BerandaDaerahBumi Lahar Berduka, Mantan Wakil Bupati Karangsem I Gusti Putu Widjera Berpulang...

Bumi Lahar Berduka, Mantan Wakil Bupati Karangsem I Gusti Putu Widjera Berpulang Tinggalkan Jejak Pengabdian Panjang

Teladan dalam Kesabaran dan Keteguhan Prinsip

Foto: Mantan Wakil Bupati Karangasem periode 2000–2005, I Gusti Putu Widjera, telah berpulang ke hadapan Sang Pencipta pada Kamis (12/2/2026).

Karangasem, KabarBaliSatu

Kabar duka itu datang seperti kabut yang turun perlahan di kaki Gunung Agung. Bumi Lahar berduka. Salah satu putra terbaiknya, mantan Wakil Bupati Karangasem periode 2000–2005, I Gusti Putu Widjera, telah berpulang ke hadapan Sang Pencipta pada Kamis (12/2/2026).

Beliau mengembuskan napas terakhir di RSUD Bali Mandara, Denpasar. Kepergiannya terasa begitu sunyi, namun meninggalkan gema panjang dalam ingatan banyak orang.

Lahir di Desa Buyan, Kecamatan Rendang, Gusti Widjera tumbuh sebagai anak desa yang kelak menjelma menjadi sosok pemimpin. Ia bukan hanya pejabat, bukan sekadar politisi. Ia adalah pengabdi—yang menjadikan jabatan sebagai jalan untuk memberi, bukan untuk menerima.

Jejak Pengabdian yang Panjang

Perjalanan hidupnya ibarat sungai yang mengalir setia pada muara pengabdian. Sebelum dikenal sebagai tokoh politik, Gusti Widjera meniti karier sebagai Pegawai Negeri Sipil. Dedikasinya membawanya hingga ke pusat pemerintahan, mengabdi di Departemen Penerangan di Jakarta.

Di ibu kota, ia belajar tentang tata kelola negara, tentang komunikasi yang meneduhkan, dan tentang bagaimana kebijakan bisa menyentuh kehidupan rakyat kecil. Pengalaman itu membentuknya menjadi birokrat yang matang—tenang dalam bersikap, jernih dalam berpikir.

Selepas purnatugas sebagai aparatur negara, panggilan pengabdian belum juga usai. Ia dipercaya sebagai Wakil Bupati Karangasem periode 2000–2005 mendampingi Bupati Karangasem periode 2000–2005 I Gede Sumantara.

Dalam masa kepemimpinannya, ia dikenal tidak banyak bicara, namun bekerja dengan pasti. Penataan administrasi, perhatian pada desa-desa, dan kesejahteraan masyarakat kecil menjadi napas pengabdiannya.

Langkahnya tak berhenti di sana. Ia kemudian duduk sebagai Anggota DPRD Provinsi Bali, menyuarakan pembangunan infrastruktur di Bali Timur—wilayah yang kerap membutuhkan perhatian lebih. Baginya, pembangunan bukan sekadar angka dalam laporan, melainkan jalan bagi anak-anak desa untuk bermimpi lebih jauh.

Ayah, Guru, dan Penjaga Nilai

Di balik jas rapi dan agenda pemerintahan, Gusti Widjera adalah seorang ayah. Hangat, namun tegas. Ia membesarkan tiga putra dengan nilai kedisiplinan dan kemandirian.

Tanah kelahirannya di Desa Buyan tak pernah benar-benar ia tinggalkan. Di sanalah akarnya tertanam, di sanalah ia kembali setiap kali hiruk-pikuk jabatan usai.

“Beliau adalah teladan dalam kesabaran dan keteguhan prinsip. Pengabdian kepada masyarakat selalu menjadi prioritas,” tutur Ajung Satrya, kerabat dekatnya, dengan suara yang tak sepenuhnya mampu menyembunyikan duka.

Penghormatan Terakhir

Kini, jenazah almarhum masih disemayamkan, menunggu keputusan keluarga terkait jadwal pengabenan dan prosesi adat. Ucapan belasungkawa mengalir deras—dari tokoh politik, pejabat Pemkab Karangasem, hingga masyarakat yang merasa pernah disentuh oleh kepemimpinannya.

Kepergian Gusti Widjera bukan hanya kehilangan seorang mantan wakil bupati. Ia adalah saksi sejarah, bagian dari generasi pemimpin yang menapaki masa transisi Karangasem pasca-reformasi. Sebuah era perlahan menutup lembarannya.

Namun jasa dan pemikirannya tak akan ikut pergi. Ia telah menanam benih—dalam kebijakan, dalam pembangunan, dalam nilai-nilai yang diwariskan kepada keluarga dan masyarakatnya.

Dan benih itu akan terus tumbuh, jauh melampaui waktu. Selamat jalan, I Gusti Putu Widjera. Dumogi Amor Ing Acintya. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini