BerandaDaerahSupadma Rudana Perkuat Diplomasi Budaya Lewat Seni, “Kirtya Jnana Kawya” Angkat Maestro...

Supadma Rudana Perkuat Diplomasi Budaya Lewat Seni, “Kirtya Jnana Kawya” Angkat Maestro Indonesia ke Panggung Dunia

Foto: President The Rudana Art Institution sekaligus Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia Putu Supadma Rudana, Menteri Pariwisata RI Widiyanti Putri Wardhana, Rektor ISI Bali I Wayan Kun Adnyana saat membuka ajang Kalangan Widya Mahardika V – Pekan Seni Akademika “Kirtya Jnana Kawya: Memulia Pengetahuan Luhur” di Institut Seni Indonesia Bali, Rabu (25/3/2026).

Denpasar, KabarBaliSatu

Upaya memperkuat diplomasi budaya Indonesia kembali digelorakan melalui kolaborasi lintas institusi seni dan pemerintah. Salah satu langkah konkret diwujudkan lewat program “Kirtya Jnana Kawya”, inisiatif yang digagas President The Rudana Art Institution, Putu Supadma Rudana, sebagai ruang kolaboratif untuk mengangkat karya maestro sekaligus memperluas jangkauan seni rupa Indonesia.

Program yang digelar di Institut Seni Indonesia Bali pada Jumat (27/3/2026) ini menyatukan kekuatan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, ISI Bali, dan The Rudana Art Institution dalam satu gerakan bersama. Tak sekadar pameran, kegiatan ini juga dirancang sebagai medium diplomasi budaya yang menjembatani seni Indonesia dengan dunia internasional.

Supadma Rudana menegaskan, program ini bertujuan menghadirkan inspirasi melalui karya-karya para maestro, sehingga publik dapat merasakan nilai batin dan kedalaman makna yang terkandung di dalamnya. Ia menyebut dirinya berperan sebagai inisiator yang terus mendorong lahirnya konsep berkarya sekaligus membuka ruang bagi seniman untuk menjangkau kolektor dan masyarakat luas.

Perjalanan diplomasi budaya melalui seni, menurutnya, telah dimulai sejak ia menempuh studi di Amerika Serikat pada 1998. Kala itu, ia aktif menjalin kerja sama dengan berbagai galeri di negeri tersebut untuk memamerkan karya seni Indonesia, termasuk di New York. Langkah tersebut menjadi fondasi awal memperkenalkan seni rupa Indonesia di panggung global.

“Seni adalah bahasa universal yang melampaui batas negara,” ujarnya.

Dalam “Kirtya Jnana Kawya”, Supadma Rudana juga menekankan pentingnya mengangkat perjalanan hidup seorang maestro. Sosok yang dipilih dinilai telah melalui proses panjang—mulai dari pendidikan, pengalaman berkarya lintas daerah dan negara, hingga kontribusi dalam dunia pendidikan dan kebudayaan.

Menurutnya, kedewasaan artistik seorang maestro tercermin dari kekuatan energi dan resonansi dalam setiap karya. Proses kreatif yang panjang itu, lanjutnya, menjadi kunci lahirnya mahakarya yang mampu menyentuh dimensi batin penikmat seni.

Sebagai bagian dari program, pameran akan menampilkan puluhan karya yang merepresentasikan perjalanan kreatif selama dua dekade terakhir sang maestro. Agenda ini dijadwalkan dimulai di ISI Bali pada Juni 2026 dengan sekitar 88 karya, sebelum berkembang menjadi sekitar 100 karya dalam pameran lanjutan di berbagai daerah, termasuk kawasan Danau Toba.

Karya-karya tersebut menghadirkan eksplorasi visual yang kuat—mulai dari goresan dinamis, spektrum warna yang luas, hingga ekspresi abstrak yang menjadi puncak perjalanan artistik. Supadma Rudana menilai, fase abstrak merupakan titik tertinggi dalam pencarian seorang seniman.

“Di fase ini, seluruh energi, pengalaman hidup, dan kebebasan berekspresi menyatu menjadi satu kesatuan karya,” jelasnya.

Lebih dari sekadar pameran, gerakan ini juga membawa misi membangun kebanggaan terhadap karya seni dalam negeri. Supadma Rudana mengajak masyarakat untuk lebih mencintai dan mengoleksi karya anak bangsa sebagai bentuk penghargaan terhadap identitas budaya Indonesia.

Ia menegaskan, seni rupa bukan hanya produk estetika, melainkan simbol kekuatan budaya yang mencerminkan jati diri bangsa. Karena itu, promosi dan apresiasi terhadap karya lokal harus menjadi gerakan bersama.

“Tidak ada artinya membanggakan produk impor jika kita belum bangga pada karya sendiri. Seni rupa Indonesia adalah kekayaan bangsa yang harus kita junjung,” tegasnya.

Melalui kolaborasi antara pemerintah, institusi seni, akademisi, dan masyarakat, ia berharap karya seni Indonesia dapat terus hidup di tengah publik—menjadi sumber inspirasi sekaligus memperkuat identitas nasional bagi generasi mendatang.

Serangkaian program “Kirtya Jnana Kawya” ini digelar pameran seni lukis kontemporer “Parama Paraga” di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali yang secara resmi oleh Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana pada Rabu (25/3/2026). Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku seni dalam pengembangan kebudayaan nasional.

Pameran ini menjadi ruang temu antara ekspresi artistik dan strategi pengembangan pariwisata yang kian menekankan pengalaman autentik.

Dalam kunjungannya, Menpar meninjau langsung pameran retrospektif karya Rektor ISI Bali, Wayan Kun Adnyana. Pameran ini merekam perjalanan kreatif lebih dari dua dekade, memperlihatkan transformasi karya dari eksplorasi figur tubuh hingga berkembang menjadi komposisi abstrak yang bertumpu pada kekuatan garis dan warna.

Tak hanya itu, Menpar juga menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara ISI Bali dan Politeknik Pariwisata Bali. Kerja sama ini difokuskan pada penguatan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya integrasi pendidikan seni dengan sektor pariwisata.

Dalam sambutannya, Widiyanti menegaskan bahwa ruang kreatif berbasis budaya memiliki peran strategis dalam merespons tren pariwisata global yang kini mengarah pada pengalaman yang lebih bermakna dan otentik. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini