BerandaDaerahPutri Suastini Koster Peringatkan Krisis Tenun Bali, Serukan Gerakan Bersama Selamatkan Warisan...

Putri Suastini Koster Peringatkan Krisis Tenun Bali, Serukan Gerakan Bersama Selamatkan Warisan Budaya Bali

Foto: Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali, Putri Suastini Koster saat menghadiri kegiatan Dekranasda Bali Fashion Day (DBFD) di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Selasa (31/3/2026).

Denpasar, KabarBaliSatu

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali, Putri Suastini Koster, mengajak masyarakat untuk lebih peduli dan berperan aktif dalam menjaga keberlangsungan kain tenun tradisional Bali. Seruan tersebut disampaikannya saat membuka kegiatan Dekranasda Bali Fashion Day (DBFD) di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Selasa (31/3/2026).

Dalam sambutannya, Putri Koster menegaskan bahwa pelestarian tenun Bali saat ini menghadapi tantangan serius. Ia bahkan menyebut kondisi tenun tradisional Bali “tidak baik-baik saja”.

“Dulu, tenun Bali berkembang sangat pesat, bahkan kita mampu mandiri atau swadesi. Bahan baku seperti kapas bisa kita produksi sendiri, salah satunya di Desa Sembiran yang dikenal sebagai sentra tenun,” ujarnya.

Namun, perkembangan industri modern membawa dampak signifikan. Ia mengungkapkan bahwa kain endek kini banyak diproduksi di luar Bali, sementara motif songket dan gringsing kerap ditiru untuk kepentingan produksi massal. Kondisi ini dinilai merugikan para perajin lokal, terutama terkait perlindungan indikasi geografis.

Tak hanya itu, persoalan juga muncul di sektor hilir. Putri Koster menyoroti masih rendahnya kesadaran pedagang dan konsumen dalam mendukung produk lokal. Akibatnya, pasar justru dibanjiri kain endek produksi luar daerah.

“Sebanyak 83 persen endek yang beredar di Bali justru berasal dari luar. Ini menunjukkan perilaku kita yang keliru,” tegasnya.

Dampak dari kondisi tersebut cukup serius. Menurutnya, minat masyarakat untuk menenun kian menurun karena tidak menjanjikan kesejahteraan. Jika dibiarkan, ia mengkhawatirkan dalam beberapa dekade ke depan tradisi menenun bisa ditinggalkan.

“Mungkin 25 tahun lagi, kita tidak lagi menemukan orang Bali yang bisa menenun jika situasi ini tidak segera diperbaiki,” ujarnya.

Untuk itu, ia menekankan perlunya langkah terintegrasi dari hulu hingga hilir. Dukungan dari berbagai pihak, mulai dari perajin, pedagang, hingga konsumen, menjadi kunci dalam membangun kembali ekosistem tenun Bali.

Sebagai langkah konkret, Dekranasda Bali akan memperkuat sektor sandang dengan mendorong peran desainer lokal. Ia meyakini, berkembangnya desainer akan memicu tumbuhnya ekosistem kreatif yang melibatkan penenun, penjahit, model, hingga pelaku seni lainnya.

“Jika desainer berkembang, maka ekosistem akan ikut tumbuh. Ini akan menggerakkan banyak sektor secara bersamaan,” jelasnya.

Pada gelaran DBFD kali ini, ditampilkan 100 karya busana hasil kolaborasi empat organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Provinsi Bali, yakni Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah, Biro Pengadaan Barang/Jasa dan Perekonomian Setda Provinsi Bali, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, serta RSUD Bali Mandara.

Acara ini juga dihadiri berbagai organisasi kewanitaan, di antaranya Persit Kartika Candra Kirana dan Gatriwara Provinsi Bali, sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian warisan budaya melalui industri kreatif. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini