BerandaOpiniDari Buku Besar ke Layar Publik: Literasi Digital dan Masa Depan Akuntansi

Dari Buku Besar ke Layar Publik: Literasi Digital dan Masa Depan Akuntansi

Oleh: Ayu Dwi Yulianthi, Mahasiswa PDIA Undiksa & Dosen Politeknik Negeri Bali

Denpasar, KabarBaliSatu

Digitalisasi telah menggeser wajah akuntansi dari praktik teknis yang bekerja di balik meja menjadi sistem informasi yang hadir di ruang publik. Laporan keuangan, laporan keberlanjutan, hingga pengungkapan tanggung jawab sosial kini tidak lagi hanya dibaca oleh auditor dan regulator, tetapi juga oleh masyarakat luas melalui media daring, situs perusahaan, dan media sosial. Dalam situasi ini, akuntansi bertransformasi menjadi praktik sosial yang tidak hanya dinilai dari ketepatan angka, tetapi juga dari makna, narasi, dan dampak yang ditimbulkannya.

Namun, transformasi ini membawa pertanyaan mendasar: apakah digitalisasi akuntansi secara otomatis menghadirkan transparansi dan akuntabilitas? Ataukah justru menciptakan lapisan baru dari kompleksitas yang sulit dipahami publik? Jawaban atas pertanyaan tersebut sangat bergantung pada tingkat literasi digital para pelaku dan pengguna informasi akuntansi.

Literasi digital sering dipahami secara sempit sebagai kemampuan teknis dalam menggunakan perangkat dan sistem digital. Dalam dunia akuntansi, pemahaman ini tercermin pada penguasaan perangkat lunak, sistem informasi akuntansi, serta kemampuan mengolah data secara cepat dan akurat. Padahal, literasi digital memiliki dimensi sosial dan etis yang jauh lebih luas. Ia mencakup kemampuan berpikir kritis, menilai kualitas informasi, memahami konteks produksi data, serta menyadari kepentingan yang bekerja di balik teknologi.

Dalam praktiknya, digitalisasi akuntansi justru berpotensi menciptakan paradoks transparansi. Informasi keuangan memang semakin mudah diakses, disajikan secara visual, dan dipublikasikan secara luas. Namun, kemudahan akses tidak selalu berbanding lurus dengan kemudahan pemahaman. Angka-angka yang tampil dalam dashboard interaktif atau laporan digital sering kali kehilangan konteks sosialnya. Publik disuguhi representasi kinerja yang tampak objektif, tetapi tidak selalu mencerminkan realitas yang kompleks.

Di sinilah literasi digital menjadi kunci transformasi sosial dalam akuntansi. Literasi digital yang kritis memungkinkan masyarakat untuk tidak sekadar mengonsumsi informasi, tetapi juga mempertanyakan makna di balik angka. Apakah peningkatan laba sejalan dengan kesejahteraan pekerja? Apakah efisiensi biaya dicapai tanpa mengorbankan lingkungan? Apakah laporan keberlanjutan benar-benar mencerminkan praktik ramah lingkungan, atau sekadar strategi komunikasi korporasi yang dikemas secara digital?

Transformasi digital juga mengubah relasi kuasa dalam akuntansi. Jika sebelumnya informasi keuangan didominasi oleh perusahaan dan profesional akuntansi, kini publik memiliki ruang untuk merespons, mengkritik, bahkan menantang narasi resmi melalui kanal digital. Namun, relasi kuasa ini tidak serta-merta menjadi lebih adil. Tanpa literasi digital yang memadai, publik justru rentan terhadap manipulasi informasi, visualisasi data yang menyesatkan, serta narasi keberlanjutan yang persuasif tetapi minim substansi.

Bagi profesi akuntansi, perubahan ini menghadirkan tuntutan baru. Akuntan tidak lagi cukup diposisikan sebagai teknisi angka, melainkan sebagai aktor sosial yang bertanggung jawab atas bagaimana informasi keuangan diproduksi, disajikan, dan dipersepsikan. Literasi digital bagi akuntan berarti kemampuan memahami implikasi sosial dari teknologi yang digunakan, termasuk risiko bias algoritma, ketergantungan pada sistem otomatis, dan potensi pengaburan tanggung jawab manusia di balik keputusan berbasis data.

Kehadiran kecerdasan buatan dan big data dalam praktik akuntansi mempertegas tantangan tersebut. Sistem digital mampu menghasilkan laporan dengan kecepatan dan kompleksitas yang melampaui kemampuan manusia. Namun, keputusan untuk mempercayai hasil sistem tetap merupakan keputusan etis. Tanpa literasi digital yang kritis, akuntan berisiko menjadi operator pasif yang menerima output teknologi tanpa refleksi. Dalam konteks ini, literasi digital berfungsi sebagai pengingat bahwa teknologi bukanlah entitas netral, melainkan hasil dari desain, asumsi, dan kepentingan tertentu.

Transformasi sosial dalam akuntansi juga tidak dapat dilepaskan dari konteks keberlanjutan. Di tengah krisis lingkungan dan tuntutan akuntabilitas sosial, akuntansi didorong untuk merepresentasikan dampak non-finansial secara lebih terbuka. Digitalisasi memungkinkan pengungkapan data lingkungan dan sosial secara lebih luas, tetapi sekaligus membuka ruang bagi praktik simbolik. Rendahnya literasi digital membuat publik sulit membedakan antara komitmen keberlanjutan yang substantif dan pencitraan digital yang bersifat kosmetik.

Pendidikan akuntansi memegang peran strategis dalam membangun literasi digital yang berorientasi pada transformasi sosial. Mahasiswa akuntansi tidak cukup dibekali keterampilan teknis dan standar pelaporan. Mereka perlu dilatih untuk memahami bahwa akuntansi tidak pernah bebas nilai. Angka-angka selalu lahir dari pilihan, kepentingan, dan struktur kekuasaan tertentu. Literasi digital dalam pendidikan akuntansi seharusnya membentuk kesadaran kritis, bukan sekadar kompetensi instrumental.

Lebih jauh, literasi digital juga berkaitan erat dengan integritas profesi. Di ruang digital yang serba cepat dan kompetitif, tekanan untuk menampilkan kinerja terbaik sering kali mendorong praktik manipulatif yang halus. Data dapat dipilih, disusun, dan disajikan sedemikian rupa untuk membangun citra tertentu. Dalam situasi ini, integritas tidak cukup dijaga melalui regulasi formal, tetapi memerlukan kesadaran individu yang memahami konsekuensi sosial dari setiap representasi informasi.

Pada akhirnya, digitalisasi akuntansi adalah keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Namun, arah transformasi tersebut tidak bersifat otomatis dan netral. Ia dapat memperkuat transparansi, partisipasi, dan keadilan sosial, tetapi juga dapat memperhalus ketimpangan dan ketidakjujuran dalam bentuk yang lebih canggih. Literasi digital menjadi faktor penentu yang membedakan kedua kemungkinan tersebut.

Akuntansi di era digital menuntut lebih dari sekadar kecanggihan sistem dan kecepatan pemrosesan data. Ia menuntut kesadaran sosial, keberanian etis, dan komitmen pada kepentingan publik. Dari buku besar ke layar publik, masa depan akuntansi sangat ditentukan oleh sejauh mana literasi digital dipahami bukan hanya sebagai kemampuan teknis, tetapi sebagai fondasi etika bagi transformasi sosial yang bermakna. (kbs)

 

Berita Lainnya

Berita Terkini