BerandaDaerahApresiasi Pameran Seni Lukis Kontemporer “Parama Paraga” di ISI Bali, Supadma Rudana...

Apresiasi Pameran Seni Lukis Kontemporer “Parama Paraga” di ISI Bali, Supadma Rudana Dukung Kun Adnyana Jadi Maestro, Mahakarya “Guwung Suwung” Tunjukkan Kedalaman Filosofis

Tekankan Pentingnya Seni sebagai Medium Diplomasi Budaya

Foto: President of The Rudana Art Institution sekaligus Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia, Putu Supadma Rudana bersama Rektor ISI Bali Prof. Dr. I Wayan “Kun” Adnyana.

Denpasar, KabarBaliSatu

President of The Rudana Art Institution sekaligus Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia, Putu Supadma Rudana, secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Rektor ISI Bali Prof. Dr. I Wayan “Kun” Adnyana untuk mencapai level tertinggi dalam dunia seni rupa: maestro.

Dukungan itu disampaikan saat ia mengunjungi pameran seni lukis kontemporer “Parama Paraga” di Institut Seni Indonesia Bali, Jumat (27/3/2026).

Pameran ini dibuka secara resmi oleh Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana pada Rabu (25/3/2026). Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku seni dalam pengembangan kebudayaan nasional.

Dalam pembukaan tersebut, Menpar didampingi Rektor ISI Bali Prof. Dr. I Wayan “Kun” Adnyana, Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia Putu Supadma Rudana, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, serta sejumlah akademisi, seniman, dan budayawan.

Lebih jauh Supadma Rudana menilai perjalanan panjang Kun Adnyana selama lebih dari dua dekade berkarya telah membawanya pada titik kematangan artistik. Ia menilai, karya-karya terbaru Kun Adnyana, khususnya yang mengusung tema “Guwung Suwung”, menunjukkan kekuatan ekspresi, energi visual, serta kedalaman filosofis yang menjadi ciri seorang maestro.

“Kun Adnyana sudah berada pada fase pencapaian penting dalam hidup dan kariernya. Ini momentum untuk melangkah menuju capaian baru sebagai maestro dengan mahakarya bertema Guwung Suwung,” ujar Supadma Rudana yang juga mantan Anggota DPR RI Dapil Bali dua periode itu.

Kunjungan tersebut merupakan bagian dari kolaborasi antara ISI Bali, Rudana Art Institution, dan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia dalam menghadirkan ruang apresiasi seni yang lebih luas. Supadma Rudana, yang juga dikenal sebagai inisiator dan konseptor berbagai kegiatan seni, menegaskan komitmennya untuk terus membuka ruang bagi seniman agar karya mereka dapat dinikmati publik dan kolektor, hingga pasar internasional.

Ia juga menyoroti pentingnya seni sebagai medium diplomasi budaya. Pengalamannya sejak menempuh pendidikan di Amerika Serikat pada 1990-an menjadi bukti bagaimana seni rupa Indonesia mampu menembus panggung global. Kala itu, ia aktif membawa karya maestro Indonesia ke berbagai kota seperti Washington DC, New York, hingga Florida.

Kini, ia ingin kembali menggaungkan diplomasi seni dengan mendorong Kun Adnyana tampil di panggung nasional hingga internasional. “Saya melihat vibrasi karya Kun Adnyana sangat kuat. Ini bukan hanya soal teknik, tetapi juga perjalanan batin dan pengalaman hidup yang terakumulasi dalam karya,” jelasnya.

Dalam pameran di ISI Bali, puluhan karya Kun Adnyana ditampilkan sebagai bagian dari perjalanan 20 tahun berkesenian. Pameran ini menjadi pembuka menuju agenda besar berupa retrospective exhibition yang direncanakan digelar di Museum Rudana, Ubud, pada Juni–Juli 2026.

Supadma Rudana menargetkan sekitar 100 karya abstrak bertema “Guwung Suwung” akan ditampilkan dalam pameran tersebut. Saat ini, puluhan karya telah dipersiapkan, baik yang dipamerkan di ISI Bali maupun yang tersimpan di Museum Rudana.

Ia optimistis karya-karya tersebut akan mendapat tempat di hati kolektor. “Karya abstrak Kun Adnyana memiliki kekuatan goresan, warna, dan energi yang lahir dari proses panjang. Ini yang membuatnya berbeda dan bernilai tinggi,” ujarnya.

Lebih jauh, Supadma Rudana mengajak masyarakat untuk mulai mencintai dan mengoleksi karya seni dalam negeri. Menurutnya, seni rupa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi identitas atau brand bangsa di kancah global.

“Sudah saatnya kita bangga dengan karya sendiri. Jangan hanya mengoleksi produk luar negeri. Ini waktunya mengoleksi Indonesian masterpiece,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor melalui pendekatan penta helix, yakni sinergi antara pemerintah, institusi pendidikan, dunia usaha, komunitas, dan media. Kolaborasi ini dinilai krusial dalam membangun ekosistem ekonomi budaya yang berkelanjutan.

Dengan dorongan tersebut, Supadma Rudana berharap Kun Adnyana tidak hanya mencapai status maestro, tetapi juga menjadi simbol kebangkitan seni rupa Indonesia di tingkat global. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini