup dengan potong tumpek dalam rangka HUT ke-58 Dr. Gung Tini Gorda, bertajuk Karya untuk Tuibu. Suka cita berpadu dengan doa dan harapan bagi sosok perempuan Bali yang dikenal konsisten mengabdikan diri pada pemberdayaan perempuan dan UMKM.
Ketua Umum HIPPI Bali Dr. Gung Tini Gorda menegaskan peran HIPPI Bali sebagai rumah bersama bagi UMKM. “HIPPI bukan organisasi perempuan, tetapi kebetulan anggotanya didominasi perempuan. Di akhir tahun ini kami berkontemplasi, apa PR besar agar UMKM bisa benar-benar naik kelas dicintai masyarakat dan tumbuh sesuai harapan melalui dukungan kita semua,” ujarnya tokoh perempuan yang juga seorang akademisi dan Kepala Pusat Studi Undiknas ini.
Kehadiran dua asisten deputi dari kementerian, lanjutnya, menjadi energi besar untuk membangun ekosistem UMKM Bali yang saling menopang dengan sektor pariwisata. “Ini akan menjadi dua kekuatan bagi HIPPI, bagaimana Bali yang identik dengan destinasi pariwisata lebih mengembangkan sektor UMKM sehingga saling mendukung dalam membangun ekosistem dan ini menjadi liar biasa sekali. Kami berharap dengan kehadiran dua perempuan hebat ini yang berjuang di kancah nasional menjadikan wadah HIPPI Bali menjadi ruang tumbuh UMKM,” katanya.
Saat ditanya mengenai harapannya di usia ke-58 tahun yang dalam momen acara Karya untuk Ibu ini dirayakan dengan penuh sukacita, Gung Tini Gorda menegaskanalam setiap pera dyaan ulang tahun dirinya berharap dapat menambah sumbangan buah karya untuk bisa diketok tularkan oleh anak-anak, menantu dan cucu dan orang-orang yang selama ini berinteraksi dengan dirinya selama hidup.
Putri dari pendiri Perdiknas dan Undiknas almarhum Prof IGN Gorda ini juga berharap bisa mengikuti jejak sang ayah yang mencapai tangga tertinggi bagi seorang akademisi yakni sebagai guru besar atau profesor. “Harapan saya tentu semoga pencapaian yang paling utama dalam berkiprah di akademisi bisa tercapai, yakni sebagai seorang guru besar,” harapnya.
Sementara itu Ketua Panitia Dewa Ayu Supartini, yang juga Ketua DPC HIPPI Bangli, menambahkan bahwa kegiatan ini bertujuan memfasilitasi UMKM memperkenalkan karya dan meningkatkan penjualan. “Lelang Bela Beli mendapat respons luar biasa dan penjualan meningkat signifikan. Harapannya kegiatan ini berkelanjutan, dengan Pendopo sebagai ruang tumbuh UMKM,” ujarnya.
Dari pemerintah pusat, Dr. Dra. Dewa Ayu Laksmiadi Janapriati, M.Par., selaku Asisten Deputi Bidang Pengembangan Manusia dan Kebudayaan, Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Wilayah III Kementerian PPPA RI, menekankan besarnya potensi perempuan jika hak-haknya diberikan secara setara.
“Perempuan adalah aset bangsa, pelestari budaya, sekaligus penopang pariwisata Bali. UMKM perempuan harus naik kelas, memanfaatkan teknologi, namun tetap membutuhkan ruang fisik seperti Pendopo,” katanya.
Sementara Asisten Deputi Bidang Manajemen Strategis Kementerian Pariwisata RI, Dr. I Gusti Ayu Dewi Hendriyani, A.Par., M.Par., juga mengapresiasi kolaborasi HIPPI Bali, Pendopo, dan Kementerian PPPA sebagai dukungan nyata bagi pariwisata berkualitas, berkelanjutan, dan inklusif. Pengusaha UMKM perempuan diharapkan menjadi salah satu pendukung, apalagi Bali sebagai salah satu destinasi wisata dunia.
“Kami akan selalu mendorong dan mendukung agar UMKM di Bali memiliki produk yang berkualitas dan menjadi salah satu daya dukung utama pengembangan sektor pariwisata. Pariwisata maju UMKMnya juga harus maju dan jadi tuan rumah di negeri sendiri,” tegasnya.
Direktur Pendopo Living World Denpasar Tasya Widya Krisnadi mengucapkan terima kasih atas dukungan dan kolaborasi berbagai pihak menyukseskan acara Karya untuk Ibu ini. Kolaborasi apik ini diharapkan menciptakan sinergi yang memberikan dampak positif bagi penguatan kemajuan UMKM dan juga pemberdayaan kaum perempuan khususnya di Pulau Dewata.
Beragam kisah inspiratif mengalir hangat dari acara “Karya untuk Ibu sebagai Pelestari Budaya dan Ruang Tumbuh UMKM Perempuan” ini. Acara ini bukan sekadar seremoni akhir tahun. Ia menjelma ruang pertemuan lintas generasi, lintas komunitas, dan lintas nilai—antara budaya, kreativitas, dan ekonomi kerakyatan. Salah satu yang paling menyita perhatian adalah lomba mewiru, yang mempertemukan perempuan Gen Z dengan filosofi luhur Nusantara tentang kesabaran, ketelitian, dan kolaborasi.
Dewan juri lomba mewiru, Anak Agung Rai Wahyuni didampingi dua Dewan Juri lainnya yakni Irma Lumiga dan Anak Agung Rai Tirtawati, menjelaskan bahwa mewiru adalah teknik melipat kain batik dengan jumlah lipatan tertentu yakni 5, 7, atau 11 lipatan yang sarat makna. Mewiru, yang berasal dari bahasa Jawa dan bermakna menjarit, mengajarkan perempuan untuk tidak saling iri, melainkan saling bekerja sama.
“Jadi dengan mewiru diharapkan bisa berkolaborasi dan bekerjasama untuk meningkatkan kualitas diri kaum perempuan,” ujar Gung Rai Wahyuni yang juga President Rotary Club of Bali Bersinar ini.
Filosofi dari mewiru ini menanamkan nilai menyelaraskan rasa, pikiran, dan tindakan agar perempuan mampu meningkatkan kualitas diri dan hidup bersama lingkungan. Melalui lomba ini, generasi muda diajak mengenal, memahami, sekaligus melestarikan budaya dari praktik langsung, bukan sekadar teori.
Dari sisi UMKM, acara ini juga menghadirkan dampak nyata. Ikebana, lembaga kursus kerajinan, mencatat omzet lebih dari Rp8 juta selama mengikuti pameran. Lindawati, pengelola Ikebana, mengaku bangga dapat berkolaborasi dengan HIPPI Bali dan Pendopo. Produk kerajinan yang ditawarkan merupakan karya orisinal yang tidak ditemukan di tempat lain, dengan harga terjangkau mulai Rp50 ribu hingga Rp100 ribu. Ke depan, Pendopo bahkan direncanakan menjadi ruang pelatihan, memperkuat ekosistem UMKM perempuan.
Dari kalangan peserta, Verosika Anjani dari Undiknas Denpasar yang meraih juara pertama lomba mewiru mengungkapkan kebahagiaannya. Ia menyebut lomba ini sebagai cara konkret melestarikan budaya Indonesia. Dengan berlatih melalui tutorial digital, Verosika membuktikan bahwa tradisi dan teknologi dapat berjalan beriringan. Pesannya sederhana namun kuat: budaya adalah kekayaan berharga yang harus dijaga generasi muda.
Sementara itu, lomba fotografi juga melahirkan talenta kreatif. Eka dari KBMHD Undiknas keluar sebagai juara pertama dengan karya yang mengangkat aktivitas di sekitar Pendopo secara artistik.
“Saya mengabadikan momen orang-orang di pameran UMKM di sekitaran Pendopo dan mengeditnya sehingga kelihatan lebih menarik. Saya juga berharap ke depan bisa membantu mempromosikan produk UMKM dengan karya-karya foto saya,” ujar Eka.
Dewan juri Dede Ari Kusuma Dinata menilai karya pemenang unggul dari sisi visual, estetika, kreativitas, hingga pencahayaan yang profesional. Ia berharap kolaborasi semacam ini mampu membuka mata generasi muda terhadap kekayaan karya UMKM dan budaya Nusantara.
Ketua Dharma Wanita Persatuan LLDikti Wilayah VIII Bali–NTB, I Gusti Ayu Ngurah Eva Intan Swandhewi, mengapresiasi kegiatan yang diinisiasi oleh HIPPI Bali.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan yang diinisiasi oleh HIPPI Bali ini,” ujar I Gusti Ayu Ngurah Eva Intan Swandhewi.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi momentum penting dalam peringatan Hari Ibu, yang ditandai dengan lolosnya sebanyak 19 UMKM binaan HIPPI Bali dalam proses kurasi di Pendopo Living World Denpasar.
“Kegiatan ini menjadi momentum yang sangat bermakna dalam peringatan Hari Ibu, terlebih dengan lolosnya 19 UMKM binaan HIPPI Bali dalam proses kurasi di Pendopo Living World Denpasar,” katanya.
Ia berharap momentum positif ini dapat terus berlanjut sehingga UMKM yang digerakkan oleh kaum perempuan mampu naik kelas dan sejajar dengan UMKM yang dikelola oleh kaum pria.
Di sisi lain, momen ini juga dipenuhi doa dan harapan dari para tokoh perempuan lintas komunitas, bertepatan dengan peringatan HUT ke-58 Gung Tini Gorda. Dukungan dan doa yang terus mengalir dari berbagai tokoh perempuan lintas komunitas menegaskan sosok Gung Tini Gorda sebagai figur pemersatu dan inspiratif.
Ketua Perempuan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (PICMI) Bali, Sri Subekti, menilai Gung Tini Gorda sebagai sosok perempuan Bali yang langka, inklusif, terbuka, dan tulus merangkul lintas iman. Kepeduliannya terhadap perempuan dan anak-anak di Bali menjadikannya figur pemersatu sekaligus sumber inspirasi.
“Beliau merangkul kaum perempuan muslim, tidak ada perbedaan, dan beliau juga mengerti dengan kegiatan para kaum perempuan muslim. Itu sebabnya kami mau berkolaborasi. Apalag ibeliau sangat peduli dengan perempuan dan anak-anak di bali. Sungguh luar biasa sosok Gung Tini gorda yang penuh inspirasi bagi kami,” ujar Sri Subekti yang berprofesi sebagai notaris ini.
Menutup tahun dengan karya, budaya, dan keberpihakan pada perempuan, HIPPI Bali melalui “Karya untuk Ibu” meninggalkan pesan kuat: masa depan UMKM dan pelestarian budaya ada di tangan kolaborasi—antara generasi, komunitas, dan nilai-nilai luhur yang terus hidup.
Pada akhirnya, Karya untuk Ibu bukan sekadar perayaan akhir tahun. Ia menjelma menjadi api kecil yang dinyalakan bersama—menghangatkan harapan, menerangi jalan UMKM, dan menuntun langkah perempuan Bali agar terus bertumbuh.
Seperti matahari pagi di awal 2026, cahaya Karya untuk Ibu yang dihadirkan HIPPI Bali dari Pendopo Living World Denpasar itu memberi isyarat: selama karya dirawat dan kolaborasi dijaga, Bali akan selalu punya terang untuk melangkah ke depan. (kbs)
Berita Lainnya

Berita Terkini