Foto: Anggota MPR RI I.G.N. Kesuma Kelakan, S.T., M.Si., turun langsung menyapa masyarakat dalam kegiatan Sosialisasi 4 Pilar MPR RI yang mengusung tema “Semangat Kebangsaan dalam Bingkai 4 Pilar MPR RI”, di Desa Cepaka, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Selasa (10/2/2026).
Tabanan, KabarBaliSatu
Di tengah tantangan kebangsaan yang kian kompleks, Desa Cepaka, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, menjadi ruang penguatan kembali nilai-nilai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara. Selasa (10/2/2026), Anggota MPR RI, I.G.N. Kesuma Kelakan, S.T., M.Si., turun langsung menyapa masyarakat dalam kegiatan Sosialisasi 4 Pilar MPR RI bertema “Semangat Kebangsaan dalam Bingkai 4 Pilar MPR RI”.
Kegiatan yang berlangsung dialogis dan penuh antusiasme ini dihadiri warga desa, tokoh adat, tokoh masyarakat, pemuda, hingga perwakilan kelompok perempuan. Di tengah arus globalisasi, derasnya informasi digital, dan potensi fragmentasi sosial, forum ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan komitmen kebangsaan dari tingkat akar rumput.
Kesuma Kelakan, Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan sekaligus Anggota Badan Pengkajian MPR RI, menegaskan bahwa sosialisasi 4 Pilar bukan sekadar agenda seremonial. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan ikhtiar ideologis untuk memastikan Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika tetap hidup dan relevan dalam praktik keseharian masyarakat.
“Bangsa ini tidak dibangun di atas keseragaman, tetapi di atas kesadaran untuk bersatu dalam perbedaan. Di situlah 4 Pilar MPR RI menjadi fondasi agar keberagaman tidak berubah menjadi konflik, melainkan menjadi kekuatan kebangsaan,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa semangat kebangsaan harus diwujudkan dalam sikap dan tindakan nyata, seperti gotong royong, toleransi, saling menghormati, serta menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun golongan. Menurutnya, tantangan kebangsaan saat ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga ideologis, sosial, dan kultural.
“Polarisasi politik, hoaks, ujaran kebencian, dan paham intoleran menjadi ujian serius bagi persatuan nasional. Jika lengah, bangsa ini bisa terpecah bukan karena perang, tetapi karena saling curiga,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Kesuma Kelakan mengulas makna Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara. Ia menegaskan bahwa Pancasila bukan sekadar simbol, melainkan sumber nilai yang harus menjiwai kebijakan publik dan perilaku warga negara. Nilai Ketuhanan harus melahirkan sikap religius yang toleran, nilai kemanusiaan menuntut penghormatan terhadap martabat manusia, nilai persatuan mengajak merangkul perbedaan, nilai kerakyatan mendorong musyawarah, dan keadilan sosial menuntut keberpihakan pada kesejahteraan bersama.
Ia juga menyoroti ketimpangan sosial dan ekonomi sebagai tantangan serius bagi semangat kebangsaan. Tanpa keadilan sosial, menurutnya, nasionalisme akan kehilangan makna. Karena itu, pembangunan harus terus diarahkan pada pemerataan dan keberpihakan kepada rakyat kecil.
Terkait Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Kesuma Kelakan menyebut konstitusi sebagai kompas hukum kehidupan bernegara. Ketaatan terhadap konstitusi, kata dia, merupakan bentuk nyata kecintaan terhadap negara.
“Menjaga konstitusi bukan hanya tugas lembaga negara, tetapi tanggung jawab seluruh rakyat. Ketika kita taat hukum dan menghormati hak orang lain, di situlah semangat kebangsaan bekerja,” ujarnya.
Mengenai NKRI, ia menegaskan bahwa keutuhan negara adalah harga mati. Sejarah mencatat bahwa persatuan Indonesia diperjuangkan dengan pengorbanan besar. Karena itu, menjaga NKRI merupakan amanat sejarah yang tidak boleh diabaikan.
“NKRI bukan hanya soal batas wilayah, tetapi soal rasa keadilan dan rasa memiliki. Ketika rakyat merasa diperhatikan, persatuan akan tumbuh dengan sendirinya,” katanya.
Sementara pada pilar Bhinneka Tunggal Ika, Kesuma Kelakan menekankan pentingnya dialog, toleransi, dan saling pengertian dalam merawat keberagaman. Ia juga menyoroti peran pendidikan multikultural serta tokoh adat dan tokoh agama dalam menjaga harmoni sosial.
Dalam konteks Bali, ia menyebut nilai-nilai lokal seperti menyama braya, tat twam asi, dan gotong royong sejalan dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, harus terus dirawat agar menjadi benteng sosial di tengah perubahan zaman.
Kegiatan ini turut diwarnai dialog interaktif. Peserta menyampaikan kegelisahan terkait tantangan generasi muda di era digital dan lunturnya nilai kebersamaan. Menanggapi hal itu, Kesuma Kelakan menekankan pentingnya literasi digital dan pendidikan karakter sebagai bagian dari penguatan 4 Pilar MPR RI.
“Teknologi tidak bisa dihindari, tetapi bisa diarahkan. Media sosial harus menjadi ruang edukasi dan persatuan, bukan ruang konflik,” ujarnya.
Menutup kegiatan, Kesuma Kelakan mengajak masyarakat menjadikan 4 Pilar MPR RI sebagai pedoman hidup, bukan sekadar materi sosialisasi. Menurutnya, penguatan semangat kebangsaan merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan Indonesia.
“Bangsa yang besar bukan hanya maju secara ekonomi, tetapi juga kokoh nilai dan jati dirinya. Dari desa seperti Cepaka inilah semangat kebangsaan harus terus dinyalakan,” pungkasnya. (kbs)

