BerandaDaerahGubernur Koster Percepat Bali Mandiri Energi, Targetkan 3.000 MW Berbasis Energi Bersih...

Gubernur Koster Percepat Bali Mandiri Energi, Targetkan 3.000 MW Berbasis Energi Bersih pada 2031

Foto: Gubernur Bali, Wayan Koster.

Denpasar, KabarBaliSatu

Gubernur Bali, Wayan Koster, menegaskan komitmennya mempercepat terwujudnya Bali Mandiri Energi berbasis energi bersih. Langkah strategis ini dinilai krusial untuk menjamin ketahanan energi sekaligus menjaga citra Bali sebagai destinasi pariwisata kelas dunia.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam Rapat Paripurna ke-28 Masa Persidangan II Tahun Sidang 2025–2026 di Ruang Sidang Utama Kantor DPRD Bali, Rabu (25/3/2026). Turut hadir dalam agenda tersebut Wakil Gubernur Bali, Nyoman Giri Prasta.

Koster menegaskan bahwa arah pembangunan Bali berlandaskan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2023 tentang Provinsi Bali serta Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun (2025–2125) dengan visi “Nangun Sat Kerthi Loka Bali”.

Bangun 1.550 MW Pembangkit Ramah Lingkungan

Sebagai bagian dari program Bali Mandiri Energi, Pemerintah Provinsi Bali merancang pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar ramah lingkungan dengan total kapasitas 1.550 megawatt (MW) hingga 2031. Proyek ini akan dilaksanakan secara bertahap di sejumlah titik strategis.

Tahapan pembangunan tersebut meliputi:

2026–2027: 200 MW di Pesanggaran

2028–2029: 450 MW di perbatasan Denpasar–Gianyar

2030–2031: 2 x 450 MW di Celukan Bawang

Seluruh pembangkit dirancang menggunakan bahan bakar minimum gas, tanpa lagi bergantung pada energi fosil seperti batu bara.

“Kebijakan Bali mandiri energi dengan energi bersih mendapat dukungan penuh dari PT PLN dan Kementerian ESDM,” ujar Koster.

Dukungan tersebut telah dituangkan dalam rencana usaha penyediaan tenaga listrik (RUPTL) oleh PT PLN (Persero) bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Kurangi Ketergantungan Listrik dari Jawa

Saat ini, kebutuhan listrik Bali mencapai sekitar 1.450 MW, dengan sekitar 380 MW masih disuplai dari Paiton, Jawa Timur melalui kabel bawah laut. Menurut Koster, kondisi ini menyimpan risiko tinggi terhadap stabilitas energi Bali.

“Saluran kabel bawah laut itu rawan. Jika terjadi gangguan, Bali bisa gelap. Ini tidak boleh terjadi,” tegasnya.

Melalui program ini, Bali ditargetkan mampu memenuhi kebutuhan energinya secara mandiri. Bahkan, jika kapasitas mencapai 3.000 MW pada 2031, suplai dari Jawa akan dialihkan sebagai cadangan (reserve sharing) untuk kondisi darurat.

Jaga Citra Pariwisata Dunia

Koster menekankan bahwa keandalan energi menjadi faktor vital bagi Bali sebagai destinasi wisata global. Gangguan listrik, sekecil apa pun, berpotensi merusak citra pariwisata yang telah dibangun selama puluhan tahun.

“Tidak boleh ada gangguan yang merusak citra pariwisata Bali. Tiba-tiba mati, itu tidak bisa kita biarkan,” ujarnya.

Ia menegaskan, percepatan Bali Mandiri Energi bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga bagian dari upaya menjaga keberlanjutan lingkungan dan masa depan Bali.

Dengan langkah ini, Pemerintah Provinsi Bali menargetkan terciptanya sistem energi yang mandiri, bersih, dan berkelanjutan—sejalan dengan visi besar pembangunan Bali untuk 100 tahun ke depan. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini