BerandaDaerahGubernur Koster Perkuat Pelestarian Budaya, Bali Dipacu Tetap Berkepribadian dalam Kebudayaan

Gubernur Koster Perkuat Pelestarian Budaya, Bali Dipacu Tetap Berkepribadian dalam Kebudayaan

Foto: Ilustrasi kebudayaan Bali.

Denpasar, KabarBaliSatu

Gubernur Bali, Wayan Koster, menegaskan pentingnya menjaga dan melestarikan budaya Bali sebagai warisan leluhur yang menjadi identitas utama Bali. Melalui implementasi visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, ia menilai fondasi kehidupan adat, tradisi, seni, dan kearifan lokal semakin kokoh dan hidup di tengah masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam Rapat Paripurna ke-28 Masa Persidangan II Tahun Sidang 2025–2026 di DPRD Bali, Rabu (25/3). Koster menegaskan, pembangunan Bali tidak hanya berorientasi pada ekonomi, tetapi juga pada pelestarian nilai-nilai budaya yang menjadi jati diri Pulau Dewata.

“Budaya Bali adalah warisan luhur yang harus kita jaga dan lestarikan. Ini tanggung jawab bersama agar Bali tetap berkepribadian dalam kebudayaan,” tegasnya.

Aksara Bali Digencarkan

Salah satu langkah konkret yang terus didorong adalah percepatan dan perluasan penggunaan aksara Bali di perkantoran, lembaga, hingga ruang publik. Koster mengakui implementasinya belum optimal, sehingga pada tahun ini akan kembali digencarkan sesuai Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018.

“Penggunaan aksara Bali harus lebih tertib dan masif, ini bagian dari penguatan identitas budaya kita,” ujarnya.

Perkuat Desa Adat dan Kearifan Lokal

Pemerintah Provinsi Bali juga terus memperkokoh peran desa adat sebagai penjaga utama tradisi dan kearifan lokal. Selain itu, tatanan kehidupan masyarakat berbasis nilai Sad Kerthi—baik secara niskala (spiritual) maupun sakala (nyata)—akan terus dimantapkan.

Koster menekankan, nilai-nilai kearifan lokal Bali yang diwariskan leluhur sejatinya telah lebih dahulu mengajarkan konsep pembangunan berkelanjutan dan ramah lingkungan.

“Leluhur kita sudah memiliki konsep menjaga alam dan kehidupan jauh sebelum istilah modern dikenal. Ini luar biasa dan harus kita jalankan,” katanya.

Rahina Tumpek Diperluas

Sebagai bagian dari pelestarian nilai spiritual dan ekologis, perayaan Rahina Tumpek akan terus diperluas dan diperkuat pelaksanaannya di tengah masyarakat.

Koster menyebut, berbagai jenis Rahina Tumpek seperti Tumpek Wariga (memuliakan tumbuhan) dan Tumpek Uye (memuliakan hewan) mencerminkan filosofi keseimbangan hubungan manusia dengan alam semesta.

“Ini bukan sekadar tradisi, tapi sistem nilai yang menjaga harmoni kehidupan. Kita wajib melaksanakannya dengan disiplin dan penuh tanggung jawab,” tegasnya.

Generasi Muda Antusias

Di sisi lain, upaya pelestarian budaya juga diperkuat melalui peningkatan kualitas penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali setiap Februari. Koster mengapresiasi tingginya partisipasi generasi muda, mulai dari pelajar hingga mahasiswa.

Menurutnya, antusiasme terlihat dari kemampuan generasi muda dalam menulis hingga menggunakan aksara Bali, termasuk melalui teknologi digital seperti keyboard aksara Bali.

Selain itu, pemerintah juga terus meningkatkan kualitas ajang seni budaya seperti Pesta Kesenian Bali dan Festival Seni Bali Jani sebagai ruang ekspresi sekaligus pelestarian budaya.

Budaya sebagai Pilar Pembangunan

Koster menegaskan, pelestarian adat, tradisi, seni, dan kearifan lokal akan terus menjadi prioritas utama dalam pembangunan Bali ke depan. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk ikut menjaga dan menghidupkan nilai-nilai budaya dalam kehidupan sehari-hari.

“Kalau kita tidak menjaga warisan ini, kita kehilangan jati diri. Bali harus tetap kuat dalam budaya di tengah perkembangan zaman,” pungkasnya. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini