BerandaDaerahGus Adhi Tuangkan Gagasan Masa Depan Pariwisata Bali Lewat Buku “Transformasi Pariwisata...

Gus Adhi Tuangkan Gagasan Masa Depan Pariwisata Bali Lewat Buku “Transformasi Pariwisata Bali”

Hadirkan Amatra Park Perkuat Jati Diri Pariwisata Budaya Bali

Foto: Sejumlah tokoh Bali menerima buku berjudul “Transformasi Pariwisata Bali: Menelusuri Perjalanan, Tantangan dan Masa Depan Pariwisata Pulau Dewata” karya Anak Agung Bagus Adhi Mahendra Putra (Gus Adhi) di sela-sela acara pagelaran perdana Tari Kecak yang dipadukan dengan Pasar UMKM Lokal, pada Sabtu (15/8/2026) di Amatra Park Jero Kawan, Kerobokan, Kabupaten Badung.

Badung, KabarBaliSatu

Pengabdian terhadap Bali tidak berhenti ketika seseorang tak lagi duduk di kursi parlemen. Hal itu ditunjukkan Anak Agung Bagus Adhi Mahendra Putra atau Gus Adhi, mantan Anggota DPR RI dua periode dari daerah pemilihan Bali.

Politisi senior Partai Golkar tersebut kembali menuangkan gagasan dan pemikirannya untuk Bali melalui sebuah buku berjudul “Transformasi Pariwisata Bali: Menelusuri Perjalanan, Tantangan dan Masa Depan Pariwisata Pulau Dewata”.

Buku karya mantan Anggota Komisi IV DPR RI dan Komisi II DPR RI itu diperkenalkan sekaligus diserahkan kepada sejumlah tokoh Bali dalam rangkaian pagelaran perdana Tari Kecak yang dipadukan dengan Pasar UMKM Lokal di Amatra Park Jero Kawan, Kerobokan, Kabupaten Badung, Sabtu (15/8/2026) sore.

Kegiatan tersebut sekaligus menandai kehadiran Amatra Park sebagai destinasi wisata budaya baru di Bali. Acara digelar untuk menyambut HUT ke-68 Provinsi Bali dan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Sejumlah tokoh yang menerima langsung buku tersebut di antaranya Anggota Komisi VI DPR RI Dapil Bali Gde Sumarjaya Linggih atau Demer yang juga Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Bali, serta Wakil Ketua DPRD Kabupaten Badung Anak Agung Ngurah Ketut Agus Nadi Putra atau Turah Tut yang juga Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Badung.

Buku tersebut tidak sekadar merekam perjalanan industri pariwisata Bali, tetapi juga mengajak pembaca melihat kembali arah pembangunan pariwisata Pulau Dewata.

Gus Adhi menelusuri perubahan pariwisata Bali, dari ruang yang berakar pada sakralitas budaya hingga berkembang menjadi industri global. Analisis dalam buku tersebut berpijak pada data, kebijakan dan realitas di lapangan.

Ia memetakan bagaimana pariwisata turut membentuk ruang hidup, hubungan sosial dan kondisi lingkungan masyarakat Bali. Di sisi lain, buku tersebut juga mengurai paradoks yang muncul antara pertumbuhan ekonomi, keberlanjutan lingkungan dan kesucian budaya.

Sejumlah persoalan strategis turut dibahas, mulai dari overtourism, persoalan sampah dan air, gentrifikasi, kondisi tenaga kerja pariwisata hingga komodifikasi budaya.

Gus Adhi menggunakan nilai Tri Hita Karana, ekologi spiritual dan prinsip hak warga sebagai kerangka untuk mengevaluasi dampak pembangunan pariwisata sekaligus merumuskan pembaruan.

Pada bagian akhir, buku tersebut menawarkan sejumlah gagasan sebagai peta jalan masa depan pariwisata Bali. Di antaranya tata kelola kolaboratif, penerapan standar destinasi berkelanjutan, regulasi berbasis daya dukung, diversifikasi ekonomi kreatif serta indikator kesejahteraan yang tidak semata-mata mengandalkan jumlah kunjungan wisatawan.

Buku itu ditujukan tidak hanya bagi akademisi dan pembuat kebijakan, tetapi juga pelaku industri dan komunitas lokal. Pesan utamanya adalah mengajak seluruh pihak menata kembali cara pandang terhadap pariwisata Bali agar sektor ini tidak sekadar menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga budaya, alam dan keberlanjutan kehidupan masyarakat.

“Dalam transformasi pariwisata ini harus kembali kita mentransformasi diri kita. Potensi yang ada harus kita berdayakan. Hambatan yang ada kita harus tuntaskan. Nah, inilah suatu gerakan reformasi moral. Gerakan reformasi mental yang harus lebih konkret dilaksanakan sehingga menjadi karya-karya nyata untuk mewujudkan pariwisata Bali ini berkelanjutan memperkuat budaya Bali,” tegas Gus Adhi usai peluncuran buku.

Menurutnya, transformasi pariwisata harus dimulai dari perubahan cara berpikir dan sikap seluruh pemangku kepentingan. Potensi Bali harus dikelola secara optimal, sementara berbagai persoalan yang menghambat keberlanjutan harus diselesaikan secara konkret.

Gagasan tersebut juga diwujudkan Gus Adhi melalui kehadiran Amatra Park di Jero Kawan, Kerobokan. Destinasi tersebut dirancang sebagai destinasi wisata budaya, menjadi ruang yang menggabungkan pariwisata dengan pelestarian seni dan budaya Bali.

Momentum peresmian Amatra Park sekaligus menjadi ruang refleksi mengenai pentingnya peran pemerintah dalam menggerakkan perekonomian sekaligus menjaga kebudayaan.

“Saya ingin mengajak malam hari ini untuk merefleksi bagaimana kehadiran pemerintah dalam meningkatkan ekonomi dan melestarikan budaya, terutama Bali. Bali tidak berarti apa-apa tanpa budaya, inilah yang kita harus gerakkan,” ujar Gus Adhi yang kini melanjutkan pengbadian sebagai advokat itu.

Gus Adhi menilai keindahan alam Bali bukan satu-satunya kekuatan yang membuat Pulau Dewata memiliki daya tarik di mata dunia. Daerah lain, menurutnya, bisa saja memiliki panorama alam yang tidak kalah indah. Namun, budaya Bali merupakan kekuatan yang menjadi pembeda sekaligus tidak mudah ditandingi.

“Satu kekuatan yang tidak bisa dikalahkan oleh daerah lain adalah budaya Bali. Inilah yang terinspirasi bagi saya untuk mewujudkan Amatra Park sebagai destinasi pariwisata budaya sebagai tanggung jawab pribadi dan keluarga,” kata Gus Adhi.

Melalui Amatra Park, ia berharap keberadaan sanggar-sanggar seni semakin mendapatkan ruang untuk berkembang dan melahirkan pertunjukan yang berkualitas.

Panggung yang saat ini masih berskala mini tersebut akan dikembangkan secara bertahap dengan menghadirkan berbagai atraksi budaya, termasuk seni api serta kolaborasi Tari Kecak dan Barong.

Pemilihan Tari Kecak sebagai pertunjukan perdana juga bukan tanpa alasan. Bagi Gus Adhi, Kecak memiliki pesan filosofis yang kuat tentang kebersamaan.

Puluhan penari yang bergerak dalam satu irama melalui seruan “cak” menggambarkan harmoni, kebersamaan, demokrasi dan semangat gotong royong.

Nilai tersebut dinilai relevan dengan semangat membangun pariwisata Bali ke depan: bergerak bersama, menjaga keseimbangan dan memastikan kemajuan pariwisata tetap berpijak pada akar budaya Bali.

Bagi Gus Adhi, karya buku dan Amatra Park merupakan dua cara berbeda untuk menyampaikan pesan yang sama: masa depan pariwisata Bali harus dibangun dengan pelestarian budaya Bali sebagai fondasi utama. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini