Foto: Peluncuran kooperasi.com dan Opang.id berlangsung pada Rabu, 17 Desember 2025, di kawasan Renon, Denpasar.
Denpasar, KabarBaliSatu
Upaya mendorong koperasi agar bertransformasi menjadi lembaga ekonomi modern kini memasuki babak baru. Platform kooperasi.com resmi diluncurkan sebagai solusi digitalisasi tata kelola koperasi, sekaligus menghadirkan Opang.id, layanan transportasi berbasis koperasi yang digadang-gadang menjadi game changer bagi penguatan ekonomi kerakyatan di Bali.
Peluncuran kooperasi.com dan Opang.id berlangsung pada Rabu, 17 Desember 2025, di kawasan Renon, Denpasar. Platform ini dirancang untuk menjawab tantangan koperasi yang selama ini identik dengan pengelolaan manual, keterbatasan SDM, serta rendahnya daya tarik bagi generasi muda.
Direktur Utama sekaligus penggagas kooperasi.com dan Opang.id, Putu Adi Wijaya, menjelaskan bahwa platform ini dihadirkan untuk membantu koperasi, khususnya di Bali dan Indonesia, dalam meningkatkan tata kelola melalui digitalisasi. Melalui kooperasi.com, koperasi diharapkan tidak lagi dipandang sebagai lembaga yang ketinggalan zaman, melainkan mampu bertransformasi menjadi institusi modern yang relevan dan diterima oleh masyarakat luas, termasuk generasi milenial dan Gen Z.
Transformasi digital ini juga ditujukan untuk mengangkat citra koperasi agar lebih adaptif terhadap perkembangan zaman dan kebutuhan ekonomi ke depan.
“Jadi kita berharap untuk kooperasi.com ini bisa membantu digitalisasi tata kelola dan mengangkat nama koperasi untuk kedepannya menjadi lebih modern seperti itu,” ujarnya.
Putu Adi menjelaskan bahwa kooperasi.com menghadirkan platform terpadu yang difokuskan pada digitalisasi tata kelola koperasi, baik dari sisi keanggotaan maupun layanan simpan pinjam, serta integrasi dengan berbagai ekosistem usaha koperasi. Platform ini juga telah terhubung dengan unit usaha pendukung seperti warung kelontong dan sistem kasir digital yang terintegrasi, serta disesuaikan dengan standar pendataan Kementerian Koperasi.
Selain itu, kooperasi.com bekerja sama dengan pihak asuransi untuk memberikan perlindungan bagi koperasi dan anggotanya. Sebagai bagian dari pengembangan tersebut, kooperasi.com juga meluncurkan Opang.id sebagai layanan terbaru dalam ekosistem digital koperasi.
“Jadi kita secara platform atau aplikasi yang pertama itu tata kelola dari koperasi itu sendiri. Jadi baik anggota misalkan dari sisi simpan pinjam ataupun dari sisi ekosistem yang lainnya, misalkan contohnya itu kita juga punya untuk yang misalkan untuk di warung kelontong kita punya terintegrasi juga platform nya, lalu juga misalkan dari sisi untuk kasir kita juga ada untuk aplikasi yang sudah terintegrasi, lalu juga kita sudah terintegrasi dengan standar dari Kemenkop untuk pendataan. Lalu dari sisi yang lain adalah kita juga sudah bekerjasama dengan pihak asuransi yang sudah terintegrasi. Jadi untuk mengamankan dari posisi koperasi dan anggota. Lalu yang terakhir yaitu yang kita launching adalah Opang.id,” paparnya.
Menurutnya, Opang.id hadir sebagai solusi bisnis baru bagi koperasi yang selama ini lebih banyak bergerak di sektor simpan pinjam. Melalui skema layanan transportasi menyerupai ojek online atau ojek pangkalan, Opang.id dikelola langsung oleh koperasi dengan koperasi berperan sebagai operator, sementara para pengemudi berasal dari anggota koperasi itu sendiri.
Dengan model tersebut, perputaran ekonomi berlangsung di dalam koperasi dan manfaatnya dapat langsung dirasakan oleh para anggota.
“Jadi koperasi yang sebagai operatornya, jadi anggotanya, driver nya adalah anggota. Jadi perputaran ekonomi ini langsung dari koperasi itu sendiri dan dinikmati oleh anggota sendiri juga,” katanya.
Ia menegaskan, konsep Opang.id merupakan layanan transportasi ala ojek online, namun sepenuhnya dimiliki dan dikelola oleh koperasi.
“Jadi sederhananya Go-Jek versi koperasi itu jadi Gojek Grab versi koperasi. Jadi kalau yang platform lain itu kan bisnisnya perusahaan luar atau perusahaan yang sendiri. Tapi ini yang punya koperasi itu sendiri. Jadi yang punya juga masyarakat atau anggota atau user juga. Yang punya adalah anggota itu sendiri, itu sendiri,” jelasnya.
Saat ini, jumlah anggota dan pengemudi Opang.id masih berada pada tahap awal karena baru resmi diluncurkan. Meski demikian, sudah terdapat sejumlah anggota yang mulai bergabung, meskipun jumlahnya masih berkisar puluhan orang. Ke depan, seiring peluncuran resmi ini, Opang.id diharapkan dapat segera diimplementasikan secara lebih luas, khususnya di wilayah Bali.
Untuk tahap awal, layanan Opang.id difokuskan pada jasa antar-jemput dan angkutan.
“Jadi kalau yang untuk saat ini yang baru kita fokuskan adalah layanan dari segi antar jemput nya. Jadi untuk drivernya. Tapi tidak menutup kemungkinan itu bisa yang lain. Jadi yang pertama yang sekarang kita fokuskan masih di angkutannya baik angkutan ataupun angkutan barangnya, roda dua, roda empat, roda tiga,” ungkapnya.
Putu Adi menilai potensi ekonomi dari model bisnis ini sangat besar karena berbasis kebutuhan internal anggota koperasi dan mudah diterapkan tanpa aplikasi tambahan.
“Nah jadi kalau kita berbicara dari sisi satu, yang pertama ini sangat mudah diaplikasikan dari modal WhatsApp karena kita tidak menggunakan platform aplikasi. Yang kedua karena ini adalah anggota yang sifatnya internal, jadi perputaran ekonomi cepat dan yang menggunakan anggota, sehingga apa? Sehingga menjadi kebutuhan anggota dan punya potensi yang besar,” tuturnya.
Ia memaparkan simulasi sederhana potensi pendapatan dari layanan ini.
“Karena kalau kita hitung dari hanya ada 50 driver misalkan di satu wilayah atau 1 koperasi dengan rata rata transaksi 10 sampai 20 transaksi per hari. Itu dari sisi driver itu sudah bisa mendapatkan kita bilang benefit itu di atas 5 juta, sedangkan koperasi sendiri itu bisa di angka puluhan bahkan ratusan juta dari perhitungan,” paparnya.
Ia menambahkan, skema bagi hasil Opang.id jauh lebih berpihak pada koperasi dan anggota.
“Karena kita bilang 95% keuntungan itu masuk ke koperasi dan anggotanya sendiri. Kalau mungkin di platform yang lain itu kan potongannya cukup besar. Sedangkan di koperasi dan Opang.id ini itu 95% keuntungan balik lagi ke koperasi dan anggotanya. Jadi sangat potensial sekali untuk bisnisnya,” katanya.
Menjawab pertanyaan terkait mekanisme implementasi, Putu Adi menegaskan bahwa koperasi cukup menggunakan platform yang telah disiapkan.
“Jadi plug and play, tinggal pakai tanpa mungkin nanti yang penting sudah ada dasar dari koperasi ini sudah ada SK koperasinya, tinggal integrasi sudah tinggal jalan, maksimal itu nggak sampai 1 minggu sudah bisa jalan,” ungkapnya.
Di Bali sendiri, ia menargetkan ribuan koperasi dapat mengakses layanan ini.
“Jadi kita target sekitar. Kalau kita berbicara yang KDMP saja itu kan ada sekitar 716 merah putih, ditambah dengan koperasi lain mungkin di angka 1000 an. Kita optimis yang kesekian untuk implementasi di awal,” ungkapnya penuh optimis.
Dengan target tersebut, potensi perputaran ekonomi dinilai sangat signifikan.
“Perputaran sampai kalau kita bicara di angka puluhan M. Untuk perputaran perputaran perbulan dari jasa antar jemput saja, di bawah itu sekitar di atas 10 miliar per bulan,” katanya.
Menurutnya, dampak ekonomi Opang.id akan langsung dirasakan masyarakat.
“Betul, jadi perekonomian muter di tingkat lokal, ekonomi lokal di bawah jadi grassroot. Ini semakin kuat,” imbuhnya.
Ia berharap adanya dukungan dari pemerintah maupun berbagai pemangku kepentingan, baik dari sektor swasta maupun publik, agar pengembangan platform ini dapat berjalan optimal. Dukungan tersebut diharapkan diwujudkan melalui kolaborasi terbuka serta integrasi dengan program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan pemerintah desa, sehingga ke depan dapat menjadi salah satu solusi dalam mendorong peningkatan perekonomian lokal sekaligus berkontribusi terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Jadi saya berharap dukungan dari semua pihak baik dari yang swasta ataupun pemerintah supaya bisa mendukung dan bisa kita open, kolaborasi dan mendukung dalam artian bisa mengintegrasikan dengan Koperasi Merah Putih dengan pihak desa desa. Dan mungkin ini bisa menjadi solusi kedepannya supaya PAD dari pemerintah daerah pun meningkat seperti,” tandasnya.
Sementara itu, Ni Kadek Indah Sanjiwani Dewi, Ketua Tim Pemberdayaan Koperasi Dinas Koperasi dan UKM Bali yang mewakili Kepala Dinas Koperasi dan UKM Bali, menyatakan digitalisasi koperasi merupakan kebutuhan mendesak.
“Jadi kan memang tuntutan di jaman digitalisasi ini kan memang kita salah satunya juga untuk koperasi agar bisa digitalisasi lah di jaman sekarang ini. Jadi untuk kemudahan pelayanan kepada anggota seperti itu,” katanya.
Ia mengakui, kendala utama digitalisasi koperasi masih terletak pada kesiapan SDM.
“Namun terkadang memang kendalanya terkait dengan SDM pengelola koperasi itu sendiri. Itu banyak yang memang masih belum bisa menggunakan aplikasi aplikasi berbasis digital seperti itu,” ungkapnya.
Karena itu, pihaknya menyambut baik kehadiran platform seperti kooperasi.com dan Opang.id.
“Jadi sudah mulai muncul platform platform seperti ini yang sebenarnya memang sangat kami butuhkan dan ingin kami bisa fasilitasi untuk bisa bekerja sama dengan koperasi,” tuturnya.
Menurutnya, model bisnis Opang.id sejalan dengan prinsip koperasi dari dan untuk anggota.
“Jadi memang yang menggerakkan itu koperasinya, anggota koperasinya. Kemudian tadi juga disampaikan bahwa pelakunya ini seperti driver seperti itu kan memang dari anggotanya sendiri,” tambahnya.
Hal ini diyakini akan berdampak langsung pada peningkatan pendapatan anggota dan kesejahteraan masyarakat.
“Jadi selain anggota mendapatkan pendapatan sebagai pengemudi, di sisi lain juga dari SHU Koperasi sendiri. Dia pasti akan mendapatkan kembali benefitnya seperti itu,” ungkapnya.
Pandangan serupa disampaikan Ketua Dewan Koperasi Indonesia Daerah (Dekopinda) Kota Denpasar, I Nyoman Sudarsa. Ia menilai digitalisasi koperasi melalui Opang.id membuka peluang bisnis baru yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
“Ya kalau kita lihat ini sangat berpeluang sekali menjadi bisnis baru. Apalagi koperasi kan banyak didukung juga oleh UMKM banyak sekali, sehingga jadi dalam kesempatan lompatan adanya ojek online ini sangat bermanfaat,” katanya.
Ia juga melihat keterkaitan kuat antara Opang.id dengan program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.
“Dan saya melihat dengan adanya Koperasi Merah Putih ini kan juga peluang besar bagi bagi sistem ini diikuti,” ungkapnya.
Dengan mengusung model transportasi lokal berbasis WhatsApp, sistem bagi hasil yang adil, serta pengelolaan sepenuhnya oleh koperasi, kooperasi.com dan Opang.id diharapkan menjadi tonggak baru transformasi koperasi Bali menuju lembaga ekonomi modern, inklusif, dan berdaya saing, sekaligus memperkuat ekonomi desa dan masyarakat lokal. (kbs)

